Progres Proyek DAK Stagnan, Dikasih Tambahan Waktu, Jl Evakuasi Paling Disorot

Saluran Jl Evakuasi digenangi air saat turun hujan. Kondisi ini menyebabkan pekerjaan terhenti. FOTO:OKRI RIYANA/RADAR CIREBON
Saluran Jl Evakuasi digenangi air saat turun hujan. Kondisi ini menyebabkan pekerjaan terhenti. FOTO:OKRI RIYANA/RADAR CIREBON

CIREBON-Dari lima ruas jalan yang mendapatkan kucuran anggaran proyek Dana Alokasi Khusus (DAK) Rp39 miliar, Jalan Evakuasi paling disorot. Hingga kemarin, progresnya tidak terlihat. Jumlah pekerja di lapangan juga tidak sesuai rekomendasi konsultan.

Padahal, kontraktor sudah mendapatkan tambahan waktu sampai 50 hari ke depan. Dalam inspeksi mendadak Komisi II, Bidang Bina Marga Dinas Pekerjaan Umum Penataan Ruang (DPUPR), diminta untuk lebih tegas.

Ketua Komisi II DPRD, Agung Supirno juga mempertanyakan dasar perpanjangan kontrak. Mengingat kontraktor yang tidak menunjukkan adanya perbaikan kinerja. “Saya dengar ada perpanjangan kontrak kerja. Tapi kita lihat di lapangan tidak ada yang meningkat. Ini masih persis seperti sebulan yang lalu,” ujar Agung, di lokasi proyek, Jumat (28/12).

Politisi Golkar itu, meminta agar Bina Marga bisa mendorong kontraktor bekerja lebih cepat. Kontraktor juga harus menunjukkan tanggung jawabnya. Mengingat sudah diberikan perpanjangan kontrak.

Sampai kemarin, Komisi II DPRD juga masih mempertanyakan perpanjangan kontrak 50 hari tersebut. Mengingat belum mendapatkan tembusan atau sekadar informasi mengenai dokumen perpanjangan kontrak yang dimaksud.

Agung menyebutkan, melihat aturan mestinya pekerjaan sampai tanggal 15 Desember. Hingga batas akhir pencairan tanggal 25 Desember. Namun sampai saat ini masih ada sisa pekerjaan yang belum diselesaikan. “Sudah diberikan perpanjangan, tapi progres seperti ini, mau selesai kapan?” tanyanya.

Dia sendiri mengecek ke beberapa titik pekerjaan. Khususnya yang berada di pertigaan jalan menuju Jl Arya Kemuning. Di sana masih ada galian yang dibiarkan terbuka selama satu minggu. Hal ini berakibat masyarakat yang dirugikan. Dampaknya terhadap kemacetan lalu lintas karena ada penyempitan jalan akibat tanah urukan yang berantakan di badan jalan.

Kemudian dampak lainya juga, ada TPS yang tidak bisa difungsikan karena terhalang oleh pekerjaan galian. Dia sendiri mengaku mendapat keluhan masyarakat sudah satu pekan. Warga tidak bisa membuang sampah ke TPS. Dinas Lingkungan Hidup (DLH) juga keteteran mengangkut sampah di area ini. “Tolong ini diperhatikan. Sampah itu dua hari nggak diangkut ya bau. Ini jadi susah, ada galian TPS terhalang,” singgungnya.

Dia juga meminta kepada kontraktor agar bisa melakukan pekerjaan secara berurutan. Sebab banyak galian yang dibuat, kemudian ditinggalkan. Pekerjaan macam ini sangat menggangu aktivitas masyarakat.

Sayangnya, dalam inspeksi itu tidak ada perwakilan kontraktor. Beberapa pekerja hanya menyebutkan bahwa pekerjaan jadi tidak optimal saat hujan. Di lokasi banyak galian kabel. Juga saluran yang tertutup air. Sehingga saat hujan tidak bisa bekerja. Pemasangan culvert box juga tertunda karena menunggu mobil crane. Pasalnya culvert box yang menjadi penampang saluran tidak bisa dikerjakan manual. Kepala Bidang Bina Marga DPUPR, Hanry David juga belum dapat dikonfirmasi hingga berita ini diturunkan. Bahkan sejak Kamis (27/12) koran ini mengupayakan konfirmasi dan tidak bersambut.

Seperti diketahui, ekses yang ditimbulkan proyek peningkatan jalan, trotoar dan saluran di Jl Evakuasi beberapa pekan terakhir menjadi sorotan banyak pihak. Seperti akses keluar masuk warga terganggu, jalan menjadi sempit dan berbahaya bagi pengendara karena tumpukan material dan galian sedalam satu meter yang tidak diberi pengamanan yang layak, dan banyak lagi.

Satu lagi yang menjadi persoalan, yakni fungsi Tempat Penampungan Sampah Sementara (TPSS) di tepatnya samping RS Medimas menjadi terganggu, karena terhalang oleh galian. Padahal hampir semua TPSS di Kota Cirebon, termasuk di Jalan Evakuasi selalu penuh dan aktivitas pengangkutan berjalan tiap hari.

Kepala Bidang Pengolahan Sampah dan LB3 DLH, Supriyanto SSos MSi sempat mengeluhkan kondisi ini. Dikatakannya, sudah hampir seminggu pihaknya harus berjibaku mengangkut sampah dari TPSS melewati galian tersebut. “Petugas kami di lapangan tetap bekerja menata dan mengangkut sampah ke dalam truk. Walaupun kondisi TPSS terhalang galian dan sewaktu-waktu bisa membahayakan keselamatan petugas,” ujar Supriyanto.

Hambatan pengangkutan sampah semakin berat, pasalnya hujan yang cukup deras mengakibatkan tanah galian di depan TPSS menjadi lumpur. Untuk itu pihaknya selalu mengawasi langsung petugas dan memberikan arahan agar tidak terjadi hal yang tidak diinginkan.

Supriyanto mengaku, hanya mendapatkan pemberitahuan tentang pengerjaan trotoar tersebut. Tanpa ada tenggat waktu kapan pekerjaan tersebut diselesaikan. Dirinya tidak mau ambil pusing, tugasnya mengangkut sampah di TPSS adalah wajib. Perkara adanya hambatan itu adalah resiko pekerjaan yang harus dihadapi. “Ya mau bagaimana lagi, rutinitas pengangkutan sampah harus tetap berjalan, apapun kesulitannya,” tandasnya.

Seperti diketahui, proyek peningkatan jalan dan trotoar di Jl Evakuasi merupakan bagian dari dana alokasi khusus (DAK) Rp39 miliar.  Proyek ini dapat tambahan waktu sampai 50 hari ke depan, karena berbagai pertimbangan. Kepala Bidang Bina Marga DPUPR, Hanry David dalam wawancara terakhirnya beralasan, pekerja di lapangan menemui beberapa kendala. Di antaranya dari faktor utilitas. Banyak pemilik utilitas keberatan memindahkan tiang, boks panel dan lainnya. Sehingga pihaknya terus berkoordinasi dan harus menunggu lagi.

Karena pengerjaan proyek yang molor dari target, David menyatakan kembali memberi kesempatan. Namun kesempatan tersebut hanya akan diberikan satu kali. “Kalau memang tidak selesai, ya memang masih ada pemberian kesempatan satu kali lagi. Sampai 50 hari,” ujarnya.

Disebutkan, sebelumnya konsultan meminta tambahan pekerja di lapangan. Dalam pengawasan Bina Marga DPUPR, Hanry menjelaskan hal tersebut sudah dilakukan. Hanya saja pihaknya tidak bisa ikut campur lebih dalam  perusahaan kontraktor. (jml/myg)