Mengungkap Nenek Moyang di Wilayah Timur Gunung Ciremai

Peti kubur batu yang ada situs purbakala Cipari ini memiliki kesamaan dengan fungsi peti-peti kubur batu di wilayah-wilayah lain di Indonesia. Masyarakat Sulawesi Utara menyebut peti kubur batu sebagai waruga, masyarakat Bondowoso menyebutnya pandusa, dan masyarakat Samosir menyebutnya tundrum baho.

Keragaman budaya dan etnis tidak lepas dari sejarah panjang yang mempertemukan beragam suku dan bangsa di tanah Cirebon sejak dulu kala.

Sejarah seperti sebuah batu, meringkuk di kedalaman waktu. Bahkan, bisa berabad-abad tertimbun lapisan peradaban sampai akhirnya mengeras dan tak terbaca.

Kegiatan penguburan sebagai bagian dari prosesi kematian telah dikenal sejak masa prasejarah, dan kemudian berkembang sebagai tradisi di masyarakat kita. Ada berbagai cara di mana orang-orang membawa mati ke dunia roh.

Sehubungan dengan penggunaan kubur peti batu di masa lalu mendukung dengan tradisi budaya megalitik masyarakat, kemungkinan besar di masa lalu, tidak semua anggota masyarakat diperlakukan secara istimewa dengan penguburan di peti mati batu. Dapat disimpulkan dari perbandingan antara jumlah temuan dengan luas penemuan daerah.

Saat ini seluruh wilayah Ciremai gunung, Kabupaten Kuningan dengan luas kurang lebih hektar hanya ditemukan dua belas situs yang memiliki temuan peti batu. Dan temuan ini umumnya terkonsentrasi di lereng timur Gunung Ciremai.

Sebelumnya penelitian di daerah tersebut pernah dilakukan F.C. Wilsen tahun 1885 dan van der Hoop tahun 1935. Diantaranya, kawasan lereng sebelah timur laut gunung Ciremai dan kawasan Kabupaten Kuningan yang daerahnya berbatasan dengan kawasan Jawa Tengah. Tinggalan yang umumnya ditemukan antara lain berbentuk menhir, peti kubur batu, dolmen, batu dakon, bangunan berundak, meja batu, arca megalitik dan punden berundak, beliung persegi, dan manik-manik.

Tinggalan peti kubur batu di kawasan yang termasuk bagian dari kawasan Gunung Ciremai secara administratif termasuk dalam dua wilayah kabupaten yaitu Kabupaten Kuningan dan Kabupaten Cirebon.

Lutfi Yondri dari Tim Balai Arkeologi Bandung dalam kajiannya bertajuk Jejak Aktivitas Penguburan Masyarakat Megalitik di Kaki Gunung Ciremai, Jawa Barat mencatat tinggalan peti kubur batu tersebut ditemukan diberapa lokasi sebagai berikut : Desa Cibuntu, Kec. Pesawahan, Kab.Kuningan, Desa Ragawacana, Kec. Kramatmulya, Kab. Kuningan, Desa Rajadanu, Kec. Jepara, Kab. Kuningan, Desa Gibug, Kec. Cigugur, Kab. Kuningan, Desa Panawarbeas, Kec. Cigugur, Kab.Kuningan, Desa Pagerbarang, Kec. Kuningan, Kab. Kuningan, Desa Cirendang, Kec. Kuningan, Kab. Kuningan, Desa Gunung Keling, Kec. Cigugur, Kab. Kuningan, Desa Patalagan, Kec. Pancalang, Kab. Kuningan, Desa Ratu Genjreng (Cipari), Kec. Cigugur, Kab. Kuningan, Desa Belawa, Kec. Ciledug, Kab. Cirebon.

Bentuk peti kubur batu yang terdapat di kawasan kaki Gunung Ciremai umumnya berbentuk empat persegi panjang, terbuat dari susunan pecahan papan-papan batu (batu sirap) yang ditambang dari alam, dalam hal ini bentuk pipih dari papan batu tersebut memang sudah terbentuk di lokasi sumber bahannya. Papan-papan batu tersebut disusun sedemikian rupa tanpa menggunakan batu penyangga.

“Berdasarkan pengamatan lapangan terhadap kubur peti batu yang ditemukan di kawasan Kabupaten Kuningan, tampak konsep tentang orientasi atau arah hadap diterapkan. Hampir semua temuan kubur peti batu yang terdapat di kawasan ini mengarah ke puncak tertinggi yaitu Gunung Ciremai,” tulis Lutfi Yondri.

Menurutnya, hanya dua lokasi temuan kubur peti yang tidak mengarah ke Gunung Ciremai, yaitu kubur peti batu yang terdapat di situs Pesawahan dan Cibuntu. Masing-masing kubur peti batu ini terletak dengan orientasi utara-selatan dan barat-timur, dengan orientasi ke arah Gunung Dulang dan Gunung Cibebek.

“Berdasarkan hasil penelitian lapangan yang dilakukan di kawasan kaki Gunung Ciremai khususnya di lokasi temuan tinggalan peti kubur batu yang termasuk dalam wilayah administrasi Kabupaten Kuningan dan Kabupaten Cirebon, dapat ditarik beberapa simpulan terutama yang berkaitan dengan keberlangsungan kehidupan dan budaya megalitik di kawasan itu di masa lalu,” tulisnya.

Lebih lanjut, Lutfi Yondri, dari jumlah dan persebaran temuan tinggalan megalitik yang cukup luas di kawasan ini, dimasa lalu dapat diperkirakan bahwa budaya megalitik di kawasan ini tumbuh cukup subur. (*)