Mentan Klaim Sekarang Sudah Bersih dari Mafia Pangan

Menteri Pertanian RI Andi Amran Sulaiman memberikan bantuan pangan. FOTO: ILMI YANFA UNNAS/RADAR CIREBON
Menteri Pertanian RI Andi Amran Sulaiman memberikan bantuan pangan.FOTO: ILMI YANFA UNNAS/RADAR CIREBON

CIREBON-Menteri Pertanian RI Andi Amran Sulaiman mengklaim saat ini sudah tidak ada lagi mafia pangan yang menyusahkan petani dan masyarakat.

“Selama kurun waktu 4,5 tahun, Kementan sudah menyikat habis para mafia pangan,” kata Amran saat memberikan bantuan pertanian kepada para petani di Kabupaten Cirebon, Kamis (28/3).

Amran kembali menegaskan, saat ini sudah membersihkan kementerian yang dikelolanya dari mafia pangan. “Mafia kita tidak beri ruang untuk menyakiti petani Indonesia, jangan menzolimi petani kecil dan masyarakat Indonesia,” ujarnya.

Dengan membersihkan mafia pangan, kata Amran, Indonesia sudah siap menyongsoh kemajuan pertanian, dan kini pihaknya memberikan berbagai bantuan pertanian.

“Kita adalah negara yang besar, negara yang luas dan kekayaan alam melimpah, kita ingat 500 tahun yang lalu Indonesia dikenal dengan rempah-rempah dan perkembunan. Hari ini kita akan kembalikan kejayaan itu dan kita mulai tanam bibit sebar bibit pada hari ini,” tuturnya.

Diungkapkannya, selama dua tahun terakhir, Kementan sudah menggelontorkan anggaran sekitar Rp5,5 triliun untuk bantuan pertanian. “Kita anggarkan kurang lebih Rp5,5 triliun selama dua tahun, total tahun ini kami akan sebar 30 juta pangan seluruh Indonesia, khusus Cirebon kita akan berikan bantuan kelapa kemudian bantuan kopi, kemudian bibit mangga gedong gincu yang terkenal dari Cirebon untuk diekspor keluar negeri,” ujarnya.

Lebih lanjut, dikatakan Amran, pihaknya pada hari ini (kemarin,red) memberikan bantuan pertanian yang terdiri dari berbagai jenis dengan nilai sekitar Rp27 miliar. “Bantuan hari ini kita bawa Rp27 miliar, ayam ada 340 ribu ekor dan itu kita berikan kepada masyarakat yang berada di bawah garis kemiskinan yaitu 50 ekor satu rumah, Insya Allah enam bulan kemudian bebas dari kemiskinan karena pendapatan dari ayam bisa 3,4 juta per bulan,” ungkapnya.

Sedangkan, untuk melindungi para petani padi, pihaknya membuat aturan batas minimal harga gabah yaitu sekitar Rp4.070/kg. “Tidak boleh harga gabah dibeli dibawah Rp4.070,” ujarnya.

Amran mengungkapkan, saat ini Indonesia sudah mampu melakukan ekspor bawang keluar negeri. “Kita bersyukur dulu kita impor bawang, sekarang kita sudah ekspor keenam negara, diantaranya Malaysia, Singapura, dan Filipina,” ujarnya. (den)