Partisipasi Pendidikan di Wilayah Industri Rendah

Belajar-kejujuran-lewat-game-edukatif
Ilustrasi. Foto: Dok. radarcirebon.com

CIREBON – Jumlah anak putus sekolah atau anak yang tidak melanjutkan jenjang pendidikan pertama ke tingkat atas di wilayah Kecamatan Mundu, cukup tinggi. Jumlah itu disebabkan beberapa faktor, mulai dari akses wilayah yang jauh dari fasilitas pendidikan, dan yang paling baru adalah karena pengaruh industrialisasi.

Koordinator Dinas Pendidikan Wilayah Kecamatan Mundu, Saekhu kepada Radar menyebut, sebenarnya jika merujuk data, angka partisipasi peserta didik di wilayah Kecamatan Mundu cukup tinggi dan hampir rata-rata sama dengan wilayah lainnya.

Namun demikian, diakuinya, ada beberapa persoalan yang membuat angka partisipasi atau tidak meneruskan pendidikan ke jenjang lebih tinggi cukup besar di Mundu. “Masalah pertama itu dari kondisi geografis. Ada wilayah yang lokasinya masuk ke dalam, sehingga cukup jauh dari fasilitas pendidikan.

Contohnya, ada satu blok di Setupatok namanya Blok Karangdawa. Di sana, angka partisipasinya cukup rendah karena akses ke fasilitas pendidikan cukup jauh. Tapi, sudah kita atasi dengan membuat pusat kegiatan belajar mengajar (PKBM, red),” ujarnya.

Persoalan kedua yang menyebabkan angka partisipasi pendidikan menurun adalah industrialisasi yang kini mulai marak dan tersebar di desa-desa di wilayah Kecamatan Mundu. Menurutnya, masih sangat umum ditemukan ada pekerja anak-anak usia sekolah yang terpaksa mencari nafkah, karena berbagai penyebab dari mulai ekonomi, sosial dan lain-lain.

“Industri, meskipun punya sisi posotif, namun harus tetap diakui juga punya dampak negatif. Terlebih, belum maksimalnya upaya pengusaha atau investor yang tetap mengizinkan anak-anak usia sekolah bekerja di perusahaan mereka,” imbuhnya.

Ditambahkannya, anak-anak tersebut bekerja di industri yang tidak mengutamakan ijazah atau unskill, sehingga untuk anak-anak bisa masuk meskipun secara aturan dilarang dan tidak diperkenankan.

“Untuk mendongkrak partisipasi, kita saat ini sudah melakukan berbagai upaya. Salah satunya mendekatkan pendidikan ke masyarakat agar persoalan jarak waktu dan ekonomi, tidak menjadi penghalang partisipasi pendidikan. Dan itu mulai menunjukan progres positif,” jelasnya.

Sementara itu, Camat Mundu August Pentristianto SSTP kepada Radar menuturkan, jika jumlah industri di wilayah Kecamatan Mundu cukup banyak. Untuk wilayah dengan 12 desa tersebut, saat ini kurang lebih ada 100-an industri yang ada di wilayah Kecamatan Mundu.

“Wilayah kita cukup banyak industri. Kondisi ini sudah ada sebelum ada penambahan RTRW di Kabupaten Cirebon untuk zona industri. Salah satu efeknya ke dunia pendidikan. Tingkat partisipasi masyarakat ke pendidikan masih kurang dan sering ditemukan ada anak-anak yang ikut bekerja di industri,” jelasnya.

Sebenarnya, pihaknya tidak diam. Bahkan beberapa kali pihak kecamatan melakukan sidak ketika menerima informasi adanya pekerja anak-anak. Namun ketika didatangi, anak-anak tersebut sudah tidak ada.

“Kalau instruksi saya ke kuwu-kuwu agar terus memantau dan melihat perkembangan di wilayahnya masing-masing. Sosialisasikan tentang pentingnya pendidikan karena anak-anak ini adalah aset kita ke depan. Merekalah yang akan meneruskan estafet pembangunan bangsa,” ungkapnya. (dri)