Pemprov Jabar Cetak 250 Ribu Petani Milenial

ILUSTRASI-Petani Milenial

CIREBON-Pemerintah Provinsi Jawa Barat menargetkan 250 ribu petani milenial di tahun 2019. Program tani milenial adalah upaya pemerintah terhadap anak muda agar memiliki kemampuan usaha bertani maupun beternak, sehingga mampu menumbuhkan perekonomian bangsa.

Demikian disampaikan Kepala Balai Besar Pengkajian dan Pengetahuan Teknologi Pertanian (BBP2TP) Kementan Haris Syahbuddin usai sosialisasi bantuan ayam di kantor Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten Cirebon, belum lama ini.

Menurutnya, Program Petani Milenial merupakan program arahan Presiden Joko Widodo untuk menyiapkan generasi muda menghadapi era revolusi industri 4.0. Berbagai upaya dari seluruh unit kerja di jajaran pemerintahan, termasuk Kementerian Pertanian melakukan persiapan bagi generasi yang akan memimpin Indonesia pada 2030 mendatang.

“Program Petani Milenial ini untuk mempersiapkan dan mendorong para petani muda berusia 19-39 tahun untuk memasuki pasar ekspor. Dan juga agar anak muda tertarik dengan bisnis di sektor pertanian,” ujar Haris.

Dia menjelaskan, program Petani Milenial bertujuan untuk peningkatan kemampuan pemuda tani berorientasi ekspor yang dilakukan serentak diseluruh Indonesia.  Dalam upaya akselerasi ekspor komoditas pertanian, Kementan terus berupaya meningkatkan peran serta seluruh stakeholder untuk berperan aktif dalam pemenuhan persyaratan ekspor negara mitra dagang.

“Pemuda tani adalah salah satu stakeholder strategis dalam perdagangan global. Dengan potensi yang dimiliki berupa penguasaan teknologi informasi, memahami modernisasi, dan lain sebagainya,” terangnya.

Dengan gerakan Tani Milenial ini Kementan berharap mampu memberikan kontribusi pada peningkatan capaian di tahun akhir 2019 dari total  ekpor komoditas pertanian senilai Rp499,37 triliun di tahun 2018.

“Dengan talenta dan karakteristik generasi milenial, pendampingan ini bakal mampu meningkatkan daya saing di pasar global. Potensi generasi muda dan resource yang ada di Indonesia ini merupakan suatu berkah yang harus kita syukuri dan kita maksimalkan,” tuturnya.

Saat ini, tambah Haris, petani tidak cukup hanya mengolah dengan cangkul saja. Namum juga petani harus berani beralih dengan alat modern lainya. Agar pengelolaan pertanian lebih efektif dan mampu bersaing dengan petani yang sudah milenial.

“Di era industrialisasi ini. Petani harus mampu meningkatkan efektivitas sumber daya pertanian agar mampu bersaing, mampu meningkatkan daya jual. Baik itu di sektor pertanian yang meliputi  peternakan, perikanan dan perkebunan serta lainnya,” pungkasnya. (sam)

Berita Terkait