Padi Roboh, Petani Terpaksa Panen Dini

Padi-rebah-panen-dini
PANEN DINI: Petani di Desa Wanguk Kecamatan Anjatan, Kabupaten Indramayu, menunjukkan tanaman padi siap panen yang robah akibat diterjang angin kencang disertai hujan deras, beberapa hari terakhir. FOTO: KHOLIL IBRAHIM/RADAR INDRAMAYU

INDRAMAYU – Petani di Desa Wanguk, Kecamatan Anjatan, Kabupaten Indramayu, terpaksa panen dini untuk menghindari kerugian lebih besar. Petani khawatir jika dibiarkan terus-terusan diguyur hujan hingga terendam air, bulir padi dari tanaman yang roboh bakal berkecambah.

“Sebenarnya masih sekitar 1-2 minggu lagi musim panen. Tapi karena takut berkecambah, sebagian petani terpaksa panen dini,” ucap Hasan, petani setempat kepada Radar Indramayu, Selasa (19/3).

Dia memerkirakan luas tanaman padi siap panen yang mengalami robah mencapai puluhan hektare. “Robohnya padi lantaran diterjang angin kencang sepanjang seminggu terakhir. Dibarengi intensitas hujan cukup tinggi dan sering, tanaman padi menjadi kotor berlumpur,” ujarnya.

Dia menjelaskan, beberapa petani berupaya mengikat setiap rumpun padi agar tidak rebah karena waktu panen masih beberapa minggu lagi. Mereka juga melakukan pengeringan lahan agar bulir padi tidak gabug.

Persoalannya, sawah sulit dikeringkan menyusul hujan terjadi hampir setiap hari. “Yang terlanjur rusak dan khawatir tambah parah, langsung dipanen walaupun resikonya harga gabah anjlok,” katanya.

Info dari temannya sesama petani, harga gabah anjlok menjadi Rp 4400/kg. Padahal dua minggu lalu masih di kisaran Rp 4800-Rp 5000/kg. Hujan yang terus menerus pun mengakibatkan petani sulit menjemur gabah.

Petani lainnya Kodri ikut membenarkan. Menurutnya, akibat cuaca buruk dan kondisi gabah yang kurang baik karena terendam lumpur serta memasuki musim panen, kini harga gabah mulai merosot tajam.

Dikatakannya, petani hanya bisa menyisakan padi untuk makan. Selebihnya langsung dijual untuk biaya menggarap pada musim tanam kedua serta menghindari semakin merosotnya harga gabah saat musim panen padi serentak tiba.

“Para petani pada saat panen rendeng memang punya kebiasaan langsung menjual gabah karena sulit menjemur. Ditambah lagi kondisi gabah juga kurang baik, roboh,” ujarnya. (kho)