Obama Jadi Capres Lagi

Janji Selamatkan Ekonomi AS

CHARLOTTE – Konvensi Nasional Partai Demokrat berakhir Kamis malam waktu setempat (6/9) atau kemarin pagi WIB (7/9). Time Warner Cable Arena di Kota Charlotte, Mecklenburg County, Negara Bagian Carolina, menjadi saksi pencalonan kembali pasangan incumbent Presiden Barack Obama dan Wakil Presiden Joe Biden.

Obama menerima mandat dari Demokrat untuk kembali mencalonkan diri dengan senang hati. Dalam pidatonya pada Kamis malam lalu, pemimpin 51 tahun itu berusaha menyegarkan kembali ingatan publik Amerika Serikat (AS) tentang Pilpres 2008. Dia menyatakan telah bekerja keras demi mewujudkan perubahan yang pernah dijanjikan. Diantaranya, mengakhiri Perang Iraq dan mengakui hak kaum gay serta lesbian.

Pada malam penutupan konvensi itu, Obama mengimbau massa Demokrat untuk kembali memercayakan masa depan AS kepadanya. Dia berjanji, pada periode kedua kepemimpinannya, dia tidak akan menggiring Negeri Paman Sam jatuh ke dalam keterpurukan ekonomi. Tapi, memang tidak mudah bagi Obama untuk menepati janji tersebut. Mengingat, defisit anggaran dan angka pengangguran yang masih tinggi.

Apa pun yang terjadi, mantan senator Illinois itu yakin bahwa dirina memiliki kualitas yang jauh lebih baik ketimbang pesaingnya dari Partai Republik Mitt Romney. “Sebenarnya Anda tidak sedang menghadapi pilihan di antara dua kandidat atau dua partai saja. Lebih dari itu, Anda akan memilih jalur yang menentukan masa depan Amerika,” papar suami Michelle LaVaughn Robinson itu.

Kondisi perekonomian AS, tampaknya, masih akan menjadi tantangan terbesar Obama. Sebab, kali ini Obama dan Biden harus bersaing dengan pasangan calon presiden dan calon wakil presiden yang sama-sama melek ekonomi. Seolah menguji kesiapan Obama, pemerintah merilis laporan statistik angkatan kerja bulanan. Hingga akhir Agustus lalu, angka pengangguran tercatat 8,3 persen.

Sepanjang sejarah, tidak pernah ada presiden AS yang kembali terpilih setelah menutup periode kepemimpinannya dengan angka pengangguran di atas 8 persen. Tapi, Obama tidak mau terjerat dalam stigma tersebut. Presiden keturunan Kenya itu akan memanfaatkan waktu sepuluh pekan yang masih dia miliki hingga hari pencoblosan dengan sebaik mungkin. Dia yakin, bisa kembali memenangi simpati publik.

Untuk mempertajam perbedaannya dengan Romney, Obama menyelipkan satu pesan penting dalam setiap pidato maupun iklan politiknya. Yakni, bahwa kebijakan perekonomian yang telah dia susun dan sedang berjalan saat ini punya peluang lebih besar untuk mengentas AS dari krisis. “Hanya tinggal menunggu waktu untuk memetik buah dari kebijakan yang telah kita semai,” tandas bapak dua anak itu.

Sebaliknya, lanjut presiden kulit hitam pertama AS itu, Romney yang berasal dari kalangan atas akan cenderung melahirkan kebijakan-kebijakan yang berpihak kepada kaumnya. Apalagi, mantan gubernur Massachusetts itu tidak pernah menjalani hidup sebagai pekerja kelas menengah. Padahal, sebagian besar warga AS adalah kalangan menengah seperti Obama.

Hingga November nanti, Obama dan Romney, tampaknya, akan semakin gencar melancarkan aksi saling serang secara politik. Terutama, di tujuh negara bagian yang hingga sekarang belum memperlihatkan keberpihakannya. Yakni, Colorado, Florida, Iowa, Ohio, Nevada, New Hampshire, dan Virginia. Empat tahun lalu Demokrat sukses meraup kemenangan di tujuh negara bagian tersebut.

“Pemilu empat tahun lalu bukanlah tentang saya. Semua itu tentang Anda semua. Saudara-Saudara sekalian, kalianlah perubahan itu,” seru Obama di hadapan sekitar 20.000 massa Demokrat. Dia lantas mengimbau rakyat tetap bertahan pada pilihan mereka dan tidak berspekulasi dengan memilih kandidat lain. Alumnus Harvard Law School itu menganggap dirinya dan Biden sebagai kandidat yang lebih berpengalaman. (AP/AFP/hep/c4/ami)

Berita Terkait