Miris Sekeluarga Tinggal di Bangunan Nyaris Ambruk, Rumah Sering Difoto Tapi Bantuan Tetap Nol

MEMPRIHATINKAN: Kondisi rumah Sanusi yang nyaris roboh begitu memprihatinkan. Sayangnya, selama ini ia tidak merasakan bantuan dari pemerintah, baik melalui program rutilahu, PKH ataupun BPNT. FOTO: ANDRI WIGUNA/RADAR CIREBON
MEMPRIHATINKAN: Kondisi rumah Sanusi yang nyaris roboh begitu memprihatinkan. Sayangnya, selama ini ia tidak merasakan bantuan dari pemerintah, baik melalui program rutilahu, PKH ataupun BPNT.FOTO: ANDRI WIGUNA/RADAR CIREBON

CIREBON-Sudah bertahun-tahun rumah tinggal keluarga M Sanusi tidak terawat. Perlahan-lahan, rumah yang saat ini dihuni Sanusi dan dua anaknya tersebut, mulai rapuh.

Kayu-kayu penahan atap mulai keropos dan lapuk dimakan waktu. Hingga menunggu waktu saja kapan rumah tersebut akan ambruk.

Sayangnya, meskipun kondisinya memprihatinkan, rumah Sanusi luput dari perhatian. Bahkan Sanusi menyebut serasa menjadi imigran di wilayahnya. Karena tidak pernah mendapat bantuan apapun dari pemerintah.

Hal tersebut dikatakan Sanusi saat ditemui Radar Cirebon di rumahnya, kemarin (20/5). Menurut dia, rumahnya tersebut pertama kali dibangun pada tahun 1985. Rumahnya merupakan semi permanen, bagian dinding hanya setengah dan setengah sisanya bilik bambu dan papan.

“Rumah ini sudah lumayan tua. Tidak pernah diperbaiki karena saya kesulitan ekonomi. Pekerjaan saya buruh serabutan dan tidak tentu penghasilannya. Anak saya ada dua,” bebernya.

Sudah berkali-kali rumah Sanusi didatangi perangkat desa dan sejumlah pihak lainnya. Bahkan sudah tak terhitung berapa kali rumahnya difoto dan didokumentasikan. Namun bantuan yang diharapkan untuk perbaikan tak kunjung dating alias nol.

“Kalau difoto-foto sering. Dari dulu malah. Tapi sampai sekarang belum ada bantuan dari pemerintah. Bahkan saya tidak pernah dapat bantuan, baik PKH ataupun BPNT. Padahal untuk makan saja saya sulit. Saya juga punya anak yang masih sekolah,” imbuhnya.

Kondisi rumah Sanusi begitu mencekam jika turun hujan. Air begitu mudah masuk dan memenuhi ruangan yang ada di dalamnya. Kondisi tersebut membuat Sanusi sering mengungsi bersama anak-anaknya, karena setiap saat rumah tersebut bisa saja ambruk.

“Kalau hujan ya tidak punya pilihan selain mengungsi. Ngeri pokoknya. Soalnya bagian atap kayu-kayunya sudah lepas. Ini tinggal nunggu waktu saja ambruknya,” ungkapnya. (dri)

[adrotate banner="13"]

Berita Terkait