Pelabuhan Kota Besar Tjirebon yang Membuat Perbedaan

Pelabuhan Cirebon Tempo Dulu
Pelabuhan Cirebon Tempo Dulu

CIREBON-Kota Besar Tjirebon setara Bogor. Hanya sedkit di bawah Kota Besar Malang. Salah satu faktor penyebabnya ialah keberadaan pelabuhan. Yang memicu terjadinya perputaran barang dan jasa, juga bertumbuhnya sektor usaha secara signifikan.

Kota Cirebon sudah menjadi tujuan perdagangan dan jasa sejak lama. Hanya perlu sepuluh tahun setelah merdeka, untuk bisa menjadi kota berkembang. Yang kemudian menanggalkan status gemente menjadi kota besar. Pemaparan yang ditulis oleh Kepala Daerah Kota-Besar Bandung oleh RH Enofil, juga didukung J Mustofa. Yang ketika itu menjabat anggota DPRDS Kota-Besar Tjirebon.

Bahkan ketika itu sudah dirumuskan sebuah konektivitas dalam pengangkutan barang. Yang digadang-gadang menjadi penghubung pantura-priangan. Melalui jalur Kota Cirebon-Kadipaten melalui daerah Sumedang dengan daerah Priangan, yaitu Kota Bandung. Sayangnya, perencanaan ini dihambat. Karena kepentingan kemajuan Pelabuhan Tanjung Priok.

Yang menarik, dalam Lembaran Perajaan HUT ke-50 Kota Besar Tjirebon, disebutkan pula bahwa ketika itu sektor pariwisata sebetulnya sudah menggeliat. Meski baru sekadar ziarah. Dua tujuan utamanya ialah Makam Sunan Gunung Jati dan tradisi Maulid Nabi Muhammad SAW di keraton Cirebon.

Kemajuan Kota Besar Tjirebon ini juga diikuti dengan perubahan di kota pelabuhan lainnya, seperti Semarang dan Jakarta. Di usia ke-50 tahun, penduduk Karesidenan Cirebon mencapai 3,5 juta jiwa. Sedangkan Kota Besar Tjirebon berpenduduk 180 ribu.

Penghasilan bea cukai rata-rata Rp30 juta/bulan. Termasuk cukai tembakau. Sementara aktivitas ekspor impor menjadi lima besar kontributor utama perekonomian. Veem-Veem-bedrijf dan bank-bank sepanjang daerah pelabuhan adalam merupakan sektor-sekotr yang menguasai basis-basis ekonomi daerah.

Deretan toko-toko yang beraneka warna juga sudah hadir dan menjadi daya tarik, khususnya di sepanjang jalan Pasar Pagi, Karanggetas, Jagabayan, Pasuketan, Lemahwungkuk, Pasar Balong dan sebagainya. Sementara di Jl Pekalipan dan Pasar Kanoman dibanjiri toko-toko ikan asin.

Dapat disimpulkan perkembangan Kota Besar Tjirebon tidak lepas dari akses transportasi baik darat dan laut. Hal yang kini juga sedang kembali dirajut. Lewat terhubungnya Tol Trans Jawa, Bandara Internasional Kertajati. Hingga rencana pengembangan pelabuhan. Mampukah era kejayaan perdagangan itu kembali terulang? (myg/habis)