Penyusutan Lahan Masif, dari Target 3 Juta Kuintal, Produksi Kurang dari 2 Juta Kuintal

SAMPAIKAN TARGET: Ketua DPC Aptri PG Tersana Baru, H Mulyadi (pakai kopiah) menyampaikan beberapa program dari Pengurus DPC Aptri menyambut musim giling tahun 2019. FOTO: ANDRI WIGUNA/RADAR CIREBON
SAMPAIKAN TARGET: Ketua DPC Aptri PG Tersana Baru, H Mulyadi (pakai kopiah) menyampaikan beberapa program dari Pengurus DPC Aptri menyambut musim giling tahun 2019.FOTO: ANDRI WIGUNA/RADAR CIREBON

CIREBON-Pengurus DPC Aptri PG Tersana Baru pesimis luas lahan tebu yang ada bisa mencukupi kuota giling tebu tahun 2019, yang mulai digelar beberapa bulan ke depan.

Itu karena makin menyusutnya lahan tebu yang ada. Tidak sedikit juga yang sudah berganti lahan pertanian komoditi lain.

Ketua DPC Aptri PG Tersana Baru, H Mulyadi saat ditemui Radar Cirebon mengatakan, luas lahan tebu di wilayah PG Tersana Baru hanya sekitar 2.000 hektar lebih.

Dengan estimasi perhektarnya, bisa menghasilkan 600 kuintal, maka hasilnya belum cukup untuk memenuhi target yang sudah ditentukan.

“Jika dihitung, masih di bawah 2 juta kuintal. Kita masih butuh banyak TDL  (tebu dari luar, red) untuk bisa sampai 3 juta kuintal. Giling itukan nanti tanpa berhenti selama 120 hari,” ujarnya, kemarin.

Diakuinya, lahan tebu setiap tahunnya terus menyusut. Hal ini dikarenakan beberapa faktor, di antaranya banyak petani yang beralih komoditi tanaman hingga ada beberapa petani yang tidak lagi menanam tebu, karena terus merugi.

“Ini masalah klasik. Luas lahan tebu terus berkurang karena alih komoditi tanaman. Jumlahnya terus bertambah. Misal untuk tanaman bawang merah, akhirnya kita tergantung dengan TDL (tebu dari luar),” imbuhnya.

Selain itu, dalam Rakercab DPC Aptri tersebut, para petani mendesak para pengurus Aptri agar bisa menyampaikan tuntutan para petani terkait permintaan kenaikan harga jual gula.

Para petani juga meminta para pengurus mendesak pemerintah untuk mengumumkan harga jual beli tersebut, sebelum musim giling tebu dimulai.

“Setiap masukan dari teman-teman petani akan kita sampaikan dan akan kita perjuangkan. Ini demi petani. Petani harus sejahtera dan harus untung agar industri gula lokal tetap lestari.

Untuk harga jual mengacu kepada HPP yang akan ditetapkan oleh pemerintah. Permintaan petani sekitar Rp10.500,” bebernya.

Jumlah 10.500 tersebut, menurut Mulyadi, sudah melalui kajian dari tim akademisi, profesional, dan beberapa pihak terkait yang menghitung biaya pokok produksi harus di atas Rp10.000.

“Kalau tahun lalu harganya sekitar Rp9.700. Harapan kita, tahun ini sesuai dengan hasil kajian akademisi dan profesional. Angkanya harus lebih dari Rp10.000.

Ini yang akan kita perjuangkan. Selain itu, proteksi lahan tebu juga sangat penting, mengingat untuk kelangsungan pabrik gula, tentu sangat bergantung dengan keberadaan lahan tebu,” jelasnya.

Sementara itu, Ropi’I, salah satu petani yang ditemui Radar Cirebon meminta pihak-pihak terkait bisa memberikan kemudahan bagi para petani tebu, baik dari sisi kredit, pupuk dan lainnya agar para petani bisa maksimal dalam menggarap lahan.

“Kalau mau hasilnya maksimal, semuanya harus tepat waktu. Kreditnya, biaya garap, pupuk dan lain-lain diberikan tepat waktu. Kalau telat ya otomatis berpengaruh juga pada hasilnya nanti,” ungkapnya. (dri)