Pemkab Kuningan Bersama Pertamina Sidak Gas Melon, Ini yang Ditemukan

gas melon puasa
Ilustrasi gas melon. (dok radarcirebon.com)

KUNINGAN – Bagian Perekonomian Setda Kuningan melakukan sidak pendistribusian gas isi tiga kilogram alias gas melon di sejumlah wilayah Kabupaten Kuningan, kemarin. Hasilnya, masih ditemukan gas kiriman dari luar Kuningan di daerah perbatasan.

Kepala Bagian Perekonomian Setda Kuningan Toto Toharudin memimpin langsung sidak kali ini bersama Sales Executive LPG Pertamina Wilayah Ciayumajakuning Hamdan, Satpol PP dan juga dari kepolisian. Mengawali sidaknya, tim mendatangi salah satu pabrik tahu di Desa Jalaksana yang sebelumnya pernah mendapat teguran karena menggunakan gas melon untuk produksinya.

Hasilnya, di dapur yang memproduksi tahu untuk memenuhi pasar Kuningan dan Cirebon tersebut ternyata kini sudah tidak menggunakan gas melon dan beralih menggunakan gas nonsubsidi isi 12 kilogram. Atas hal tersebut, SE LPG Pertamina Hamdan memberikan penghargaan berupa merchendise dari Pertamina untuk pengusaha tahu tersebut.

“Tahun lalu saya sempat didatangi petugas sampai pingsan karena ketahuan pakai gas melon. Setelah itu saya tak berani lagi pakai gas melon dan beralih menggunakan gas 12 kilogram,” ungkap Wiwi, pemilik usaha tahu tersebut.

Wiwi mengaku sebelumnya menggunakan gas melon hingga 12 tabung per hari untuk produksi tahunya tersebut. Alasannya waktu itu, karena harganya lebih murah dan belum paham aturan jika penggunaan gas melon bukan untuk usaha berskala menengah ke atas.

“Waktu itu saya belum tahu ada aturan yang melarang penggunaan gas melon untuk usaha menengah seperti saya. Sekarang sudah tahu, jadi ikut aturan saja,” ujarnya.

Sidak tim gabungan Pemkab Kuningan dan Pertamina pun berlanjut ke salah satu pedagang bakso di Desa Bandorasa Wetan yang pernah ditemukan tumpukan gas melon beberapa waktu lalu. Dalam sidak kali ini petugas ternyata masih menemukan beberapa tabung saja di dapur, sedangkan untuk kompor di gerobak sudah menggunakan gas nonsubsidi 12 kilogram. Atas temuan tersebut, petugas kembali mengingatkan untuk tidak lagi menggunakan gas melon untuk usahanya.

Pemeriksaan distribusi gas pun berlanjut ke daerah Desa Tenjolayar, Kecamatan Pancalang, yang merupakan perbatasan dengan Kabupaten Cirebon. Di sana petugas berbincang dengan pemilik toko klontong yang juga menjual gas melon eceran yang ternyata ditemukan sebagian besar gas merupakan kiriman dari Cirebon.

“Selama ini saya dapat kiriman gas melon dari pedagang yang menggunakan motor asal Cirebon. Tapi sudah dua bulan ini tidak ada kiriman. Kadang ada lagi yang datang pakai motor, tapi paling dapat tiga hingga lima tabung saja,” ujar Memet pemilik toko klontong di Desa Tenjolayar yang mengaku harus menempuh perjalanan 3 kilometer untuk bisa membeli gas ke pangkalan terdekat di Mandirancan.

Atas temuan tersebut, Kabag Perekonomian Setda Kuningan Toto Toharudin mengatakan, hal ini menjadi catatan dan bahan pembahasan bersama pihak Pertamina untuk mencari solusinya ke depan. Menurutnya, temuan adanya kiriman gas dari luar daerah tentu melanggar aturan, namun menjadi dilema karena menyangkut kebutuhan hidup masyarakat di sana.

“Untuk solusinya kita perlu hadirkan minimal satu agen di setiap desa. Terutama untuk daerah-daerah pinggiran yang berbatasan dengan kabupaten lain, sehingga kebutuhan gas bisa kita penuhi tanpa harus dipasok dari luar Kabupaten Kuningan,” ujar Toto.

Terkait penggunaan gas elpiji di sejumlah tempat usaha, Toto mengapresiasi sudah ditemukan banyak perubahan positif para pengusaha mengalihkan penggunaan gasnya ke non subsidi. Sekalipun masih ditemukan beberapa masih menggunakan gas melon, Toto berharap mereka bisa secepatnya beralih.

“Alhamdulillah sudah ada perbaikan, warung bakso ini mengurangi penggunaan gas melon dari sebelumnya hingga 15 tabung menjadi beberapa tabung saja. Namun ini masih menjadi catatan kami mengingat penghasilan usaha bakso tersebut bisa mencapai 1,5 juta per bulan, seharusnya semuanya menggunakan gas nonsubsidi,” tegas Kabag yang memastikan sidak semacam ini akan terus dilakukan dengan sasaran wilayah lain. (fik)

Berita Terkait