PKL Tagih Komitmen Pemkot, Jumlah Pedagang di Selter Jl Cipto Malah Berkurang

Sebagian PKL mulai menempati Selter Jl Cipto Mk, Kamis (7/2). Sementara di tiga ruas jalan banyak PKL yang masih berjualan. FOTO:OKRI RIYANA/RADAR CIREBON
Sebagian PKL mulai menempati Selter Jl Cipto Mk, Kamis (7/2). Sementara di tiga ruas jalan banyak PKL yang masih berjualan. FOTO:OKRI RIYANA/RADAR CIREBON

CIREBON–Pemerintah Kota Cirebon perlu menunjukkan komitmennya terhadap relokasi pedagang kaki lima (PKL). Tanpa itu, sulit membuat pedagang tergerak. Sampai kemarin, masih banyak yang bertahan di jalanan. Mereka yang sudah pindah ke selter mempertanyakan tindak lanjut usai penempatan.

Koordinator PKL Selter Cipto Ade Prianto mengatakan, sebelum ada tindakan tegas dari pemerintah kepada PKL di Jl Cipto Mangunkusumo, Jl Sudarsono, dan Jl Pemuda, mereka tidak akan tergerak pindah. Dalam dua hari ini misalnya. Ade menempuh upaya persuasif. Mengajak rekan-rekannya berpindah dari trotoar ke selter. “Mereka sepertinya masih belum mau beranjak,” ujarnya kepada Radar Cirebon.

Di hari pertama selter di buka, hanya ada tiga pedagang yang menempati lapaknya. Di hari kedua, jumlahnya berkurang satu. Padahal 46 pedagang yang mengikuti pendaftaran di Dinas Perdagangan Koperasi Usaha Kecil Menengah (Disdagkop-UKM).

Selter Jl Cipto sendiri memiliki daya tampung 70 pedagang. Tentu menjadi pekerjaan rumah bagi pemerintah untuk memindahkan pedagang. Juga untuk meramaikan fasilitas tersebut. “Harusnya tegas. Percuma di sini PKL sudah pindah, tapi di sana masih pada jualan,” tutur Ade.

Menurut Ade, seharusnya tanggal 6 Februari menjadi batas akhir relokasi ke selter. Sebab rencana penempatan sesungguhnya sudah mundur tiga kali. Apa yang menjadi keinginan PKL juga sudah dipenuhi. Yang membuat selter tertunda ditempati selama setahun.

Tanpa komitmen pemerintah, dia khawatir penempatan PKL ini malah jadi kesia-siaan. Apalagi tidak sedikit biaya yang dikeluarkan untuk membangun selter. Juga pengorbanan PKL yang bersedia pindah untuk mulai dari nol usahanya.

Penggunaan nama Selter Cipto dirasa kurang menarik. Juga tidak menimbulkan atensi bagi masyarakat. Pedagang yang sudah masuk selter mengusulkan perubahan nama. Menggunakan sebutan Pujabon atau Pusat Jajanan Cirebon.

Dengan begitu, diharapkan apa yang dibangun pemerintah bermanfaat. PKL yang ikut pindah juga merasakan peningkatan level usahanya. “Kalau kota kota lain bisa, kenapa Cirebon tidak? Pemerintah juga harus bantu promosinya. Ini tanggung jawab mereka,” tandasnya.

Menurut informasi di kalangan pedagang, rencananya 12 Februari mendatang pemkot akan grand launching Pujabon. Dirinya berharap semua PKL yang terdaftar segera pindah. Satpol PP dan Disdagkop UKM juga diharapkan bertindak tegas. Rencananya pekan depan akan dilaksanakan penertiban. Tindakan ini didahului dengan pendataan di Jl Pemuda, Jl Sudarsono dan Jl Cipto Mk.

Di lain pihak, Satpol PP memastikan akan melakukan penertiban. Sudah direncanakan mulai awal pekan depan. Kepala Seksi Ketertiban Umum Satpol PP, Asep Kurnia mengatakan, dalam beberapa hari ke depan petugas masih melakukan pemantauan. Sembari menunggu kesadaran pedagang untuk pindah ke selter. “Ya semoga saja mereka sadar dan mau menempati selter,” ucapnya.

Pendataan ini, sekaligus untuk memberikan imbauan serta teguran kepada para PKL. Selanjutnya, petugas tidak akan segan untuk melakukan penertiban terhadap mereka yang masih membandel. Asep memastikan petugas tidak akan tebang pilih. Tenda biru di Jl Sudarsono juga akan ditertibkan. Tidak ada alasan lagi untuk pedagang berjualan di kawasan itu.

“Kita pasang spanduk peringatan dipasang dan rambu. Kalau masih di situ, baru kita penindakan,” tegasnya. (awr)