Pentas Seni Milangkala Desa Linggarjati Banjir Apresiasi

pentas-seni
BUDAYA DAERAH: Milangkala Desa Linggarjati, Kecamatan Cilimus, Kabupaten Kuningan dimeriahkan dengan pagelaran seni dan budaya tradisional di Alun-alun Desa Linggarjati. Foto: Agus Panther/Radar Kuningan

KUNINGAN – Milangkala ke-518 Desa Linggarjati, Kecamatan Cilimus, Kabupaten Kuningan, diisi sejumlah pagelaran seni dan budaya tradisional. Acara ulang tahun yang mendapat apresiasi dari warga setempat tersebut berlangsung di Alun-alun Desa Linggarjati.

Berbagai kesenian tradisional dipertontokan kepada warga yang memadati lokasi. Seperti Tari Topeng hingga Kaulinan Budak Lembur, serta sejumlah tarian tradisional lainnya. Milangkala ini juga mendapat perhatian dari sultan dan raja dari sejumlah daerah di Indonesia.

Dalam kesempatan ini, hadir Bupati Acep Purnama, Wakil Bupati M Ridho Suganda, Sultan Sepuh XIV Pangeran Raja Adipati Arief Natadiningrat, Raja Maros Aa Panareka dari Sulawesi Selatan, Camat Cilimus Eny Sukarsih, kepala Desa Linggajati, serta tokoh masyarakat.

Milangkala ke-518 Desa Linggarjati ini digagas Karang Taruna Desa Linggajati, Purbadireja. Tamu undangan yang hadir terpesona dengan penampilan dari para penari tradisional.

Bupati Acep Purnama mengapresiasi Karang Taruna Pubadireja yang mampu menginisiasi kegiatan bernuansa kebudayaan ini. Sehingga, generasi muda dapat terus merawat dan menjaga nilai-nilai tradisi budaya daerah.

“Di saat zaman modern sekarang ini, masih ada pemuda yang mau menggali sejarah desa, khususnya Desa Linggajati, mengingat sejarah di masa lalu. Mari kita menghormati dan menjungjung tinggi sejarah yang telah ditorehkan oleh para perintis, yang telah menanamkan sebuah nasihat dan ajaran yang perlu dilanjutkan hingga saat ini,” beber bupati.

Dia menilai, Linggarjati memiliki sejarah sangat panjang dan memiliki nilai yang sangat luar biasa dengan diadakannya Perundingan Linggajati.

“Semoga kegiatan ini akan menjadi pengingat dalam mewujudkan cita-cita para pendiri bangsa, untuk terus lestarikan wilayah dan menyejahterakan masyarakat. Pepatah Hana Nguni Hana Mangke, Tan Hana Nguni Tan Hana Mangke, Aya Ma Baheula Aya Nu Tu Ayeuna, Heunteu Ma Baheula Heunteu Tu Ayeuna. Artinya, ada dahulu ada sekarang, bila tidak ada dahulu tidak akan ada sekarang, karena ada masa silam, maka ada masa kini, bila tidak ada masa silam takan ada masa kini,” ungkapnya.

Sementara, Sultan Sepuh, Pangeran Raja Adipati Arief Natadiningrat juga mengapresiasi karena unsur jajaran pemerintah desa dan lainnya yang telah menggali dan mengingat sejarah Desa Linggajati. Sekaligus ingin mengetahui situasi Desa Linggajati saat ini.

“Jadi, di Desa Linggajati ini sudah ada peradaban, baik sebelum Sunan Gunung Jati dan setelahnya dalam sejarah yang panjang. Generasi muda melalui Karang Taruna Purbadireja bahu membahu dengan Keraton Kasepuhan untuk menyusun sejarah Desa Linggajati. Terdiri dari beberapa tim untuk menggali sejarah Desa Linggajati, baik dari situs cagar budaya yang ada dan naskah kuno Kuningan-Cirebon,” ujarnya.

Pihaknya juga sepakat untuk bersama-sama mempromosikan destinasi wisata di Kuningan maupun Cirebon. “Baik dari wisata sejarah dan budaya kita angkat, untuk menjadikan Desa Linggajati menjadi desa wisata. Sekaligus sebagai salah satu penggerak ekonomi untuk mensinergikan antara Cirebon dan Kuningan, memaksimalkan potensi dari kuliner, kerajinan, wisata, pegunungan, pantai, kesenian dan destinasi wisata lain,” tutup sultan. (ags)

Berita Terkait