PLTU Cirebon Dinilai Sudah Optimal Berdayakan Masyarakat

Community Development Manager Cirebon Power, Hafid Saptandito mengisi seminar di Auditorium UGJ Cirebon, Kamis (29/8). FOTO:CIREBON POWER FOR RADAR CIREBON

CIREBON-Perusahaan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Cirebon, dinilai telah maksimal dalam melakukan pemberdayaan masyarakat di sekitar perusahaan. Hal tersebut berdasarkan dari banyaknya program pemberdayaan yang dilakukan oleh PT Cirebon Power, yang manfaatnya dirasakan oleh masyarakat.

Penilaian ini dilakukan atas evaluasi beberapa program yang tidak hanya memberikan dukungan dengan pinjaman modal saja, melainkan juga didukung dengan adanya sejumlah pelatihan dan pendampingan untuk meningkatkan kemampuan warga. Dosen Fakultas Ekonomi UGJ Cirebon Dr Kartono SE MSi menilai, pemberdayaan masyarakat dengan bentuk bantuan atau hibah, kurang mendidik. Karena biasanya, bantuan bentuk tersebut manfaatnya tidak berkelanjutan.

Kartono mendukung langkah Cirebon Power yang membuka juga sejumlah pelatihan dan peningkatan kapasitas warga untuk bisa meningkatkan kesejahteraan. “Sangat setuju dengan adanya pelatihan yang dilakukan oleh Cirebon Power. Karena selain bisa meningkatkan skill, juga bisa meningkatkan ekonomi masyarakat,” ujar Kartono dalam kajian ilmiah bertajuk Seminar Nasional Peran Serta Korporasi dalam Pembangunan Kerakyatan Melalui Program Pemberdayaan Masyarakat, di Auditorium Universitas Gunung Jati (UGJ) Cirebon, Kamis (29/8).

Kartono menuturkan, pemberdayaan yang dilakukan oleh perusahaan pembangkit itu sudah sangat maksimal dan komplit. Karena, menurutnya, esensi dari pemberdayaan itu meliputi beberapa hal, seperti ekonomi, pendidikan, sosial, lingkungan dan kesehatan. “Hal tersebut sudah dilakukan semua oleh Cirebon Power, dan semoga bisa diperluas lagi untuk masyarakat di luar kawasan ring satu,” ujarnya.

Seminar Nasional ini dibuka oleh Plt Dekan Fakultas Ekonomi UGJ Siska Ernawati Fatimah SE MM. Dalam sambutannya, ia mengapresiasi korporasi yang menjalankan program pemberdayaan pada masyarakat. Menurutnya, sudah seharusnya korporasi turut berperan dalam pemberdayaan masyarakat. Karena hal tersebut, bisa ikut meningkatkan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat disekitarnya. “Korporasi harus memiliki peran dalam pemberdayaan masyarakat di sekitarnya,” katanya.

M Dandi Ramadan, mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Gunung Jati (UGJ) juga menyampaikan hal yang sama. Ia mengaku, sudah mengetahui sejumlah program pemberdayaan yang dilakukan oleh Cirebon Power. Menurutnya, program pemberdayaan masyarakat yang dilakukan sudah sangat baik. Ia mengetahui adanya program pelatihan komputer dan juga pelatihan usaha untuk masyarakat sekitar. “Cirebon Power juga ikut peduli lingkungan dengan melakukan penanaman mangrove,” kata Dandi.

Dandi berharap, perusahaan pembangkit itu bisa kembali melakukan inovasi dalam kegiatan pemberdayaan masyarakat, dan menyesuaikan dengan perkembangan zaman. Ia sangat mendukung, jika ada program pemberdayaan dengan memanfaatkan teknologi digital yang berkembang saat ini. “Kalau bisa, ada pemberdayaan dengan memanfaatkan teknologi digital,” kata Dandi.

Sigit Putra Pratama, mahasiswa Fakultas Hukum UGJ, juga mengapresiasi pemberdayaan yang dilakukan oleh Cirebon Power. Ia sangat tertarik dengan program Taman Bacaan Anak (TBA) Pesisir, di Desa Bandengan Kecamatan Mundu. Ia juga menyarankan program pemberdayaan yang manfaatnya bisa langsung dirasakan oleh masyarakat, salah satunya pengolahan air payau untuk pertanian. “Semoga CEP selalu konsisten dalam pemberdayaan masyarakat,” katanya.

Dalam pemaparannya, Community Development Manager Cirebon Power Hafid Saptandito menuturkan, pihaknya memang tidak sembarangan untuk menentukan model pemberdayaan yang akan dilakukan. Sebelum menentukan model pemberdayaan, pihaknya selalu melakukan pemetaan sosial ekonomi terlebih dahulu. “Jadi, semua pemberdayaan yang dilakukan oleh Cirebon Power, sesuai dengan kebutuhan masyarakat,” katanya.

Menurut Hafid, salah satu yang paling ditekankan dalam pemberdayaan masyarakat ini, adalah peningkatan skill dan kompetensi warga. Hal ini bertujuan agar kelak masyarakat penerima manfaat dapat membagikan kembali pengetahuannya pada warga lain. “Sehingga perusahaan tidak harus selalu terlibat langsung, namun tetap memberikan dukungan, sehingga akhirnya masyarakat dapat mandiri dan sejahtera” ujar Hafid. (yud/rls)

[adrotate banner="13"]

Berita Terkait