Pemimpin Muslim Dunia Bergerak Lawan Israel

ERDOGAN-AFP
Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan. FOTO: Yuri CORTEZ/AFP

ISTANBUL – Presiden Turki Reccep Tayyep Erdogan menegaskan, Israel harus bertanggung jawab atas sejumlah rakyat Palestina yang tewas di tangan penembak jitu Israel dalam pawai yang menandai 70 tahun penjajahan Israel.

“Israel harus bertanggung jawab atas pembunuhan yang memicu amarah masyarakat internasional itu,” kata Erdogan, saat berbicara di pertemuan istimewa Kerja Sama Organisasi Islam (OKI) di Istanbul, Selasa (21/5).

Dilansir laman Aljazeera, penembakan tersebut juga menyebabkan gelombang protes dari berbagi negara Asia, Timur Tengah sampai Afrika Utara. Untuk itu, ia mengajak pemimpin muslim di seluruh dunia untuk bersatu dan melawan Israel.

“Untuk mengambil tindakan atas pembantaian rakyat Palestina yang dilakukan penjahat Israel salah satunya adalah dengan menunjukan ke seluruh dunia bahwa kemanusiaan belum mati,” ujar Erdogan.

Presiden Turki itu menggambarkan, pembunuhan yang dilakukan Israel terhadap rakyat Palestina sebagai kejahatan, kekejaman dan teror negara. Ia juga mengatakan, hal ini akan menghantui Amerika Serikat (AS) yang mengakui Yerusalem sebagai ibukota Israel.

Dapat diketahui, pada Senin (20/5) sebanyak 62 orang termasuk lima anak-anak tewas dalam penembakan yang dilakukan tentara Israel. Lebih dari 2.700 pengujuk rasa terluka dalam pembantaian yang terjadi saat mereka berkumpul di garis gencatan senjata yang terletak antara Gaza dan Israel.

Para pengunjuk rasa itu memperingati hari Nakba, hari di mana paramiliter zionis melakukan pembersihan etnis orang Palestina pada 1948. Hal itu memaksa 750 ribu rakyat Palestina mengungsi dari tanah air mereka.

Beberapa kepala negara datang ke pertemuan di Istanbul. Tapi Arab Saudi, tuan rumah kelompok 57 negara anggota OKI hanya mengirim pejabat tinggi Kementerian Luar Negeri. Bahrain, Mesir, dan Uni Emirat Arab juga hanya mengirimkan pejabat Kementerian Luar Negeri mereka.

Dalam pertemuan tersebut Emir Qatar Sheikh Tamim bin Hamad Al Thani mengatakan penderitaan Palestina telah menjadi simbol penindasan rakyat di seluruh dunia. Ia juga mengencam pembantaian brutal Israel yang mereka lakukan terhadap pengunjuk rasa.

“Siapa di antara kita yang tidak tahu pengepungan yang dipaksakan di Jalur Gaza dan hukuman kolektif terhadap populasinya. Jalur Gaza diubah menjadi kamp konsentrasi besar jutaan orang yang kehilangan hak dasar mereka untuk berpergian, bekerja dan mendapatkan perawatan kesehatan,” kata Al Thani.

“Ketika putra mereka disebut teroris, dan ketika mereka melakukan unjuk rasa damai, mereka disebut ekstremis, dan ditembak mati dengan peluru tajam,” tambahnya.

Perdana Menteri Palestina Rami Hamdallah mengatakan, AS menjadi bagian dari masalah bukan dari solusi. Menurutnya, relokasi kedutaan besar Negeri Paman Sam itu tidak agresif terhadap negara Islam, melawan muslim, dan umat Kristen.

Raja Abdullah II dari Yordania juga mendesak, langkah darurat untuk mendukung perlawanan rakyat Palestina. Sementara itu, Presiden Iran Hassan Rouhani mengajak negara anggota OKI untuk mengambil langkah ekonomi dan politik melawan AS dan Israel.

OKI mengeluarkan pernyataan resmi meminta PBB meluncurkan penyelidikan internasional atas pembunuhan di Gaza dan membentuk pasukan perlindungan internasional untuk rakyat Palestina. Negara-negara OKI juga akan melakukan pembatasan ekonomi untuk negara, perusahaan atau individu yang mengakui aneksasi Israel di Yerusalem. (der/fin)