Pesanan Kolang Kaling Meningkat selama Ramadan

kolang-kaling
RAUP UNTUNG: Pembuat kolang kaling meraup untung selama bulan Ramadan lantaran penjualan meningkat. Foto: Agus Panther/Radar Kuningan

KUNINGAN – Momentum Ramadan 1440 H menjadi peluang usaha tersendiri bagi petani kolang kaling yang berasal dari biji pohon aren. Salah satunya yakni petani di wilayah Kecamatan Darma, yang meraup untung dengan meningkatnya jumlah pesanan. Jika di hari-hari biasa hanya menerima pesanan beberapa kilo saja, kini mencapai puluhan kilo.

Hasil pengolahan kolang kaling dari kebun sendiri itu akan dikirim langsung ke pasar-pasar yang ada di Kabupaten Kuningan. Makanan khas daerah yang selalu menjadi primadona di saat bulan puasa ini, selalu diburu warga sebagai olahan menu berbuka puasa. Buah yang kenyal dengan rasa enak itu, biasanya diolah dalam hidangan es campur atau kolak hangat.

Petani kolang kaling Desa Cageur Kecamatan Darma, Ika kepada awak media mengaku, saat ini pengolahan kolang kaling yang berasal dari biji pohon aren bisa mencapai 40-50 kilo dalam satu kali produksi. Nantinya, hasil kolang-kaling siap jual akan dikirim ke pasar-pasar di Kuningan.

“Kalau dalam satu hari bisa membuat kolang kaling itu sekitar 40 sampai 50 kilogram,” ungkap Ika,  Minggu (12/5).

Pengolahan kolang kaling dari pohon aren itu lanjutnya, masih dilakukan dengan cara sederhana. Sehingga proses pembuatan kolang kaling siap edar membutuhkan waktu yang panjang.

“Alat kita masih sederhana, jadi lama proses mengolah kolang kalingnya. Tapi alhamdulillah jumlah penjualan naik ya, karena banyak juga yang langsung pesan ke rumah,” ucapnya.

Dia menjelaskan, pengolahan biji pohon aren dilakukan melalui pemasakan hingga matang dengan menggunakan tungku. Jika menggunakan gas biaya yang dikeluarkan semakin mahal, dan kayu dapat mudah diperoleh sehingga biaya operasional bisa ditekan.

“Pengolahannya sederhana. Kolang kaling yang sudah bersih dan mentah direbus dulu menggunakan tungku hingga matang. Setelah itu didiamkan sampai dingin. Untuk proses pembakaran, kami memakai kayu bakar lantaran harganya murah ketimbang menggunakan gas. Ini juga untuk menekan biaya produksi,” katanya.

Sementara itu, penjual kolang kaling di pinggiran Jalan Ancaran Kuningan, Eman menuturkan, menjual kolang kaling biasanya dilakukan hanya pada saat bulan puasa saja. Sebab di hari-hari biasa hanya menjual buah-buahan segar. “Pernah dicoba hari biasa jualan tapi sepi pembelinya. Beda kalau saat puasa setiap hari ada saja yang beli,” ungkapnya.

Dia menyebut, kolang-kaling yang dijual setiap kilonya senilai Rp16 ribu. Selain kolang-kaling, buah-buahan seperti alpukat kini dijual Rp28 ribu per kilo, buah naga Rp35 ribu per kilo, timun suri Rp7 ribu per kilo dan sedia pula buah-buahan lainnya.

“Harga ini naik saat memasuki bulan puasa, kalau sebelumnya paling alpukat Rp20 ribu sekilo, buah naga hanya Rp15 ribu sekilo. Karena permintaan banyak, jadi harga dari sananya juga naik,” pungkasnya. (ags)