Pengamat Pertanian IPB: Revolusi Industri 4.0 Berpotensi Hadirkan Middleman yang Rugikan Petani

Pengamat pertanian Institut Pertanian Bogor (IPB) Dwi Andreas Santosa menilai pemanfaatan revolusi industri 4.0 melalui “marketplace” untuk mengurangi rantai pasok pertanian justru berpotensi menghadirkan “middleman” atau pedagang perantara yang mengambil keuntungan petani.

“Persoalan besarnya, seberapa besar petani bisa melakukan ini. Yang ditakutkan nanti ada perantara, dalam arti bukan petani sendiri yang memasarkan produk pertaniannya, melainkan ‘middleman’ yang akhirnya di marketplace tersebut,” kata Dwi saat dihubungi Antara di Jakarta, Senin (18/2/2019).

Dalam debat capres putaran kedua yang digelar pada Minggu, calon presiden nomor urut 01 Joko Widodom encontohkan revolusi industri melalui “marketplace” atau pasar daring dapat diperkenalkan pada petani agar mengurangi rantai pasok yang mengakibatkan tingginya harga pangan di tingkat konsumen.

Guru Besar IPB tersebut menjelaskan revolusi industri 4.0 memang bermanfaat untuk memangkas rantai pasok dan memungkinkan petani menjual produknya langsung ke konsumen tanpa perantara.

Namun di sisi lain, ia melihat bahwa petani yang memiliki fasilitas internet dan mengakses pasar daring sangatlah kecil atau berkisar 1 persen dari total petani di Indonesia.

Selain itu, proses penjualan produk pertanian secara daring memang selalu ada pihak perantara yang mengumpulkan produk-produk tersebut dari petani kemudian dipasarkan ke konsumen dengan margin yang menguntungkan mereka.

“Justru ‘middleman’ yang menampung produk-produk petani kemudian memasarkannya lewat online. Itu yang perlu jadi perhatian karena kenyataannya akses petani kecil di ‘on farm’ terhadap internet masih kecil,” kata Dwi dilansir dari Antara.

Dalam debat segmen 2 soal pangan, capres nomor urut 01 Joko Widodo menyatakan bahwa pemerintah sudah membangun Palapa Ring yang terhubung sampai Indonesia bagian timur. Jaringan telekomunikasi 4g pun sudah menghubungkan 74 persen kabupaten/kota.

Oleh karena itu, Jokowi optimistis bahwa revolusi industri 4.0 yang didukung dengan sistem IT dapat memberi kesempatan para umkm termasuk di sektor pertanian untuk terhubung langsung dengan konsumen melalui pasar daring.

Sementara itu, capres nomor urut 02 Prabowo Subianto menegaskan bahwa saat ini pemerintah Indonesia masih belum bisa membela hak-hak petani dan menjamin harga pangan yang terjangkau.

Saat disinggung mengenai persiapan menghadapi revolusi industri 4.0, Prabowo menegaskan kecerdasan buatan dan munculnya industri robotik tentunya berdampak pada pengurangan pekerja. Namun di atas itu semua, menurut Prabowo kesejahteraan petani harus diutamakan.[]