Perempuan dalam Jaringan Teroris Sibolga Hingga Bunuh Diri di Toilet Rutan Polda Metro Jaya

Polisi mengatakan bahwa seorang wanita meledakkan dirinya sendiri berserta anaknya saat penggerebekan setelah suaminya ditahan karena merencanakan serangan teroris di Jakarta. Demikian dikutip dari Indonesia: Wife and child of arrested plotter die in explosion. Istri teroris Sibolga itu sebelumnya melemparkan bom-bom rakitan ke petugas polisi. Hussein, terrduga teroris, telah diminta polisi untuk membujuk istrinya tapi tidak berhasil.Hussein, terrduga teroris, telah diminta polisi untuk membujuk istrinya tapi tidak berhasil.

Upaya penangkapan jaringan teroris di Indonesia terus dilakukan. Terbilang tujuh tersangka teroris yang ditangkap di Sibolga, Lampung dan Klaten ke Mabes Polri, Jakarta untuk pemeriksaan lanjutan.

Tujuh tersangka tersebut adalah Asmar Husen alias Abu Hamzah, Azmil Khair alias Ameng, Zulkarnaen Panggabean alias Ogek, Roslina alias Syuhama, Malik, Putera Syuhada alias Rinto, dan Yuliati Sri Rahayuningrum alias Khodijah.

Mereka ditangkap karena diduga berencana melakukan aksi teror sendiri alias menjadi lone wolf (pelaku tunggal), dan tidak dalam berkelompok. Aksi mereka diduga mengincar aparat keamanan sebagai target.

Karopenmas Mabes Polri Brigjen Pol Dedi Prasetyo di Mabes Polri mengungkapkan fenomena gerakan lone wolf berkembang sebab para teroris tidak ingin diketahui keberadaannya dengan mudah oleh kepolisian.

“Sehingga mereka bergerak per orangan, ini yang menyulitkan kami untuk memantau semuanya. Berbeda dengan kelompok Mujahidin Indonesia Timur (MIT) yang menguasai satu daerah,” ujar Dedi.

Ia menambahkan ledakan bom di Surabaya pada 2018 dan Sibolga belum lama ini, menunjukkan ada fenomena pelibatan perempuan untuk menjadi lone wolf atau pelaku tunggal dalam pelaku.

“Di Indonesia fenomena ini sudah mulai terbaca oleh Densus 88. Seperti kejadian di Sibolga, perempuan ini memiliki militansi yang lebih kuat pemahaman radikal dibanding laki-laki,” ucap Dedi.

Menurutnya, dari sejumlah pelaku yang ditangkap, beberapa di antaranya adalah perempuan.

Dari pemeriksaan petugas, setidaknya ada tiga perempuan yang masuk dalam jaringan teroris ini. Ketiganya adalah istri terduga teroris Abu Hamzah bernama Halimah, R, dan Y alias Khodijah. Ketiga perempuan ini punya kemampuan tersendiri dalam jaringan teroris. Untuk Halimah, dia punya keahlian merakit bom. Kemudian, dia juga memilih meledakkan diri bersama anaknya yang berusia 2 tahun dibandingkan harus menyerahkan diri kepada petugas.

Berikutnya ada R yang merupakan perempuan berusia 22 tahun. R diketahui calon istri kedua dari Abu Hamzah yang direkrut untuk melakukan aksi Amaliyah dan menjadi pengantin atau pelaku bom bunuh diri.

Untuk R dibekuk di kawasan Sirantau, Kota Tanjungbalai. Wanita kelahiran Kabupaten Asahan ini turut mengetahui pembelian bahan untuk pembuatan bom.

Lalu yang ketiga yakni Y alias Khodijah, yang juga punya peran krusial. Y ditangkap di Klaten karena berperan menyuruh tertuga teroris SH mengunggah video yang berunsur ancaman pada anggota Polri yang sedang bertugas.

“Mereka ini sudah terstruktur. ?Mulai dari merakit bom, jadi pengantin sampai melakukan Amaliyah di Pulau Jawa. Untuk Amaliyah tinggal tunggu waktu saja, bisa menggunakan senjata tajam dan senjata api yang penting melumpuhkan aparat,” tandas mantan Wakapolda Kalimantan Tengah ini.

Fenomena serupa, kata dia, juga terjadi di beberapa negara lain yang terpapar paham radikal ISIS, seperti Afghanistan, Irak, Suriah dan beberapa wilayah lainnya di Timur Tengah.

Diketahui, terduga teroris Yuliati Sri Rahayuningrum alias Khodijah adalah  aktor intelektual aksi teror bom di Pulau Jawa. Ia diduga bergabung dengan kelompok jaringan Sibolga, Abu Hamzah. Yuliati diduga sebagai inisiator amaliyah atau teror.

Karopenmas Mabes Polri Brigjen Pol Dedi Prasetyo menambahkan Yuliati mengajak Putera Syuhada, Abu Hamzah dan Syaefuddin Hidayat untuk melakukan aksi teror di Pulau Jawa.  Perempuan itu juga meminta pelaku teror lain Syaefuddin untuk mengunggah video berisi ancaman kepada anggota Polri di media sosial.

Densus 88 Antiteror menangkap Yuliati (38), Kamis (14/3/2019), pukul 16.00 WIB, di rumah terduga Dukuh Desan Wetan RT 5 RW 2 Desa Joton, Jogonalan, Klaten. Kemudian, Yuliati diperiksa oleh penyidik Densus 88 Antiteror, Minggu (17/3/2019) malam, di ruang tahanan Polda Metro Jaya.

Namun, Yuliati Sri Rahayuningrum alias Khodijah diduga mengakhiri hidupnya saat berada di ruang pemeriksaan Polda Metro Jaya, Minggu (17/3/2019) malam. Tubuhnya lemas ketika ditemukan polisi. Ia diduga minum cairan kimia. Polisi belum mengetahui asal cairan tersebut, karena peristiwa terjadi di toilet. Yuliati ditemukan dalam keadaan sakit di ruang istirahat pemeriksaaan pada Senin (18/3) pagi.

“Tim medis coba menolong dia, tapi nyawanya tidak tertolong. Dia bunuh diri, mungkin karena tidak bisa melawan dari dalam tahanan,” ujar Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Mabes Polri, Brigjen Pol Dedi Prasetyo di Mabes Polri, Rabu (20/3/2019).

Melihat kondisi itu, petugas jaga mengambil langkah atau upaya pertolongan pertama, tetapi kondisi terduga teroris buruk sehingga dirujuk ke RS Polri Sukanto. Namun, kondisinya tidak tertolong dan tewas pada Senin siang.

Setelah dilakukan pemeriksaan luar dan dalam di RS Polri Sukanto, ditemukan organ-organ dalam Yuliati mengalami keadaan korosif akibat terkena asam klorida atau HCL kadar 8,5 persen.

Dedi Prasetyo menyebut keinginan Yuliati menjadi mujahid sangat besar, apalagi terduga teroris perempuan memiliki militansi yang besar, seperti istri terduga teroris di Sibolga yang meledakkan diri.

“Yang bersangkutan rela meninggalkan suami dan anaknya, bahkan rela menggadaikan rumah dan tanahnya,” kata dia.(*)