Nasib Mengenaskan Dialami Muhammad Rizky

Makan Minum lewat Selang, Alami Kebutaan dan Kelumpuhan

LUMPUH: Muhammad Rizky (7), lemas tidak berdaya sejak usia satu tahun. Makan dan minum pun harus melalui selang di kedua lubang hidung. Kedua bola matanya, juga mengalami kebutaan. FOTO: ADE GUSTIANA/RADAR CIREBON
LUMPUH: Muhammad Rizky (7), lemas tidak berdaya sejak usia satu tahun. Makan dan minum pun harus melalui selang di kedua lubang hidung. Kedua bola matanya, juga mengalami kebutaan.FOTO: ADE GUSTIANA/RADAR CIREBON

CIREBON-Muhammad Rizky (7), lemas tidak berdaya sejak usia satu tahun. Makan dan minum pun harus melalui selang di kedua lubang hidungnya. Kedua bola matanya, juga mengalami kebutaan.

Dokter mendiagnosa anak pertama dari dua bersaudara pasangan Linda Lestari (24) dan Eko (27) itu, terkena radang otak. Kini, Muhammad Rizky tinggal di kediaman sang nenek, Satri (46) di Desa Sutawinangun, Kecamatan Kedawung.

Sementara kedua orang tuanya tinggal di Kecamatan Lemahwungkuk, Kota Cirebon.

“Anak saya dengan suaminya tinggal di Lemahwungkuk, Kota Cirebon. Rizky sama saya karena anak saya harus ngurus mertuanya yang habis terkena tabrak lari. Ya menjenguk ke sini 1 minggu 1 kali,” ujarnya kepada Radar Cirebon,(14/3).

Penyakit yang diderita bocah malang itu, berawal dari terbenturnya bagian kepala di usianya yang masih balita. Dua bulan setelah kejadian, Rizky mengalami kejang-kejang dan sempat dilarikan ke Rumah Sakit Gunung Jati untuk mendapatkan perawatan.

Tidak kunjung membaik, sejak tahun 2013 hingga saat ini, Rizky mengalami kelumpuhan dengan selang yang terpasang di kedua hidungnya guna memasukan asupan makanan. Tidak hanya itu, dokter juga memvonis, kedua bola mata Rizky mengalami kebutaan.

Dengan kondisi yang terbilang pas-pasan bahkan tidak mencukupi, Satri sempat dua kali mencoba menghadap walikota di kantor dinasnya, untuk sekadar mengharapkan perhatian atas kondisi cucunya.

“Saya nggak pernah dapat apa-apa dari pemerintah. Saya coba minta ke pak walikota, ternyata nggak ada. Lagi pergi kata penjaganya. Malah di sana diketawain,” jelasnya.

Atas kejadian itu, Satri mengaku, tidak akan mengulang mendatangi kantor pemerintah. Namun, dirinya juga masih berharap, uluran tangan pemerintah untuk memperjuangankan kesembuhan Rizky.

Setiap minggu dan bulan, Satri juga selalu melakukan pengobatan rutin demi upaya kesembuhan cucunya. Seperti melakukan fisioterapi dua minggu sekali, ataupun melakukan kontrol di dokter anak. Itu dilakukannya secara gratis menggunakan Kartu Indonesia Sehat (KIS).

“Dede (Rizky, red) nggak bisa ngomong. Nggak bisa jalan, nangis juga nggak bisa. Bahkan saya juga tidak bisa membedakan antara dia tidur atau sedang sadar,” ujarnya.

Selama ini, Satri hanya mengharapkan uang dari suaminya, Toto Sugiarto (51) yang bekerja sebagai tukang becak, dalam mencukupi kebutuhan hidup sang cucu. Ayah Rizky, lanjut Satri, bekerja sebagai juru parkir.

“Walaupun hidup seperti ini, saya nggak pernah ngeluh buat terus memperjuangin kesembuhan cucu. Saya anggap ini sebagai cobaan hidup. Tetapi, kalau diceritain mah dadanya sesak sekali,” ucapnya sambil menahan tangis di mata.

Dokter juga pernah menyarankan pihak keluarga melakukan pemeriksaan lebih lanjut di rumah sakit dr Hasan Sadikin Bandung.

Namun sepertinya, hal itu tidak mungkin dilakukan. Mengingat, untuk kebutuhan hidup sehari-hari saja, masih kurang mencukupi.

“Januari 2019 kemarin sempat dirawat di Rumah Sakit Permata Cirebon selama 4 hari. Katanya harus dibawa ke Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung. Kalau di sana nggak bawa apa-apa, sama aja nyerahin badan sendiri. Yang ada saya sakit, cucu nggak keurus,” paparnya. (Ade)