Menyusuri Galuh Timur, Desa Jawa Bermerek Sunda

Pembangunan Jembatan Kali Belang era kolonial Belanda, tahu tidak diketahui (Dok. Tropenmuseum)

Galuh Timur sebuah desa di kecamatan Tonjong, kabupaten Brebes, Provinsi Jawa Tengah.  Perjalanan menuju desa tersebut menempuh waktu 2 jam 44 menit, berjarak 107,6 kilometer dari Cirebon.

Desa Galuh Timur terbagi menjadi 9 perdusunan atau perdukuhan Galuh Timur,  Sabrang Kulon, Karangasem, Kalipucung, Kalirau, Dukuh Tengah, Ketabasa dan Makam Dawa serta Dukuh Tiong. Desa Galuh Timur berbatasan dengan kelurahan Linggapura di sebelah Timur, sebelah Barat Desa Kalinusu Kecamatan Bumiayu dan Desa Pangarasan Kecamatan Bantarkawung, sebelah Selatan Desa Kalijurang Kecamatan Tonjong, dan sebelah Utara Desa Tonjong dan Kutamendala Kecamatan Tonjong.

 

 

 

 

 

radarcirebon.com mencoba menelusuri jejak pendatang-pendatang dari Kutai, Kalimantan yang membangun sebuah kerajaan dengan nama Kerajaan Galuh Purba. Pendatang-pendatang ini belum menganut agama Hindu yang merupakan sesepuh orang jaman Kerajaan Kutai Mertadipura. Menurut catatan sejarah Van der Meulen  Di Ambang Sejarah, ditengarai tesisnya ini belum ada yang menentang di kalangan para ahli sejarah.

Di sisi lain, Van der Meulen menduga bahwa semua tempat tersebut dulunya wilayah yang dikuasai oleh kerajaan Galuh Purba, dengan kekuasaan yang cukup luas, mulai dari Indramayu, Cirebon, Brebes, Cilacap, Purbalingga, Tegal, Pemalang, Bumiayu, Banyumas, Banjarnegara, Kebumen, bahkan ada yang menyebutkan sampai ke Kedu, Kulonprogo dan Purwodadi.

Sampai sekarang banyak tempat didaerah tersebut yang menggunakan nama Galuh, diantaranya raja Galuh (Cirebon), galuh (Purbalingga), Galuh Timur (Bumiayu), Sirah Galuh (Cilacap), Begaluh (Leksono), Samigaluh (Purworejo, Kedu), Sigaluh (Purwodadi).

Saat ini, Galuh Timur menyimpan berupa situs Gajah Wong, Gagang Golok, makam dawa, dan bangunan kolonial berupa jembatan kereta api yang berbeda dengan jembatan-jembatan kereta api lainnya di Indonesia. Disapa warga dengan sebutan Jembatan Kali Belang memiliki panjang +/- 100 mtr, tinggi 50 mtr, dan tiang-tiang penyangga kokoh berbentuk tangga sejumlah 22 tiang (bahasa Jawa: saka).

Daerah Galuh Timur,  telah diteliti oleh Tim Balai Pelestarian Situs Manusia Purba (BPSMP) Sangiran dan tim Bumiayu Tonjong (Buton) juga melakukan penggalian pada lokasi penemuan fosil purbakala di wilayah Kecamatan Tonjong, Kabupaten Brebes, tepatnya di Sungai Gintung, Dukuh Tengah, Desa Galuh Timur.

Galuh berasal dari bahasa Sansakerta yang berarti sejenis batu permata, dan biasa digunakan sebagai sebutan bagi ratu yang belum menikah raja puteri. Sejarawan Van der Meulen berpendapat bahwa kata galuh berasal dari kata sakaloh ang berarti asalnya dari sungai.

Ada pula pendapat yang menyatakan, bahwa kata galuh berasal dari kata galeuh atau galih dalam arti inti atau bagian tengah batang kayu yang paling keras.

Lantas, pengertian mana yang tepat dari kata galuh untuk daerah yang sekarang bernama Galuh Timur?

Walaupun tidak dihuni warga sunda, Galuh Timur juga dikaitkan dengan legenda zaman kerajaan. Menurut versi  cerita tutur bahwa nama Galuh diambil dari nama seorang putri raja asal kerajaan Sumedang pergi berkunjung dan bertemu seorang pemuda gagah di desa tersebut. Keduanya memadu kasih dan menikah tanpa restu Raja asal kerajaan Sumedang. Akhirnya, raja tersebut menjatuhkan kutukan.

Senjata pusaka raja berupa golok dilemparkan dari Sumedang meluncur sampai ke desa tempat pasangan pengantin tinggal. Golok yang berputar menerabas rumpun bambu, hingga rantas bagian atas.

Hingga hari ini, bambu di sebelah barat Dukuh Makam Dawa tidak tumbuh ke atas. Ujungnya pruthul atau terpotong rata. Gagangnya copot hingga terlempar dan diyakini sebagai situs bernama Gagang Golok.

Salah satu situs Makam Dawa yang terkait erat cerita tutur Galuh Timur
Salah satu situs Makam Dawa yang terkait erat cerita tutur Galuh Timur

Akibat kutukan raja asal kerajaan Sumedang, kedua pasangan tanpa restu tersebut, berubah menjadi manusia berkepala gajah. Masyarakat sekitar menyebutnya jawong atau Gajah Wong.

Bayi itu diasingkan di hutan dibekali sepasang golek emas. Pengasuhnya Ulang dan Nini Nyai Alung. Kawasan hutan itu, dikenal dengan sebutan hutan ulang-aling. Sekarang lokasi ini menjadi areal hutan jati yang dikelola Perhutani.

Versi lain, menyatakan bahwa Galuh Timur termasuk dalam sejarah kerajaan Galuh perlu pengkajian akademis. Dari penelusuran radarcirebon.com, belum menemukan satu kata atau lokasi yang mendekati istilah penyebutan Galuh Timur.  Di situ hanya dijelaskan bahwa terdapat kerajaan kecil semacam kadipaten bernama Galuh Rahyang yang berlokasi di Brebes dengan ibukotanya bernama Medang Pangramesan. Namun apakah Galuh Rahyang itu Galuh Timur?

Naskah Bujangga Manik , yang ditulis sekitar paruh kedua abad ke-15 (1450–1500) melaporkan bahwa batas timur kerajaan Sunda dengan tetangganya di Jawa adalah sungai Cipamali di masa kini di Kabupaten Brebes.

Namun, catatan orang Portugis Suma Oriental pada tahun 1513 melaporkan bahwa perbatasan timur Kerajaan Sunda terletak di pelabuhan Chemano (Cimanuk), muara Sungai Manuk, yang saat ini bersesuaian dengan kota Indramayu.

Sumber Portugis melaporkan keberadaan penduduk dan pedagang Muslim di Cimanuk. Ini berarti antara 1450 dan 1513 kerajaan Sunda telah kehilangan kendali atas daerah di sekitar Cirebon, antara Brebes dan Indramayu.

Ini menandakan dorongan Muslim Jawa pesisir ke barat menjadi daerah tradisional Sunda, karena Kesultanan Demak bertanggung jawab sebagai pelindung yang menyebabkan munculnya Kesultanan Cirebon.

Di sisi lain, sepanjang sejarah Sunda, pusat kekuatan budaya dan politik sering terombang-ambing antara wilayah Priangan Barat; awalnya diidentifikasi sebagai “Sunda”, dan wilayah Priangan Timur; secara tradisional diidentifikasi sebagai “Galuh”.

Dalam catatan, Kerajaan Sunda dan Kerajaan Galuh hidup berdampingan di bawah hubungan yang aneh dan kompleks, kadang-kadang dipersatukan di bawah satu raja, dan di waktu lain sekutu kerajaan di bawah penguasa yang berbeda.

Setidaknya, laporan yang disusun Tim Peneliti Sejarah Galuh tahun 1972, terdapat sejumlah nama kerajaan, Kerajaan Galuh Sindula (menurut sumber lain, Kerajaan Bojong Galuh) yang berlokasi di Lakbok dan beribukota Medang Gili, Kerajaan Galuh Rahyang berlokasi di Brebes dengan ibukota Medang Pangramesan, Galuh Kalangon berlokasi di Roban beribukota Medang Pangramesan, Galuh Lalean berlokasi di Cilacap beribukota di Medang Kamulan, Galuh Pataruman berlokasi di Banjarsari beribukota Banjar Pataruman, Galuh Kalingga berlokasi di Bojong beribukota Karangkamulyan, Galuh Tanduran berlokasi di Pananjung beribukota Bagolo, Galuh Kumara berlokasi di Tegal beribukota di Medangkamulyan, Galuh Pataka berlokasi di Nanggalacah beribukota Pataka, Kabupaten Galuh Nagara Tengah berlokasi di Cineam beribukota Bojonglopang kemudian Gunungtanjung, Kabupaten Galuh Imbanagara berlokasi di Barunay (Pabuaran) beribukota di Imbanagara, dan Kabupaten Galuh berlokasi di Cibatu beribukota di Ciamis sejak tahun 1812.

Akhirnya, Desa Galuh Timur masih menyimpan misteri. (*)

 

Berita Terkait