Petani Pilih Tidak Garap Sawah, Ribuan Hektare Sawah Dibiarkan Nganggur

sawah-kekeringan
Ilustrasi. Foto: radarcirebon.com

INDRAMAYU – Krisis air di sejumlah wilayah pesisir pantura Kabupaten Indramayu bagian barat (Inbar) membuat petani setempat memilih tidak turun ke sawah. Mereka membiarkan sawahnya menganggur ketimbang menderita gagal panen.

Alhasil, ribuan hektare (ha) sawah di wilayah pantura Kecamatan Sukra, Patrol dan Kandanghaur dibiarkan telantar pada musim gadu tahun ini. Umumnya, areal persawahan yang dibiarkan menganggur berada di sebelah utara jalan raya pantura. “Risiko gagal panen besar. Kami tidak mau merugi,” ucap Nanto, petani asal Kecamatan Patrol, Kamis (11/7).

Sejatinya, ungkapnya, petani ingin sekali menggarap sawahnya di musim gadu ini. Karena biasanya hasil panen yang didapat melimpah, harganyapun terbilang bagus. Namun tidak adanya jaminan pasokan akan air aman dan lancar kesawah, dia dan petani lainnya tidak mau ambil risiko.

Tak hanya bakal rugi biaya, nekat tanam di musim kemarau kerap menimbulkan konflik antar petani gara-gara rebutan air. “Tahu sendirikan kalau urusan rebutan air bisa terjadi bentrokan antar petani. Jadi lebih baik kita mengalah,” katanya.

Petani lainnya, Wawi membenarkan. Setiap musim kemarau tiba, pasokan air dari saluran irigasi minim. Malah, kata Wawi, krisis air sudah terjadi sejak menjelang musim kemarau.

Meski merugi, lanjutnya, areal sawah yang tak ditanami sebenarnya bisa berdampak positif. Sebab, lahan bisa beristirahat. “Justru bagus, lahannya beristirahat, tidak terus-terusan dimanfaatkan,” ujarnya.

Diakuinya, pemerintah bersama stakeholder pertanian gencar melakukan perbaikan infrastruktur pertanian. Mulai dari normalisasi saluran irigasi, pengurasan kali, pembangunan sodetan sampai jaringan irigasi terseier. Tapi upaya itu dirasa percuma jika pasokan air justru berkurang atau malah tidak ada. (kho)