Misteri Siapa Sosok Fatahillah

Identitas dan asal-usul Fatahillah sendiri sebenarnya masih menjadi misteri. Ahmad-Noor A. Noor (2005:103) dalam buku From Majapahit to Putrajaya: Searching for Another Malaysia menyebut bahwa Fatahillah atau Faletehan adalah seorang muslim keturunan Arab yang berasal dari Gujarat (India) yang kemudian diangkat menantu oleh penguasa Demak, Sultan Trenggono (1505-1518).

Ada juga yang meyakini Fatahillah adalah seorang pedagang sekaligus guru agama dari Aceh. Ia meninggalkan Samudera Pasai ketika kerajaan Islam pertama di Nusantara itu dikuasai oleh Portugis pada 1521 dan merantau sampai ke Demak. Disebutkan pula, Fatahillah pernah bermukim di Mekkah untuk memperdalam ajaran Islam (Ibrahim Alfian, Dari Samudera Pasai ke Yogyakarta, 2002:314).

Masih terdapat beberapa versi lainnya terkait sosok Fatahillah, termasuk yang menyatakan bahwa ia adalah pangeran dari Arab, atau putra pembesar Mesir keturunan Bani Hasyim dari Palestina, atau orang asli Samarkand (Uzbekistan) yang sempat belajar ke Baghdad (Irak), lalu mengabdikan dirinya ke Kesultanan Turki sebelum bergabung dengan Kerajaan Demak di Jawa.

Bahkan, ada sumber yang menyebut Fatahillah adalah orang yang sama dengan Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati), seperti dalam buku Runtuhnya Kerajaan Hindu-Jawa dan Timbulnya Negara-negara Islam di Nusantara karya Slamet Muljana (2005:230). Bahkan, Muljana meyakini bahwa Fatahillah pernah menjadi penguasa Banten dan Cirebon.

Terlepas dari kesimpang-siuran terkait jatidiri Fatahillah, catatan sejarah yang lebih jelas menyebutkan bahwa orang ini adalah panglima perang Kerajaan Demak yang diutus Sultan Trenggono untuk merebut Sunda Kelapa dari Portugis pada 1527.

Demak yang sebagai kekuatan utama Islam di Jawa merasa terancam jika Portugis dan Kerajaan Pajajaran bekerjasama menguasai Sunda Kelapa yang merupakan salah satu bandar dagang terbesar dan teramai di Nusantara kala itu.

Pasukan Fatahillah kemudian bergabung dengan orang-orang Cirebon yang memang mengincar Sunda Kelapa. Selain itu, Fatahillah juga didukung oleh masyarakat muslim Melayu dan Jawa yang telah menetap di Sunda Kelapa dan wilayah Kerajaan Pajajaran lainnya (Yasmine Yaki Shahab, dkk., Betawi dalam Perspektif Kontemporer, 1997:105).

Lantas, apakah memang benar bahwa penaklukkan Sunda Kelapa pada 1527 itu juga menjadi ajang pembantaian yang dilakukan pasukan Fatahillah terhadap orang-orang Betawi? Ridwan Saidi menyebut pertempuran ini dengan istilah Perang Betawi.

Belum ditemukan referensi yang kuat terkait itu. Yahya Andi Saputra dalam buku Upacara Daur Hidup Adat Betawi menyertakan pengakuan Ridwan Saidi yang meyakini bahwa cukup banyak jiwa yang menjadi korban serangan Fatahillah ke Sunda Kelapa –atau Nusa Kalapa menurut istilah Ridwan Saidi– itu.

Namun, Ridwan Saidi menyimpulkan kemungkinan tersebut berdasarkan folklor atau cerita rakyat yang disebutnya masih hidup dan berkembang di kalangan penduduk Bogor asli (Saputra, 2008:147). Bogor pada masa itu adalah pusat pemerintahan Kerajaan (Pakuan) Pajajaran yang menguasai Sunda Kelapa sebelum direbut Fatahillah.

Setelah Sunda Kelapa diambil-alih oleh Fatahillah dan menjadi wilayah taklukan Demak, syiar Islam berlangsung masif di kawasan strategis ini. Di sisi lain, peperangan antara kubu Islam (Demak, Cirebon, dan Banten) melawan Pajajaran yang mayoritas rakyatnya menganut Hindu, Buddha, atau kepercayaan lokal, terus berlangsung pada masa itu. (*)