Perguruan Tinggi Harus Sesuaikan Kurikulum Industri 4.0

kurikulum-industri
DIALOG: Narasumber membeberkan perkembangan industi era 4.0 dalam dialog Ekonomi Ummat di UMC, kemarin. FOTO: NUR VIA PAHLAWANITA/RADAR CIREBON

CIREBON- Generasi milenial harus terus mengasah jiwa entrepreneur. Generasi milenial adalah penemu ide dan inovasi kreatif berbagai produk barang (goods) dan jasa (services).

Inisiatif penciptaan produk ini perlu diasah dengan sentuhan jiwa entrepreneurship, sehingga akan melahirkan entrepreneur ulung pada bidangnya masing-masing. Hal itu terungkap dalam dialog ekonomi umat bertema Pengembangan Kewirasuahaan Generasi Milineal yang diselenggarakan Komite Ekonomi dan Industri Nasional (KEIN) di Kampus Universitas Muhammadiyah Cirebon (UMC), beberapa waktu lalu.

Ketua KEIN, Soetrisno Bachir mengatakan, kurikulum perguruan tinggi harus menyesuaikan peluang dan tantangan revolusi industri ke-4 (4.0). Penyesuaiannya ini akan membentuk lulusan yang kompeten, berpengetahuan, berketerampilan serta bersikap.

“Kita harus mendesain kembali kurikulum terutama perguruan tinggi untuk menyesuaikan era industri 4.0,” kata Soetrisno pada sejumlah awak media, Minggu.

Menurutnya, revolusi industri 4.0 menuntut sumberdaya manusia berpendidikan tinggi. Pemahaman pendidikan tinggi di sini adalah pada kurikulum dan jenjang pendidikannya.

Dalam kurikulumnya bukan hanya membentuk SDM berketerampilan tinggi, tetapi juga kafa’ah, himmah, dan amanah. SDM yang seperti ini akan mengelola potensi alam menjadi bernilai tinggi, tetapi dengan pendekatan tanpa merusak alam.

“Belakangan ini kita mengenal ekonomi syariah, yang salah satu penekannya adalah menjaga keseimbangan alam, maka kita masukan nilai-nilai ekonomi syariah pada kurikulum,” ungkapnya

Soetrisno Bachir yang berlatar belakang pengusaha ini menjelaskan Indonesia lebih mengenal ekonomi kerakyatan. Ekonomi kerakyatan maupun ekonomi syariah memiliki persamaan mendasar dalam mengelola alam, yaitu menjaga kelestarian alam sehingga menciptakan pembangunan berkelanjutan.

Pada kesempatan itu, Rektor UMC Khaerul Wahidin mengatakan, sebuah bangsa bisa mencapai kemajuan apabila memenuhi lima prasyarat, yakni nilai-nilai religiusitas atau spiritualitas, memiliki nilai-nilai entrepreneurship, memegang prinsip profesionalisme, menguasai teknologi, dan menguasai masalah-masalah dunia atau berwawasan global.

“Mahasiswa juga diarahkan unntuk memiliki bekal entrepreneur, karena kewirausahaan menjadi penggerak ekonimi bangsa,”katanya.(via)