Menguak Praktik Prostitusi Berbasis Aplikasi Geo Lokasi

Layanan aplikasi pesan instan berbasis geo lokasi mempertemukan kami. Awalnya ada keraguan. Apa ini sungguhan? Jangan-jangan modus penipuan baru. Ternyata, ini disrupsi ”bisnis” prostitusi.

Rara -bukan nama sebenarnya- bertolak dari kediaman orang tuanya di salah satu desa di Kecamatan Gunung Jati, Kabupaten Cirebon. Ia pamit mau ke Jakarta. Rara sudah setahun bekerja di salah satu kawasan di Jakarta Selatan. Tinggal di sebuah apartemen.

Pukul 19.30 WIB, saya menemui Rara. Perempuan 21 tahun itu tak benar-benar bertolak ke Jakarta. Tiket Kereta Api Argo Jati terjadwal pada Jumat (20/7) pukul 13.50 WIB. Rara memilih singgah di salah satu hotel di Kecamatan Kedawung, Kabupaten Cirebon.

Satu per satu lelaki mendatangi Rara yang menyewa kamar di lantai 7 terhitung mulai pukul 14.00-19.30 WIB. Saya adalah lelaki yang ketiga bersua dengannya. Layanan aplikasi pesan instan berbasis geo lokasi mempertemukan kami.

Awalnya ada  keraguan. Apa ini sungguhan? Jangan-jangan hanya modus penipuan. Begitu terhubung dalam pesan instan asal Thailand itu, tak sampai 15 menit terjadi kesepakatan harga. Rp400 ribu untuk short time. Rp1,5 juta untuk long time. Masuk akal, karena sudah termasuk sewa hotel. “Abang ke sini aja dulu. Kalau sudah di lobi, kasih tau ya,” tulis Rara, ketika saya menanyakan nomor kamar tempatnya menginap.

Saya langsung menuju lobi hotel yang dimaksud. Rara mempersilakan saya naik ke kamarnya. Pintu diketuk. Ia langsung menyambut. Lingerie hitam. Lipstiknya merah menyalak. Kami pun mulai berbincang. Untuk menghindari kecurigaan, saya berulangkali mengalihkan pembicaraan.

Bolak-balik kamar mandi. Sampai minta dibuatkan kopi. Maklum. Tamu yang lain, biasanya langsung eksekusi kalau sudah di kamar. Rara, sayang untuk dilewatkan. “Kalau di Cirebon, banyak yang PHP (pemberi harapan palsu, red). Nanya-nanya doang, datengnya nggak,” tutur dia, sembari menyeduh kopi sachet tanpa ampas.

Di Jakarta, Rara melakukan praktik serupa. Ia menyewa satu unit apartemen. Layanan pesan instan berbasis geo lokasi itu benar-benar membantu. Dalam sehari, ia bisa melayani lima sampai tujuh pria. Tarifnya Rp900 ribu short time. Rp2,5 juta untuk long time.

Dari situ ia bisa membiayai hidupnya. Bisa membayar sewa apartemen. Bisa perawatan. Bisa beli Black Musk Eau De Parfum yang wanginya sensual itu. Di Cirebon, ia baru sekali mencoba. Dengan tiga tamu yang dilayani, sebetulnya sudah cukup untuk bayar hotel. Ia juga dapat lebihan sekitar Rp700 ribu.

Ditambah peluang dapat tamu “bubaran” dugem dan satu tamu esok harinya sebelum check out. Fitur berbasis lokasi ini memang unik. Penggunanya cukup menekan tulisan “lihat sekitar”. Di situ akan ditemukan sesama pengguna aplikasi ini. Jumlahnya ratusan. Jaraknya berkisar antara 500 meter sampai 30 kilometer. Tinggal pilih yang cocok.

Ada yang terang-terangan. Ada yang malu-malu kucing. Dalam deskripsi akun dituliskan kata-kata yang menjurus. Misal; Ready (siap di-booking). “Yang pasti-pasti ajah, yang nggak pasti minggir”. Singsong  (siap menemani karoke).

Ada juga pengguna yang memang tak macam-macam. Mereka menuliskan deskripsi; No BO (Booking Order/ngamar). Sebetulnya layanan ini untuk mempermudah seseorang menemukan teman di dunia maya. Tapi juga rawan disalahgunakan untuk urusan yang tidak-tidak.

Jumat (20/7), pukul 13.30 saya mengatur janji dengan perempuan lainnya. Sebut saja Rere. Kali ini agak berbeda. Ia tak bersedia di- BO. Ia hanya bersedia menemani berkaraoke. Tempat langganannya ada di Jl Cipto Mangunkusumo. Tarifnya Rp200 ribu untuk satu jam. Saya menemuinya di sebuah kedai kopi di Jl Tentara Pelajar. “Lumayan buat tambah-tambah,” ucapnya.

Perempuan 19 tahun itu mengaku sekadar iseng jadi teman karaoke. Sekadar menambah uang jajan, karena kiriman uang dari orang tuanya terbatas. Kadang tersendat. Dalam seminggu hampir tiap hari ada yang menggunakan jasanya. “Paling muda seumuran aku. Seumuran mas juga banyak. Tapi banyaknya om-om,” sebut dia.

Baru satu bulan dia memanfaatkan fitur pesan instan berbasis geo lokasi. “Tau dari teman,” katanya. Selang 90 menit saya menemui yang lainnya. Kali ini berbeda. Saya memang sengaja mencari beberapa kategori ”jasa” yang ditawarkan lewat fitur pencarian ”lihat sekitar”.

Sebut saja Lili. Perempuan 22 tahun. Masih kuliah. Jasa yang ditawarkan ialah pemanis lobi-lobi bisnis. Riri mengaku tak bersedia di-BO. “Kalau mas mau ketemu klien, ajak aku. Aku temenin. Di Cirebon boleh. Mau ke mana juga boleh, my passion is traveling,” tuturnya.

Lili fasih berbahasa Inggris. Caranya bicaranya, gesture-nya, menunjukkan ia sosok yang berwawasan luas.

Sedap dipandang pula. Ia mengikuti isu politik nasional maupun lokal. Benar-benar teman bicara yang asik.

Saya pun stalking Instagram. Agak janggal ketika memperhatikan foto-foto yang ada di akun milik perempuan berambut sebahu itu. Kadang di Bali. Lombok. Lalu di Jakarta, kemudian Singapura. Untuk kantong mahasiswa pada umumnya, perjalanan macam itu bukan jangkauannya. “Nemenin klien,” ucapnya.

Dari sekali jalan, Lili bisa mengantongi Rp1,5 juta-Rp3 juta. Tergantung lama perjalanan dan tentunya kelas kliennya. Tuntas berbincang dengan Lili, saya berusaha menemui target keempat. Sayangnya ia tak bersedia bertemu di luar kamar. “Kalau mau ke sini aja. Langsung di kamar,” ucap perempuan yang memiliki tato di lengan kanannya itu.

Ia mematok tarif short time Rp1 juta untuk tiga jam. Long time Rp2,5 juta. Sudah termasuk kamar hotel  berbintang. Negosiasi pun mentok. Saya pun berlanjut ke target kelima, enam, sampai sepuluh. Tapi, sekadar chat, dan kali ini saya yang benar-benar jadi PHP.

Sekadar untuk membuktikan, penelusuran selama dua hari cukup untuk menguak fakta bahwa prostitusi di kota ini sudah sedemikian canggihnya. Semakin mudah menjangkaunya. Sangat privat. Bersembunyi di tengah hiruk-pikuk metropolitan. Beroperasi dalam keheningan. Memanfaatkan kelengahan aparat. Sementara di alam maya, agresivitasnya bagai lebah. Menyengat. (yud)