Penolakan atas Penamaan Baru KA Argojati, Kurang Sensitif dan Kemunduran

Penumpang Kereta Api Argojati mengakhiri perjalanan di Stasiun Kejaksan. PT KAI dalam waktu dekat akan mengganti nama Argojati menjadi Argo Cheribon yang disingkat Gocher. FOTO:OKRI RIYANA/RADAR CIREBON
Penumpang Kereta Api Argojati mengakhiri perjalanan di Stasiun Kejaksan. PT KAI dalam waktu dekat akan mengganti nama Argojati menjadi Argo Cheribon yang disingkat Gocher.FOTO:OKRI RIYANA/RADAR CIREBON

CIREBON-Logo buah cery disematkan sebagai penganti huruf “o” dalam akronim Go Cher, yang merupakan branding baru dari Argo Cheribon. Penamaan ini pun memantik polemik. Lantaran ketidaksesuaian dengan identitas Cirebon itu sendiri.

Nama Argo Jati diambil dari nama bukit Gunung Jati. Bukit ini berkaitan dengan Syarief Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati, salah satu dari Wali Songo yang menyebarkan agama Islam di Jawa Barat, dan dimakamkan di sana.

Kereta eksekutif relasi Cirebon-Jakarta (pulang pergi) resmi menyandang nama ini, mulai 12 April 2007. Yang hingga kini akrab di tengah masyarakat. Juga sudah menjadi salah satu ikon Cirebon. Perubahan atas penggunaan brand kereta Cirebon tersebut, sempat dilakukan 3 November 2010. Tetapi hanya menyematkan kata new sebagai bentuk perubahan imej KA Argojati (New Argojati). Namun, perubahan kedua tak sampai memantik polemik ataupun penolakan.

Sampailah pada beredarnya promosi perubahan imej terbaru dari KA Argojati yang akan dilakukan pada 16 Agustus 2019. Kereta eksekutif itu akan berganti nama menjadi Argo Cheribon. Yang lantas dipertanyakan sejumlah budayawan.

PT Kereta Api Indonesia (KAI) beralasan, rebranding merpakan upaya perusahaan untuk mengubah atau memperbaharui sebuah brand yang telah ada. Agar menjadi lebih baik dengan tidak mengabaikan tujuan awal perusahaan, yaitu pelayanan dan profit.

Hal ini yang dilakukan oleh PT KAI Daop III Cirebon, dengan meleburkan nama dari KA Argo Jati, Cirebon Ekspres dan Tegal Bahari menjadi Argo Cheribon. Humas PT KAI Daerah Operasional (Daop) III Cirebon Kuswardoyo menjelaskan, terkait proses rebranding ini, penamaan atas usulan dari masyarakat pengguna moda transportasi kereta api.

Rebranding ini, tidak sekadar perubahan nama. PT KAI mengakomodir juga penambahan tempat tempat duduk (seat) yang cukup signifikan. Seperti diketahui banyak keluhan seputar calon penumpang yang tidak kebagian tiket, terutama jelang akhir pekan.

“Banyak calon penumpang yang meyngeluhkan tidak kebagian tiket kereta api, terutama pada akhir pekan. Ini yang menjadi dasar pemikiran manajemen untuk merubah nama dari ketiga KA tersebut menjadi Argo Cheribon,” kata Kuswardoyo.

Kenapa diambilnya nama Cheribon? Kuswardoyo mengungkapkan, pada zaman dahulu Stasiun Cirebon penulisan namanya adalah Stasiun Cheribon. Jadi diputuskan kembalikan lagi penamaannya seperti semula.

Untuk perubahan ini, tidak memerlukan izin dari Kementerian Perhubungan (Kemenhub) maupun Direktorat Jenderal (Dirjen) Perkeretaapian, pasalnya tidak ada perubahan rute semula. Ditambahkannya juga, KA Argo Cheribon ini akan disingkat lagi menjadi GoCher. Hal ini dimaksudkan untuk mempermudah penumpang mengingat dan lebih familiar didengar.

Halaman: 1 2 3 4
[adrotate banner="13"]

Berita Terkait