Paguyuban Seniman Slangit Lestarikan Budaya Daerah, Rutin Latihan Pilih Anak Usia Muda Untuk Regenerasi

ADE GUSTIANA, Klangenan

LATIHAN: Anggota Paguyuban Seniman Desa Slangit, Kecamatan Klangenan, melakukan latihan musik karawitan dan tari topeng. FOTO: ADE GUSTIANA/RADAR CIREBON
LATIHAN: Anggota Paguyuban Seniman Desa Slangit, Kecamatan Klangenan, melakukan latihan musik karawitan dan tari topeng. FOTO: ADE GUSTIANA/RADAR CIREBON

Jika tidak ada upaya pelestarian kesenian dan budaya daerah, tidak menutup kemungkinan akan punah. Dibutuhkan penerus yang mempunyai dedikasi mempopulerkannya.

Menularkan itu, Paguyuban Seniman Desa Slangit, Kecamatan Klangenan, mengagendakan latihan rutin bagi anggotanya.

PARA anggotanya tergolong banyak yang masih muda. Tidak sedikit anak usia sekolah. Macam-macam pelatihan seni tertampung di sanggar seni pimpinan Keni Arja itu. Sebut saja seni tari, ukir, lukis, karawitan, wayang, dan masih beberapa lagi.

Seperti yang terpantau beberapa hari lalu, mereka berlatih musik karawitan. Alat musiknya disebut gamelan. Ada gendang, jengglong, gong, tutukan atau kebluk, kedemung, bonang, seruling dan lainnya. Latihan biasa dilakukan siang hingga sore hari. Kadang pula dilanjut malam, jika dirasa perlu.

Salah seorang anggota Paguyuban Seniman Slangit, Astori Sujana Arja menyampaikan, Minggu kemarin ia melakukan latihan seni dengan fokus musik karawatin dan tari topeng. Paguyuban seninya, juga telah beberapa kali tampil di acara rakyat.

“Paguyubannya telah dibentuk sekitar dua tahun. Tujuannya ya untuk melakukan pengembangan dan pelestarian atau regenerasi kesenian kepada pewaris-pewarisnya. Pewaris kita ini anak muda Desa Slangit yang bertanggung jawab mempromosikan kesenian,” ujar Astori.

Anggota Paguyuban Seniman Slangit lain, Daru Atmaja menuturkan, pelatihan seni yang dilakukan adalah semata-mata untuk melestarikan budaya nenek moyang.

“Karena pemain gamelan di sini, kebanyakan sudah pada sepuh semua. Alhamdulillah, ternyata anak muda juga banyak yang mau belajar,” ucapnya.

Para pelajar yang mengikuti latihan, hitung-hitung mengisi waktu libur sekolahnya. Kalaupun dilakukan bukan di hari libur, mereka masih bisa berlatih saat malam hari.

Lagu atau musik yang mereka bawakan adalah lagu tataluan atau lagu dasar bagi mereka yang pemula mempelajari musik karawitan.

“Dengan belajar seni, diharapkan anak muda dapat terhindar dari hal negatif yang merugikan. Ke depan, kita juga ada rencana merekrut anggota paguyuban yang masih duduk di bangku sekolah dasar, agar mereka mengenal seni sedari dini,” pungkasnya. (*)