Perbaiki Kualitas Jalan di Kota Cirebon Dimulai dari Proses Lelang

Petugas DPUPR Kota Cirebon menambal lubang di Jl Cipto. FOTO: RADARCIREBON.COM
Petugas DPUPR Kota Cirebon menambal lubang di Jl Cipto. FOTO: RADARCIREBON.COM

CIREBON-Jalan yang cepat berlubang dan rusak, salah satunya disebabkan oleh ketebalan jalan yang kurang memadai. Sehingga bila terkena hujan atau beban kendaraan, jalan yang baru dibuat cepat rusak alias tidak bertahan lama.

Salah satu pengusaha jasa konstruksi, Yuyun Wahyu Kurnia mengungkapkan, banyaknya fasilitas umum khususnya jalan yang cepat rusak, harus dilihat dari proses awalnya terlebih dahulu. Yakni pada proses tender atau pelanggan pekerjaan.

Diyakininya, kesalahan dari pihak yang berwenang melelang pekerjaan, dengan memenangkan kontraktor yang berani menawar dengan harga paling rendah, menjadi awal permasalahannya. Betapa tidak, limit pagu dibawah 80 persen bisa dimenangkan.

“NIlai 85 persen di bawah pagu memang ini harga kompetitif, tapi ini akan berefek domino sampai pelaksanaannya. Belum lagi nanti dipotong PPN dan PPh. Jadi berapa keuntungan yang akan didapatkan kontraktor,” ujarnya kepada Radar Cirebon.

Dari sini menurutnya berawal, kontraktor akan mengambil keuntungan dari pengurangan volume material maupun waktu pekerjaan. Ini yang membuat kualitas proyek seperti pembuatan jalan cepat rusak. Terkait ketebalan jalan, dari pengalamannya untuk ketebalan idealnya memang sekitar 7 cm. Hitungannya akan bertahan lama walaupun diguyur hujan dan volume arus lalulintas yang padat.

Namun, ini juga terkait anggaran yang tersedia dari hasil lelang tersebut. Bila menurut pagu anggaran saja itu sudah pas pasan, bagaimana mungkin bila ada yang berani dibawah pagu. Ini yang membuat kualitas proyek menjadi buruk.

Belum lagi, kata dia, dengan anggaran yang minim kontraktor mengabaikan survei dari tenaga ahli. Padahal tenaga ahli penting untuk membuat rangka acuan kerja. Terkait kontur tanah diatas jalan yang akan dibuat. Penggunaan material yang tepat sampai proses pengerjaannya.

Yuyun yang masih menjabat Ketua Kadin Kota Cirebon ini mensinyalir, adanya istilah ijon dalam pemenang lelang proyek tersebut. Artinya, lelang belum dilaksanakan tapi sudah ada penentuan pemenangnya. Dan pemenangnya harus “menyelesaikan” kewajiban informal kepada pihak tertentu. “Ini menjadi preseden tidak baik khususnya bagi kontraktor. Kita harus berani merubah kebiasaan buruk ini, untuk pembangunan Kota Cirebon,” imbuhnya.

Seperti diketahui, kerusakan jalan di sejumlah lokasi, memperlihatkan umur konstruksi yang singkat. Di Jl Dr Cipto Mangunkusumo misalnya.  Terdapat sedikitnya 18 lubang, di beberapa bagian terlihat aspal yang mengelupas.

Padahal, ruas jalan ini baru saja mendapatkan penambahan layer dengan aspal hot mix yang proyeknya berakhir akhir tahun lalu. Setiap tahun, jalan ini juga selalu mendapatkan kucuran dana untuk perbaikan yang nilainya mencapai miliaran rupiah.

Anggota Komisi II DPRD Ir Watid Syahriar MBA meminta Bidang Bina Marga Dinas Pekerjaan Umum Penataan Ruang (DPUPR) untuk mencari cara agar jalan tidak cepat rusak. “Jangan alasannya jalan rusak karena hujan,” katanya kepada Radar Cirebon.

Ia mempertanyakan pelaksanaan proyek perbaikan jalan. Selain dari sisi pengerjaan yang mungkin saja di bawah spesifikasi. Tapi, dari sisi teknis juga ada ketentuan yang menyebabkan aspal kurang awet.

Misalnya, spesifikasi ketebalan aspal yang hanya 3 centimeter. Dengan ketebalan tersebut, tentu jalan jadi mudah rusak. “Harusnya ketebalan minimal 7 centimeter. Jadi aspal tidak gampang terkikis,” katanya.

Dikonfirmasi terpisah, Kepala Bina Bidang Marga DPUPR Hanry David tak sepenuhnya setuju. Hanry berpendapat, ketebalan aspal tidak akan efektif bila jalanan mengalami genangan. “Sekuat apapun aspal akan kalah dengan air. Termasuk dengan menambahkan ketebalan. Sama saja,” lanjutnya. (gus/myg)