Pertarungan 17 April diantara Peretasan Asing dan Pemilih “Hantu”

Ratusan pekerja komisi pemilihan menyiapkan kertas suara untuk pemilihan umum mendatang di Indonesia. Foto: Adi Weda / EPA

Ada aktivitas peretasan yang menggunakan IP (Internet Protocol) Address dari dari China dan Rusia yang ingin menyerang data pemilu Komisi Pemilihan Umum (KPU) Indonesia dalam upaya untuk mengganggu pemilihan presiden 17 April 2019 mendatang. Demikian pernyataan Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU), Arief Budiman menjelang pemungutan suara. Sebagaimana diberitakan Bloomberg berjudul Indonesia Says Election Under Attack From Chinese, Russian Hackers Belum jelas apakah para peretas asing itu mewakili orotitas negara terkait atau bukan. Menurut Arief, KPU menghadapi gelombang serangan siber yang diduga untuk mengacaukan proses pemilu.

“Termasuk upaya untuk memanipulasi atau memodifikasi konten serta untuk menciptakan apa yang disebut pemilih hantu, atau identitas pemilih palsu,” katanya.

Pernyataan Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU), Arief Budiman masuk akal musabab akan menyebar rasa khawatir akan adanya upaya untuk “memanipulasi dan mengubah” data daftar pemilih tetap (DPT) dari sekitar 187 juta pemilih sah.

Namun, Komisioner KPU Evi Novida Ginting mengungkapkan tidak hanya China dan Rusia. “Enggak hanya mereka (China dan Rusia) semua, banyak. Saya enggak begitu hapal IP address dari mana saja, tapi ada beberapa,” ucap komisioner KPU Evi Novida Ginting, Rabu (13/2). Evi tak merinci serangan itu menyasar apa saja, karena ada juga yang sifatnya hanya mengubah tampilan (deface), seperti yang pernah terjadi pada website milik Bawaslu. “Nah, itu macam-macam (serangannya), ada yang deface saja, ya macam-macam yang diserang itu,” tuturnya.

Senada, klaim komisoner KPU tersebut belakangan dibantah tim IT KPU sendiri. Harry Sufehmi, konsultan infrastruktur IT di KPU menyebutkan memang benar secara konstan ada serangan peretas dari negara-negara Rusia,  China dan Amerika Serikat, namun upaya itu kemungkinan besar berasal dari Indonesia.

“Kemungkinan sebagian besar dari mereka adalah peretas lokal. Mereka hanya menggunakan titik lokasi di negara tersebut untuk menutupi jejaknya,” ,” ungkap Sufehmi.

Halaman: 1 2 3