Petani Cabai Rawit Rugi Besar, Pengepul Hanya Menghargai Rp2.500 Per Kilogram

Beberapa petani cabai di Desa Bayalangu Kidul, Kecamatan Gegesik, mengeluhkan harga cabai yang menurun drastis. FOTO:ADE GUSTIANA/RADAR CIREBON
Beberapa petani cabai di Desa Bayalangu Kidul, Kecamatan Gegesik, mengeluhkan harga cabai yang menurun drastis.FOTO:ADE GUSTIANA/RADAR CIREBON

KUNINGAN-Para petani cabai rawit di Kabupaten Kuningan mengeluhkan anjloknya harga cabai rawit di pasaran sehingga membuat mereka mengalami kerugian cukup besar. Salah seorang petani cabai rawit di Desa Cihirup, Kecamatan Ciawigebang, Kabupaten Kuningan, Kusma (51) mengatakan harga cabai rawit di tingkat petani saat ini hanya Rp2.500 per kilogram.

Kusma pun terpaksa menunda menjual cabai rawit di ladangnya ke pengepul walaupun sudah memasuki masa panen.”Kalau dijual sekarang kami rugi besar. Hasil penjualan tidak sebanding dengan biaya yang dikeluarkan mulai dari tanam, pupuk hingga panen,” ungkap Kusma saat ditemui di kebun cabai rawitnya di Dusun Kliwon.

Kusma mengatakan, sebagai perbandingan biaya tanam cabai rawit di ladang seluas 100 bata mencapai Rp7 juta. Dengan harga cabai rawit sekarang hanya Rp2.500 per kilogram dan hasil panen sekitar 2 kuintal, maka penjualan cabai rawit sekarang hanya sekitar Rp500.000 saja, atau masih jauh dari modal yang dikeluarkan.

“Bahkan biaya yang dikeluarkan untuk panen saja belum nutup. Hitung saja, biaya pekerja Rp50.000 per orang sedangkan hasil petik sekitar 12,5 kilogram saja yang kalau dikali Rp2.500 per kilogram, maka sudah bisa dihitung hanya Rp31.250. Ini belum ditambah pengeluaran makan, kopi dan rokok,” ujar Kusma.

Kondisi ini, kata Sukma diperparah dengan serangan hama lalat buah yang menyebabkan cabai rawit di ladangnya banyak yang busuk dan berguguran. “Sudah hasil panen sedikit, harganya pun jatuh. Terpaksa kami biarkan tanaman cabai kami sampai harganya stabil supaya kami tidak rugi banyak,” ungkap Kusma.

Terkait penyebab anjloknya harga cabai rawit, Kusma menduga karena banyaknya pasokan dari luar daerah masuk ke pasar Kuningan. Salah satunya adalah kiriman dari daerah Maja yang konon mempunyai kualitas cabai rawit lebih baik. “Kami hanya bisa berharap harga cabai rawit bisa kembali normal secepatnya. Kami juga meminta ada perhatian dari pemerintah untuk bisa menyiasati cabai rawit petani lokal Kuningan bisa mendominasi pasar Kuningan dan mengerem pasokan dari luar,” harap Kusma.

Sementara itu, Kaur Ekbang Desa Cihirup Amu Taruman mengatakan, anjloknya harga cabai rawit cukup berdampak pada kelangsungan usaha para petani di Cihirup yang mempunyai luas lahan ladang cabai mencapai 30 hektare. Selain sukma, banyak petani cabai rawit yang memilih membiarkan tanaman cabainya yang siap panen begitu saja karena tak mau rugi. “Semuanya berharap harga cabai rawit bisa kembali bagus yaitu di atas Rp16.000 per kilogram. Dengan harga tersebut, minimalnya hasil penjualan bisa menutup modal dan bisa sedikit dibawa pulang untuk makan keluarga,” ungkap Amu.

Terkait serangan hama lalat buah, Amu mengatakan, pihaknya sudah berkoordinasi dengan tim penyuluh dari Dinas Pertanian melakukan antisipasi dan penanganan. Salah satunya membuat perangkap menggunakan obat Petrogenol untuk menarik lalat jantan sehingga memutus perkembangbiakannya.

“Petrogenol ini mempunyai sifat mengeluarkan bau lalat betina yang menarik perhatian lalat jantan untuk masuk perangkap dan akhirnya mati. Dengan cara ini akan menghambat perkembangbiakan lalat buah sehingga dengan sendirinya serangan hama lalat pun akan habis,” ujar Amu.

Terpisah, mantan Wakil Bupati Kuningan Dede Sembada ST yang kebetulan warga Ciawigebang menyebut, bahwa di Kabupaten Kuningan telah memiliki Tim Satgas Pangan dari Polres Kuningan dan Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) dari pemerintah daerah. “Nah, ini peran dari tim ini, tentunya mungkin Kabag Ekonomi dengan Dinas Pertanian harus ada koordinasi yang baik. Untuk apa? Jangan sampai pada saat musim panen misalnya cabai tiba-tiba ada permintaan dari luar daerah, nah permintaan ini disesuaikan dengan stok yang ada di kita agar harga juga stabil,” kata Dede yang kini maju di Pileg 2019.

Oleh sebab itu, lebih tepatnya harus ada koordinasi yang jelas di TPID. “Yang perlu dibenahi pada sektor pertanian ini bukan saat pra panen, tapi pada saat pasca panen juga. Sama kasusnya dengan buah mangga, di Ciawigebang ini kan sentra mangga, nah pada saat musim buah mangga ini harganya jatuh, tapi kalau ada peran pemda memberikan support dalam rangka mencarikan pasar mungkin saya kira hal itu tidak akan terjadi. Kalau harga itu misalkan anjlok, tandanya persedian itu melimpah,” imbuhnya.  (fik)