Mengintip Aktivitas Pasar Loak Jalan Ariodinoto Kota Cirebon

pasar-loak-(1)
SEMUA ADA: Aktivitas pedagang loak di Jl Ariodinoto, Kota Cirebon. Di akhir pekan, kawasan ini mirip pasar barang bekas. FOTO: OKRI RIYANA/RADAR CIREBON

Hampir setiap orang memiliki barang bekas yang sudah tidak terpakai di rumahnya. Daripada sumpek, coba main-main ke tempat ini. Siapa tahu, masih bisa menghasilkan uang.

Laporan: Khoirul Anwarudin, Cirebon

COBA pikir dua kali. Kalau punya barang bekas, jangan sekadar menumpuk di gudang. Atau langsung dibuang ke tempat sampah. Di tangan yang tepat, barang bekas tersebut siapa tahu masih dibutuhkan orang lain. Bisa juga dijual kembali Cobalah datang ke pasar loak di Jalan Ariodinoto Kota Cirebon.

Saban hari puluhan pedagang barang-barang bekas berderet menjajakkan daganganya. Di akhir pekan, lokasi ini sudah seperti pasar. Pedagang dan pembeli yang datang dua kali lipat lebih banyak dibanding hari biasa.

Pengunjungnya pun bukan hanya berasal dari Kota Cirebon saja. Tak sedikit yang datang dari kota-kota di Jawa Tengah seperti Brebes, Tegal dan Pekalongan.

Di pasar tersebut, beraneka macam barang bekas dijajakan. Mulai dari barang barang elektronik, spare part kendaraan, sepeda, gawai, barang barang antik hingga tabung gas melon. Dan setiap barang yang dijual, harganya masih bisa ditawar.

Salah satu pedagang, Andi mengaku, telah lama menggeluti jual beli barang barang bekas sebagai mata pencaharianya. Dia mendapatkan beraneka jenis barang bekas seperti kipas angin, rice cooker, blender, dispenser hingga helm itu dari para pemilik barang yang menjual barang barangnya dalam kondisi bekas.

Biasanya, barang yang rusak diperbaiki terlebih dahulu sebelum dijual. “Ada yang langsung bawa barang ke sini. Tapi kalau yang sudah tau sih biasanya langsung datang ke rumah,” ujar warga Pronggol tersebut, kepada Radar.

Di sela menunggui lapaknya, Andi juga sesekali memeriksa barang barang yang didapatkan. Kalau menemukan ada kerusakan, ia akan melakukan perbaikan.

Namun kalau barang yang didapatkan tidak dapat diperbaiki lagi, biasanya ia membongkar dan ”mempreteli” setiap komponen untuk kemudian dijual terpisah. “Blender ini saya jual tabungnya terpisah. Dudukan tabung, sampai geriginya juga jual terpisah,” tuturnya.

Pedagang lainya, Budi mengaku, pelangganya justru kebanyakan dari luar kota seperti Indramayu, Arjawinangun, Sindang Laut, Losari dan Brebes. Ia yang menjual peralatan pertukangan itu juga kadang membeli barang baru dari toko.

Hal itu ia lakukan karena banyaknya permintaan untuk beberapa jenis barang, namun tidak mendapatkan versi bekasnya. “Kadang kan ada yang datang jauh jauh buat nyari mesin serut kayu, tapi saya nggak ada stok lagi, jadi saya sediain juga yang barunya,” ungkapnya.

Untuk menentukan harga, menurut Budi semuanya tergantung dari kondisi barang yang akan dijual. Barang kondisinya masih normal, biasanya ia jual setengah lebih sedikit dari harga barang yang sama tetapi baru.

Sementara untuk barang yang memerlukan perbaikan, ia jual kurang dari setengah harga baru. “Mesin grinda ini, kalau beli baru Rp450 ribu. Ini saya jual cuma Rp200 ribu. Ya lihat kondisi barangnya juga sih,”  ungkapnya.

Bagi Budi dan Andi, juga pedagang barang bekas lainnya, kejelian menilai kondisi barang jadi kuncinya. Mereka selalu percaya, barang bekas tidak ada yang rugi. Semuanya bisa jadi uang. Rusak diperbaiki. Benar-benar rusak, masih bisa dipreteli. (*)