Pemkab Kuningan MembangunTerminal Wisata Tetap di Silumping

KUNINGAN – Rencana Pemerintah Kabupaten Kuningan membangun terminal wisata terpadu di Desa Paniis, Kecamatan Pasawahan, mendapat penolakan warga. Pasalnya, lahan yang akan digunakan merupakan kawasan pertanian produktif.

“Kami trauma dengan kejadian beberapa tahun lalu yang menyebabkan banyak lahan produktif di Desa Paniis harus beralih fungsi, di antaranya untuk balai pembenihan dan pembibitan ikan serta embung yang manfaatnya lebih banyak dirasakan oleh desa tetangga.

Sekarang ditambah lagi untuk terminal wisata, kami sangat keberatan jika lahan produktif di Desa Paniis semakin berkurang yang berdampak pada pendapatan desa,” ungkap Saap mewakili warga Paniis kepada kepada Radar Kuningan, kemarin (19/7).

Saap mengungkapkan, sebenarnya masyarakat Desa Paniis tidak keberatan dengan adanya rencana pembangunan terminal wisata yang awalnya disepakati akan memanfaatkan lahan tidur di Blok Bubulak. Namun persoalan muncul saat ada perubahan rencana mengalihkan proyek tersebut ke Blok Silumping yang merupakan lahan produktif milik desa.

“Pada bulan Mei, tiba-tiba petugas Dishub melakukan pengukuran tanah di Blok Silumping yang merupakan tanah produktif untuk dijadikan terminal wisata.

Atas hal tersebut, Kepala Desa kemudian mengadakan pertemuan dengan anggota BPD dan juga tokoh masyarakat membahas peralihan lokasi proyek terminal wisata dan menghasilkan kesepakatan menolak,” ungkap Saap.

Menurut Saap, warga tidak keberadaan jika lokasi terminal tersebut di Blok Bubulak yang selama ini hanya tanah lapang dan tidak bisa ditanami.

Sedangkan lahan di Blok Silumping yang berada tak jauh dari gapura Desa Paniis merupakan tanah produtif yang selama ini ditanami padi yang bisa dipanen hingga tiga kali dalam setahun.

“Kalau memang pemerintah bersikeras ingin menggunakan lahan tersebut untuk terminal, setidaknya ada penggantian yang nilainya sama dengan lahan tersebut. Kami ingin lahan pertanian diganti dengan lahan pertanian lagi. Kalau tidak mau, kami juga tidak keberatan kalau proyek terminal wisata ini dipindahkan ke desa lain,” ujar Saap.

Sementara itu, Kepala Dinas Perhubungan (Kadishub) Kuningan Deni saat dikonfirmasi terkait reaksi warga Paniis tersebut menganggap hal yang wajar sebagai catatan berharga dan bahan pertimbangan Pemerintah Kabupaten Kuningan.

Namun demikian, Deni berharap, masyarakat Paniis bisa mengerti kebutuhan pembangunan Terminal Wisata Terpadu untuk mendukung perkembangan wisata wilayah Paniis dan sekitarnya ke depan.

“Kami menganggap wajar adanya pro dan kontra di masyarakat terkait proyek Terminal Wisata Terpadu ini dan menjadi catatan berharga untuk kami. Namun demikian, keputusan kami memilih lokasi di Blok Silumping karena pertimbangan letak geografis yang dinilai strategis dibanding Blok Bubulak yang berada menjorok ke dalam dan kurang punya nilai jual.

Adapun keberatan warga terkait lokasi yang digunakan merupakan lahan produktif, kami telah melakukan kajian dengan melibatkan Dinas Pertanian untuk mencari solusinya,” ungkap Deni.

Dijelaskan Deni, pembangunan Terminal Wisata Terpadu di Desa Paniis tersebut direncanakan sudah bisa dilaksanakan tahun ini.

Proyek senilai Rp7 miliar sumbangan dari Pemerintah Provinsi tersebut, kata Deni, diharapkan bisa menjadi salah satu daya ungkit kemajuan pariwisata di wilayah Utara Kuningan menyusul beroperasinya Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati di Kabupaten Majalengka.

“Seperti kita ketahui, wilayah Kecamatan Pasawahan mempunyai banyak potensi wisata seperti Desa Wisata Cibuntu, Paniis, Bukit Seribu Bintang hingga Kebun Raya Kuningan (KRK) di Padabeunghar, sehingga dibutuhkan akses jalan yang memadai.

Oleh karena itu, keberadaan Terminal Wisata Terpadu ini diharapkan bisa menjadi sarana pendukung kemajuan pariwisata di wilayah Utara Kuningan sebagai tempat transit bus-bus wisata maupun komersil lain seperti AKAP dan AKDP dari Bandung dan BIJB Kertajati serta kota besar lainnya, sehingga para wisatawan semakin mudah berkunjung ke sini,” ungkap Deni.

Adapun luas lahan yang akan digunakan untuk proyek tersebut, Deni mengatakan, hanya sekitar 2 hektare saja. Oleh karena itu, Deni pun berharap partisipasi masyarakat Desa Paniis mendukung proyek tersebut, sementara pihaknya bersama instansi terkait mencari solusi untuk penggantian lahan produktif yang akan terpakai tersebut.

“Insya Allah proyek pembangunan Terminal Wisata Terpadu ini akan mulai dilaksanakan tahun ini. Kami bersama Pak Bupati juga sudah bertemu dengan warga Paniis untuk pemantapan proyek tersebut, sekalipun masih ada pro dan kontra, sambil berjalan kita cari solusi terbaik,” pungkas Deni. (fik)