Penderita TBC Kebanyakan Usia Produktif

ILUSTRASI

CIREBON-Di tahun 2017, Tuberculosis (Tbc)  menyebabkan sekitar 1,3 juta kematian, dengan HIV negatif sekitar 300 ribu kematian dan sisanya, HIV positif.

Diperkirakan terdapat 10 juta kasus Tbc baru setara dengan 133 kasus per 100 ribu penduduk. Di tingkat global, di tahun 2017 terdapat sekitar 558 ribu kasus baru Tbc Rifampisin Resistan di mana hampir separuhnya ada di tiga negara yaitu India (24 persen), Tiongkok (13 persen), dan Rusia (10 persen).

Di antara kasus Tbc RR, diperkirakan 82 persen kasus tersebut adalah TBC MDR. Secara global, 3.6 persen kasus Tbc baru dan 17 persen kasus Tbc pengobatan ulang merupakan kasus Tbc MDR/RR. WHO memperkirakan insiden tahun 2017 sebesar 842 ribu atau 319 per 100.000 penduduk menderita Tbc. Sedangkan TBC-HIV sebesar 36 ribu kasus per tahun atau 14 per 100.000 penduduk.

Ketua Pelaksana Peringatan Hari Tuberkulosis Sedunia Tahun 2019 Rumah Sakit Paru Sidawangi Provinsi Jawa Barat dr Hj Tati Sudiarti Sp P MARS mengungkapkan, angka penderita Tbc perlu terus ditekan.

Targetnya di tahun 2020 mengurangi insiden pasien Tbc, kemudian di 2030 Indonesia bisa mengeliminasi angka penderita Tbc, dan di 2050 indonesia bisa bebas Tbc. “Saat ini masih banyak masyarakat yang enggan dan malu untuk memeriksakan diri. Padahal penyakit ini bisa terjadi pada siapapun dan harus segera diobati tanpa putus,” ujarnya kepada Radar Cirebon.

Beberapa masyarakat pun masih belum mengetahui bagaimana gejala Tbc. Gejala umumnya batuk tak henti selama dua pekan disertai demam. Kemudian muncul batuk darah, dada nyeri, dan sesak nafas. Bila, selama dua minggu tidak sembuh pasien harus segera dilakukan pemeriksaan GeneXpert.

Melalui pemeriksaan tersebut maka akan didapatkan hasil pemeriksaan, ada dua jenis TB yakni TB sensitif obat yakni yang masih bisa diobati dengan obat selama 6 bulan pengobatan dan TB resisten (MDR) yang resisten terhadap obat dan harus dilakukan perawatan lebih lanjut. “Sejauh ini mayoritas pasien berusia produktif antara 20-50 tahun. Tapi Tb bisa saja terjadi pada berbagai usia dan jenis kelamin, tanpa terkecuali,” ungkapnya.

Terjadinya Tb biasanya dikarenakan oleh lingkungan yang tak sehat, gizi buruk, atau tertular. Jika dalam satu keluarga ada yang terdiagnosa TB maka ada kemungkinan anggota keluarga lainnya bisa tertular melalui udara. “Saat daya tahan tubuh menurun dan ada kuman sumber infeksi masa bisa saja tertular Tb,” terangnya.

Dalam menghindari Tb tentu masyarakat dihimbau untuk mulai membiasakan hidup di lingkungan sehat dengan memulai pola hidup sehat dan bersih. Menjaga daya tahan tubuh dengan makan makanan yang bergizi juga harus dilakukan.

Sementara itu, Sekretaris Dinkes Provinsi Jawa Barat, Uus Sukmara menuturkan, pemerintah telah memberikan perhatian lebih pada Tb ini. Pengobatan saat ini sudah bisa didapatkan oleh masyarakat secara gratis. “Jangan takut untuk biaya berobat karena sudah gratis, dan segera periksa kalau sudah merasakan gejalanya,” ungkapnya.

Saat ini mindset masyarakat terhadap penyakit TB masih menganggap penyakit masyarakat tak mampu, padahal penyakit ini bisa terjadi pada siapapun. Hal ini karena pola hidup seseorang. (apr)