Petani Pertanyakan Peran Dinas Pertanian, Kekeringan Akibat Kemarau Datang Lebih Cepat

POMPANISASI: Salah satu petani di Desa Tuk. Lemahabang sedang menjalankan pompa untuk sawahnya. FOTO: ANDRI WIGUNA/ RADAR CIREBON
POMPANISASI: Salah satu petani di Desa Tuk. Lemahabang sedang menjalankan pompa untuk sawahnya.FOTO: ANDRI WIGUNA/ RADAR CIREBON

CIREBON – Kekeringan akibat musim kemarau disebut datang terlalu cepat. Biasanya, meskipun datang di musim tanam kedua, namun kekeringan yang terjadi tidak sehebat saat ini.

Hal tersebut disampaikan Heriyanto, salah satu petani yang ditemui Radar Cirebon di lahan pertanian Desa Tuk, Kecamatan Lemahabang, kemarin.

Menurut Heriyanto, para petani di wilayahnya hampir setiap tahun jarang sekali kerepotan air pada musim tanam kedua. Kondisi tersebut berbeda untuk tahun ini. Di mana, hampir setiap minggu para petani harus mengeluarkan uang untuk biaya pompanisasi.

“Biasanya tidak sekering ini. Apalagi ini masih awal musim kemarau. Kita yang baru tanam dengan umur padi baru sekitar tiga minggu sampai 1 bulan, mau nggak mau harus melakukan pompanisasi dengan biaya yang cukup mahal,” keluhnya kemarin (16/6).

Untuk sekali melakukan pompanisasi, dia harus merogo kocek sampai dengan Rp300 ribu. Selain biaya yang bertambah, dia pun kini khawatir jika hasil pertanian tidak akan maksimal karena kekurangan air.

Kebiasan yang terjadi, menurut Heriyanto, biasanya kekurangan air hebat itu pada musim tanam ketiga.

“Normalnya kan kalau satu hektare itu bisa antara 4 ton sampai 5 ton. Kalau kondisinya seperti ini, paling banyak 2 sampai 3 ton. Itu pun sudah bagus, tidak mati di jalan tanamannya,” imbuhnya.

Sebagai petani tradisional, dia pun menanyakan peran UPT Pertanian ataupun Dians Pertanian Kabupaten Cirebon. Sebab, selama dia menggarap lahan belum sekalipun menerima bantuan atau program dari dinas pertanian.

“Di sebelah saya ada titik sumur pantek, namun posisinya dikunci. Saya nggak mengerti siapa yang pegang. Kalau dikunci terus, kan kita tidak bisa ikut memanfaatkannya.

Saya sendiri tidak tergabung dalam kelompok tani. Katanya ada juga yang dapat bantuan pompa. Tapi saya nggak tahu siapa saja yang dapat,” jelasnya. (dri)