Penganut Teori Bumi Datar Berlayar ke Antartika Melihat “Ujung Bumi”

Youtube

Penganut Bumi datar sudah ada sejak beberapa tahun lalu. Zaman Mesir Kuno, peradaban Mesopotamian (abad ke-8 sebelum Masehi) orang-orang di Mesir Kuno beranggapan bahwa dunia mereka berbentuk seperti piring yang dikelilingi oleh laut.

Dalam Mesir Kuno, Laut yang mengelilingi daratan disebut Kun (yang berarti laut). Sedangkan daratan disebut sebagai nbwt (yang berarti tanah kering).Pemikiran seperti ini tidak hanya dianut orang Mesir Kuno, namun orang Israel Kuno pun juga mempercayai hal yang sama. Belahan bumi lain juga sama. Pada zaman itu belum ada pemikiran mengenai bumi yang berbentuk bulat. Yunani juga meyakini bahwa bentuk bumi adalah piringan.

Namun bagi bangsa India Kuno beranggapan bahwa bumi adalah sebuah piringan yang terdiri dari 4 benua yang dikelompokkan di sekitar Gunung Meru yang bentuknya seperti kelopak bunga.

Sementara, anggapan orang Norwegia Kuno dan German Kuno mayakini bahwa bumi itu seperti piringan, namun perbedaannya yakni bumi memiliki pusat atau penunggak sebuah pohon raksasa yang disebut Ygdrassil. Lalu di sekeliling lautannya bersemaya Ular Raksasa yang disebut Jormungadr.

Sedangkan, masyarakat Cina Kuno menganggap bumi berbentuk datar kotak. Kepercayaan bumi datar kotak ini berlangsung sangat lama, hingga pada abad 17 ketika salah seorang astronom Eropa mengenalkan bentuk bumi adalah buat.

Kini, Flat Earth atau bumi datar mulai dikenal lagi ketika seorang penulis bernama Samuel Rowbotham menulis sebuah buku berjudul “Zetetic Astronomy” (Zetetic = Keraguan). Rowbotham juga menghasilkan penelitian yang diakui untuk menunjukkan bahwa efek dari kapal menghilang di bawah garis horizon dapat dijelaskan oleh hukum perspektif dalam kaitannya dengan mata manusia. Pada tahun 1883, Rowbotham mendirikan Zetetic Societies di Inggris dan New York sebagai wadah yang menaungi perkumpulan para penganut Bumi Datar. Kemudian salah satu pengikut dari Rowbotam yakni William Carpenter pada tahun 1864 menerbitkan buku “Theoretical Astronomy Examined and Exposed – Proving the Earth not a Globe” yang ia bagi menjadi 8 bagian. Pada tahun 1885 William Carpenter kembali menerbitkan buku “A Hundred Proofs the Earth is Not A Globe”.

Buku “A Hundred Proofs the Earth is Not A Globe” karya William Carpenter

Kemudian pada tahun 1956, Samuel Shenton mendirikan International Flat Earth Research Society (IFERS) yang lebih dikenal dengan Flat Earth Society (FES). Namun pada tahun 2000an, FES sempat mengalami penurunan dikarenakan terjadi kebakaran pada markas besarnya dan kematian salah satu pengganti Samuel Shenton yakni Charles K. Johnson. Namun pada tahun 2004, FES kembali dibangkitkan sebagai forum website oleh Daniel Shenton. Hal ini menyebabkan peluncuran resmi website dan wiki FES pada tahun 2009.

Uniknya, penganut kepercayaan Bumi datar ini semakin banyak dan YouTube dianggap bertanggung jawab atas ini.

Beberapa waktu lalu, kelompok penganut teori Bumi datar yang tergabung dalam Flat Earth International Conference (FEIC) baru saja mengumumkan akan berlayar ke Antartika.

Tujuannya adalah untuk melihat langsung “ujung Bumi” yang mereka yakini berupa dinding es raksasa bernama Antartika.

Pelayaran yang dijadwalkan untuk tahun 2020 itu menjanjikan petualangan yang menyenangkan bagi seluruh partisipan karena dilengkapi dengan restoran, kolam renang dan ombak buatan.

Ironisnya, kapal yang akan digunakan oleh FEIC, seperti kapal pada umumnya, akan menggunakan sistem navigasi yang berpatok pada prinsip bahwa Bumi itu bulat.

Dilansir dari The Guardian berjudul All aboard the Flat Earth cruise – just don’t tell them about nautical navigation Kamis (10/1/2019), Henk Keijer yang merupakan mantan kapten kapal selama 23 tahun dan kini pakar forensik kelautan untuk Robson Forensic mengatakan, kapal bernavigasi dengan prinsip bahwa Bumi itu bulat. Peta laut juga dirancang dengan prinsip itu: bahwa Bumi itu bulat.

Dia lanjut menjelaskan bahwa keberadaan sistem pemosisi global (GPS) sendiri membuktikan bahwa Bumi itu bulat, bukan datar.

Pasalnya, untuk menentukan sebuah lokasi, GPS sebetulnya hanya memerlukan setidaknya tiga satelit. Namun dikarenakan bentuk bumi yang bulat, GPS pun menggunakan data dari 24 satelit yang mengorbit bumi untuk mengetahui semua informasi posisi dan navigasi di berbagai belahan dunia.

“Jika Bumi ini datar, hanya butuh tiga satelit untuk memberikan informasi ini ke semua orang. Tapi tiga tidak cukup karena Bumi itu bulat,” ujarnya.

Selain itu seperti dilansir dari Live Science berjudul Flat-Earthers’ Cruise Will Sail to Antarctica ‘Ice Wall’ at the Planet’s Edge. Right Jumat (22/3/2019), para cendekiawan Yunani telah membuktikan bentuk bumi yang bulat 2.000 tahun lalu. Lagipula, gravitasi yang menarik kita semua agar tidak terlepas dari Bumi ini hanya bisa terjadi bila Bumi bulat.

 

(*)