Misteri Langkanya Candi Kerajaan Sunda Kuno

Sasajén di Kawali,1863 - 1864

Masa Mataram Kuno meninggalkan monumen-monumen yang spektakuler. Beberapa di antaranya Candi Prambanan, Candi Sewu, dan Candi Sambisari. Begitu pula di Jawa Timur, candi-candi peninggalan Kerajaan Singhasari dan Majapahit, masih relatif utuh dan bisa dikagumi keindahannya.

Di Jawa Barat tak begitu. Beberapa sisa bangunan masa Hindu Buddha memang berhasil ditemukan. Namun letaknya tersebar dan kondisinya tinggal serakan batuan andesit atau bata. Misalnya Kerajaan Sunda Kuno yang berkembang setelah Kerajaan Tarumanegara runtuh pada abad ke-7 M hingga abad ke-16. Tak mudah menyebutkan di mana saja mereka membangun monumennya.

Padahal, menurut arkeolog Universitas Indonesia, Agus Aris Munandar dalam Tatar Sunda Masa Silam Kerajaan Sunda, Kerajaan Sunda Kuno mendirikan banyak bangunan terutama untuk keagamaan. Tempat-tempat suci itu beberapa kali disebut dalam naskah-naskah keagamaan yang hingga kini masih bertahan. Sayangnya, lokasinya belum diketahui secara pasti.

Bangunan yang didirikan kerajaan-kerajaan di Jawa Barat tak sama dengan bangunan yang dibangun oleh Mataram Kuno, Singhasari, dan Majapahit. Kerajaan di Jawa Tengah dan Jawa Timur itu membangun monumen biasanya berupa candi dan petirtaan. Arsitektur candinya mempunyai bentuk baku, seperti kaki, tubuh, dan atap.

Berbeda dengan bangunan di Tatar Sunda. Kebanyakan bangunan yang ditemukan tak menunjukkan bentuk lengkap: kaki, tubuh, atap, dan bilik serta relung untuk menempatkan arca dewa.

Candi Cangkuang di Garut memang menunjukkan bentuk kaki, tubuh, dan atap. Namun, menurut Agus, candi itu tak bisa dirujuk karena hasil rekonstruksi yang belum pasti kebenarannya. Karenanya candi itu bukan bukti kalau dulu pernah didirikan bangunan candi baku di wilayah Jawa Barat.

Dalam makalah “Bangunan Suci pada Masa Kerajaan Sunda: Data Arkeologi dan Sumber Tertulis”, yang terbit dalam Pertemuan Ilmiah Arkeologi VI, Agus Aris Munandar menyebutkan kalau batur tunggal merupakan bentuk dasar bangunan suci pada masa Kerajaan Sunda Kuno. Ciri arsitekturnya hanya satu teras, terbuat dari batu polos, balok batu atau bata. Biasanya mempunyai tangga atau tak mempunyai tangga.

Kemudian ada pula berupa punden berundak. Bentuknya berteras dua, tiga, atau lebih. Terasnya tersusun dari batu polos atau blok batu. Di bagian tengah teras, terdapat tangga menuju teras teratas. Pada kasus situs di puncak Gunung Tampomas, Sumedang, teras teratas dari pundennya dibatasi pagar batu polos.

Ada juga bangunan pertapaan yang belum diketahui secara pasti. Itu bisa berupa gua-gua yang mirip dengan yang ada di Gunung Penanggungan, Jawa Timur, atau bangunan pertapaan yang terbuat dari bahan mudah lapuk.

“Apa yang disebut kabuyutan dalam naskah Sunda Kuno sebenarnya adalah bangunan yang mempunyai bentuk dasar demikian, tapi sangat mungkin dilengkapi dengan arca dari pantheon Hindu atau arca bercorak megalitik yang menggambarkan perwujudan leluhur,” tulis Agus.

Kalau dibandingkan, bentuk bangunan era Sunda Kuno justru mirip bangunan era akhir Majapahit. Khususnya jika membandingkan beberapa bangunan suci dari masa yang relatif sama.

“Terutama ketika Majapahit sedang berjaya, sebagai negara adikuasa di Nusantara saat itu, tak heran kalau Majapahit menjadi acuan bagi wilayah lain di Nusantara, termasuk bagi Kerajaan Sunda,” jelas Agus.

Pada masa akhir Hindu-Buddha berkembang bentuk punden berundak yang banyak dipakai sebagai tempat pemujaan. Bangunan-bangunan di Gunung Penanggungan, misalnya, bentuknya punden berundak atau gua pertapaan.

Umumnya, mereka terbuat dari balok batu yang terdiri atas empat teras yang dibangun bersandar pada kemiringan lereng. Gunanya sebagai karsyan, di mana para agamawan atau rsi bermukim dan mengasingkan diri dari keramaian dunia.

Mirip dengan itu, Situs Astana Gede, Kawali, Ciamis (abad ke-14 M) juga memiliki halaman yang berundak-undak. Di sana ditemukan batu-batu bagian dari suatu bangunan yang tahan lama.

Sangat mungkin di kompleks itu terdapat bangunan-bangunan yang terbuat dari bahan yang tak tahan lama. Sebab Prasasti Kawali I menyebut Raja Wastu Kancana pernah bertapa di sana. Padahal, di Kawali tidak ditemukan gua untuk bertapa seperti di Gunung Penanggungan. Jadi, tempat bertapanya kemungkinan bangunan sederhana.

“Jelas di Situs Kawali ada bangunan pertapaan. Bangunan itu tidak permanen, mungkin hanya berbentuk rumah panggung yang ditutup dinding kayu atau terbuka,” jelas Agus.

Banyaknya bangunan yang dibuat dengan bahan mudah lapuk itu juga yang menjadikannya tak lagi tersisa. Misalnya Situs Batu Kalde, menurut BPCB Serang, diperkirakan memiliki arsitektur yang dikelilingi pagar berdenah persegi panjang. Struktur pecahan batu kapur dipakai sebagai pondasi dan balok-balok batu di bagian atasnya.

Di sana, tak dijumpai batu-batu yang menunjukkan bekas bagian tubuh atau atap candi. Menurut Agus, candi di daerah Pananjung, Pangandaran itu mungkin dulunya batur terbuka. Lalu di atasnya diletakkan objek pemujaan. Struktur atapnya menggunakan bahan yang cepat rusak. Misalnya tiang dari bambu atau kayu, dan penutup atap dari ijuk. Tentu saja yang bertahan hingga sekarang hanya bagian baturnya.

Meski begitu, menurut Agus, bukan berarti tak ada bangunan candi yang bertubuh lengkap di Jawa Barat. Namun, jika melihat hanya dari penyebutannya di karya sastra keagamaan dan sumber tertulis lainnya dari masa Sunda Kuno, agaknya pencarian terhadap bangunan candi utuh seperti di Jawa Tengah dan Jawa Timur akan menjadi sia-sia. (*)