Polemik Argo Cheribon, PT KAI Tak Bergeming, Single Service Gocher Tetap Lanjut

Penumpang Kereta Api Argojati mengakhiri perjalanan di Stasiun Kejaksan. PT KAI dalam waktu dekat akan mengganti nama Argojati menjadi Argo Cheribon yang disingkat Gocher. FOTO:OKRI RIYANA/RADAR CIREBON
Penumpang Kereta Api Argojati mengakhiri perjalanan di Stasiun Kejaksan. PT KAI dalam waktu dekat akan mengganti nama Argojati menjadi Argo Cheribon yang disingkat Gocher.FOTO:OKRI RIYANA/RADAR CIREBON

CIREBON-Perubahan Kereta Api Argojati, Cirebon Ekspres dan Tegal Bagari, terus menuai kritik. Rebranding yang dilakukan PT Kereta Api Indonesia (KAI) Daerah  Operasional (Daop) III Cirebon, dinilai tidak memerhatikan kearifan lokal.

Penggunaan nama Argo Cheribon, dinilai tidak peka. Sehingga menuai reaksi negative dari pegiat kebudayaan. Akademisi Universitas Swadaya Gunung Jati (UGJ) DR Junaedi Noer MM mempertanyakan penggunaan nama Cheribon yang diasosiasikan dengan buah ceri, pada logo Gocher.

Menurutnya, selain logo juga tidak ada korelasi branding Argo Cheribon dengan budaya Cirebon. Bahkan dia yakin penamaan ini tidak melibatkan tokoh masyarakat Cirebon. “Saya yakin, kalau pemerhati budaya atau dilibatkan, tidak mungkin muncul nama itu,” katanya kepada Radar Cirebon.

Diceritakannya, Kota Cirebon memang memiliki beberapa sejarah nama kepemerintahannya dari zaman ke zaman. Pada masa penjajahan kolonial Belanda, nama Cirebon adalah Cheribon, atau lengkapnya Gementee of Cheribon.

Sementara pada masa kependudukan Jepang, Pemerintahan Cirebon disebutnya Tjeribon atau Tjeribon Syu. “Jadi baik Cheribon maupun Tjeribon itu menyiratkan kita kembali atau reinkarnasi pada masa penjajahan,” tandas Bang Jun, sapaan akrabnya.

Dirinya lebih setuju dengan penamaan sebelumnya, atau bila rebranding menjadi Argo Caruban, atau nama-nama lain yang sesuai dengan sejarah berdirinya Cirebon pada masa lalu. Cheribon, kata dia, membuat persepsi budaya Cirebon menjadi hilang. Karena frasa kata Cheribon itu diambil dari penamaan penjajahan Belanda. Padahal masih banyak nama yang patut masuk nominasi, yang lebih mencerminkan budaya asli Cirebon.

Kemudian, Bang Jun juga menilai, kata Cheribon tidak sejalan dengan tagline pariwisata yang dicanangkan Pemkot Cirebon, Yakni Cirebon The Gate of Secret. “Ini kemungkinan juga PT KAI tidak melibatkan juga Pemkot Cirebon,” tegasnya.

Manajer Humas PT KAI Daop III Cirebon Kuswardoyo tidak ingin rebranding ini menjadi polemik yang berkelanjutan. Yang penting bagaimana pihaknya melayani masyarakat yakni penumpang dengan baik dan berkualitas.

Dikatakannya, ketiga KA tersebut menjadi single service dengan nama Argo Cheribon atau disingkat GoCher. Dan ada jadwal keberangkatan yang dihapus yaitu KA Argojati pada jam 05.25 WIB.Disebutkannya, jadwal keberangkatan KA GoCher mulai tanggal 16 Agustus dari Gambir menuju Cirebon tersedia pada pukul 19.45 WIB, 22.20 WIB, 12.10 WIB, 17.20 WIB, dan 00.40 WIB. Keberangkatan dari Cirebon menuju Gambir tersedia pada pujuk 05.50 WIB, 07.25 WIB, 13.50 WIB, 16.45 WIB, dan 21.15 WIB.

Sedangkan untuk keberangkatan dari Gambir-Cirebon-Tegal ada tiga perjalanan, dari Gambir pukul 09.40 WIB, tiba di Cirebon 12.45 WIB, tiba di Tegal 14.10. Berangkat dari Gambir pukul 11.00 WIB, tiba di Cirebon 14.26 WIB, tiba di Tegal 15.47 WIB. Berangkat dari Gambir pukul 20.30 WIB, tiba di Cirebon 23.34 WIB, tiba di Tegal 01.03 WIB.

Untuk Perjalanan KA GoCher dari Tegal-Cirebon-Gambir juga ada tiga perjalanan, dari Tegal pukul 14.50 WIB, tiba di Cirebon 16.05 WIB, tiba di Gambir 19.12 WIB. Keberangkatan dari Tegal pukul 17.00 WIB, tiba di Cirebon 18.30 WIB, tiba di Gambir 21.35 WIB. Keberangkatan dari Tegal pukul 06.50 WIB, tiba di Cirebon 08.30 WIB, tiba di Gambir 11.38 WIB.

Sebelumnya, budayawan dan Filolog Cirebon DR Opan Safari Hasyim. Dia mempertanyakan rebranding rangkaian KA Argojati. Pasalnya, secara harfiah Argo itu berarti gunung, jadi secara arti Argojati adalah Gunung Jati.

Maknanya akan melenceng bila diubah menjadi Argo Cheribon. Yang berarti Gunung Cirebon, dan tidak ada nama gunung itu secara fisiknya. Yang ada adalah Gunung Ciremai yang sudah jelas terlihat ada fisiknya. “Saya terang-terangan tidak setuju dengan atau nama Cheribon untuk KA tersebut. Ini menjadi langkah mundur, karena Cheribon adalah penamaan Cirebon dari masa kolonial Belanda,” jelasnya.

KAI, menurutnya tidak memperhatikan aspek ini. Juga tidak meninjau terlebih dahulu sejarah maupun nama kearifan lokal di Cirebon. Padahal inilah yang menjadi identitas budaya masyarakat Cirebon. Jangan perubahan nama dengan menggunakan nama dari bangsa asing yang sejarahnya pernah menjajah Indonesia.

Namun demikian, Opan memberikan masukan yang bisa diterima semua pihak. Dengan mengusulkan nama KA tersebut menjadi KA Argo Caruban atau Argo Sembung. Nama ini lebih kental nuansa budaya asli Cirebon pada masa lampau.

“Ini juga tidak pas dengan semangat bangsa Indonesia yang sebentar lagi merayakan HUT ke-74. Masa perayaan kemerdekaan ini ada peristiwa yang mengembalikan kita kepada masa penjajahan dulu. Kita ini sudah merdeka,” tegasnya. (gus)