Mengungkap Hasil Riset: Cara untuk Menghindari Aksi Penculikan Anak

Bunga Jahrotun Nikmah (Foto. jabar.pojoksatu.com)

Beredar informasi seorang bocah berusia 3 tahun bernama Bunga Jahrotun Nikmah anak dari pasangan Wawan, (39) dan Ina Rohaeni (35) alamat Blok Wadas Pos RT 11 RW 05, desa Tegal sari, Kecamatan Plered, Kabupaten Cirebon hilang.

Berdasarkan kronologis pada pukul 13.00 WIB Bunga Jahrotun Nikmah hilang di dalam rumah setelah di tinggal bapaknya kedapur untuk menaruh piring bekas makan, hingga sampai sekarang anak tersebut, belum diketemukan.

 

 

 

 

 

 

 

Kasus Bunga Jahrotun Nikmah mengingatkan informasi bulan Desember 2018,  Seorang balita laki-laki berusia 1 tahun 3 bulan, bernama Ajun tersebut hilang. Saat itu, bocah tersebut diduga diculik tak jauh dari rumah orangtuanya di Kompleks Villa Ria Indah, Tanjung Hulu Pontianak Timur. Menurut keterangan ibu korban, Meliani, kejadian tersebut terjadi saat dirinya sedang mencuci piring di dapur

Berdasarkan hasil penelitian, anak-anak berumur di bawah lima tahun memang membutuhkan pengawasan ekstra dari orangtua karena tengah berada dalam tahap perkembangan aktif. Apalagi di ruang publik yang punya banyak risiko atau kejadian tidak terduga. 

Menurut Sudarti Winarsih dalam penelitiannya menyebutkan ada beragam kecerdasan yang dimiliki setiap anak. Ia meliputi kecerdasan linguistik, kecerdasan logika-matematika, kecerdasan visual spasial, kecerdasan kinestetik, kecerdasan musikal, kecerdasan antarpersonal, kecerdasan intrapersonal, dan kecerdasan naturalis.

Perilaku yang mengeksplorasi kemampuan motorik, gerakan tubuh, dan anggota badan seperti anak Yani dapat dikategorikan tipe kinestetik.

Anak yang pintar menggunakan kemampuan motoriknya biasanya akan mahir dalam aktivitas-aktivitas yang melibatkan gerakan tubuh, misalnya bermain sepakbola, balet, menari, atau berenang. Ciri lain yang kerap ditunjukkan anak yang memiliki kecerdasan kinestetik adalah sering menggunakan bahasa tubuhnya dalam berkomunikasi, memiliki koordinasi mata dan tangan yang baik, senang berlarian sampai dengan memanjat pohon.

Traci Lengel dalam bukunya The Kinesthetic Classroom: Teaching and Learning Through Movement menyatakan bahwa anak yang mempunyai kecerdasan kinestetik mudah dikenali.

Biasanya mereka tidak bisa diam di kelas berlama-lama. Mereka akan melakukan gerakan semacam menggoyangkan kakinya di bawah meja sampai dengan berjalan-jalan. Anak dengan tipe ini biasanya tidak memiliki masalah dengan kemampuan yang melibatkan motoriknya, seperti kemampuan menggunting, menempel, hingga menaiki tangga.

Bagi sejumlah orangtua dan pengajar, mengasuh anak yang terus bergerak dan tidak bisa diam merupakan kesulitan tersendiri. Sebagian dari mereka bahkan merasa khawatir. Tidak jarang guru mengeluhkan aktivitas anak dengan tipe kinestetik ini.

Namun, tidak bisa diam bukan berarti anak tersebut tidak mampu belajar dengan baik atau memiliki tingkat intelegensi rendah.

Laporan dari Institute of Medicine of the Nation Academies menyatakan bahwa anak-anak yang tidak bisa diam menunjukkan tingkat perhatian yang lebih besar, mengalami proses kognitif yang lebih cepat, dan mengerjakan tes akademis standar lebih baik dibanding anak-anak yang kurang aktif.

Brian Gatens, seorang pengawas sekolah di Emerson, New Jersey, Amerika mengatakan orangtua perlu memahami bahwa gerakan adalah salah satu metode belajar anak-anak.

“Di sekolah, kadang kita [orangtua dan guru] melanggar hukum alam, dengan meminta anak-anak untuk duduk diam sepanjang waktu,” kata Gatens.

Gatens tidak sepakat dengan anggapan bahwa anak-anak yang duduk di meja dengan kepala tertunduk, diam, dan menulis adalah sikap yang lebih baik dibanding mereka yang tidak bisa diam.

“Energi pada otak anak justru akan berkembang saat mereka aktif bergerak,” lanjut Gatens.

Hal ini disepakati juga oleh John Ratey, seorang profesor psikiatri di Harvard Medical School dan penulis Spark: The Revolutionary New Science of Exercise and the Brain. Ia mengatakan bahwa gerakan bukan saja mampu membangunkan otak, tapi juga mampu mengaktifkan semua sel otak yang digunakan anak-anak untuk belajar.

Gerakan-gerakan bentukan kecerdasan kinestetik ini merangsang lebih banyak pembuluh darah di otak, dan membantu mengaktifkan lebih banyak sel otak. Hal ini disampaikan juga oleh Jesper Fritz, peneliti dari Universitas Lund di Swedia. Hal ini ia jabarkan dalam penelitiannya yang berjudul Physical Activity During Growth: Effects on Bone, Muscle, Fracture Risk and Academic Performance.

Fritz menyatakan bahwa siswa yang aktif berolahraga dan kegiatan jasmani yang lain, terutama siswa laki-laki, biasanya berprestasi lebih baik.

“Kegiatan fisik yang dilakukan anak-anak setiap hari adalah kesempatan bagi sekolah dan pengajar untuk meningkatkan kemampuan siswa di atas rata-rata,” lanjut Fritz.

Ia menjelaskan, jika kita menginvestasikan tiga sampai lima menit untuk melakukan gerakan-gerakan di kelas, kita sebenarnya akan mengoptimalkan 45 menit berikutnya untuk belajar.

Mempertimbangkan hal-hal positif dari manfaat gerakan tersebut, orangtua dan guru sebaiknya lebih pengertian. Tidak selamanya duduk diam di dalam kelas adalah sikap yang dibutuhkan seorang anak untuk tumbuh berkembang. Mereka juga butuh menyalurkan keinginan dan berekspresi dengan melakukan banyak gerakan. Khususnya pada anak-anak tipe kinestetik.

Besarnya dampak positif dari aktivitas fisik dan gerakan sudah seharusnya diadopsi setiap pengajar. Hal ini, misalnya, bisa diterapkan dengan memberi jeda belajar anak di kelas dengan melakukan gerakan-gerakan kecil semacam senam di tempat.

Selain berguna dalam mengaktifkan sel-sel otak anak untuk belajar lagi, gerakan fisik memang baik untuk metabolisme tubuh, kebugaran badan, dan kesehatan. (*)

Berita Terkait