PT KAI Cirebon Dukung Flyover-Underpas Perlintasan Kereta Api

Perlintasan Kereta Api di Jl Kesambi. FOTO: DOK.RADARCIREBON.COM
Perlintasan Kereta Api di Jl Kesambi.FOTO: DOK.RADARCIREBON.COM

CIREBON-Di tahun 2016, Pusat Penelitian dan Pengembangan Transportasi Jalan dan Perkeretaapian telah melakukan penelitian di beberapa perlintasan di Kota Cirebon. Penelitian dilakukan oleh Hartono. Ia menggunakan metodologi deskriptif. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara, data sekunder lewat penelitian berkas dan observasi lapangan.

Disebutkan dalam kesimpulan penelitian, dalam rentang waktu pukul 06.00-17.00 WIB, terdapat 25 kali penutupan pintu perlintasan kereta api. Panjang antrean kendaraan pada perlintasan sebidang di Jl RA Kartini arah barat, terjadi pada pukul 12.12 WIB. Jumlah antrean mencapai 135 kendaraan dengan panjang antrean mencapai 125 meter.

Untuk arah timur, puncak kepadatan terjadi pada pukul 12.37 WIB dengan antrean 327 kendaraan dengan panjang antrean 195 meter. Dengan kemacetan yang ditimbulkan, salah satu rekomendasi penelitian ini ialah diperlukannya infrastruktur baru. Hartono dalam simpulan penelitannya menyebutkan, fly over atau underpass perlu dikaji lagi. Dan perlu dibuat feasibility study (FS) untuk dua opsi tersebut.

Sementara Pemerintah Kota Cirebon cenderung memilih opsi fly over. Bahkan dalam pengajuan Badan Perencanaan Pembangunan Penelitian dan Pengembangan Daerah (BP4D), usulan fly over ini relatif lebih rasional. Juga masuk dalam rencana pengembangan kereta api cepat Jakarta-Surabaya.

Di lain pihak, Manajer Humas PT Kereta Api Indonesia (KAI) Daerah Operasional (Daop) III Cirebon Kuswardoyo mendukung rencana pengembangan perkotaan tersebut. Menurutnya, underpass ataupun flyover memang sudah diperlukan untuk bisa menjadi salah satu alternatif mengurai kepadatan lalu lintas karena padatnya jadwal kereta api. “ Di jalan seperti Kartini dan Krucuk itu sudah memerlukan underpass,” ujarnya kepada Radar Cirebon.

Menurut dia, pengadaan infrastruktur ini merupakan kewenangan pemerintah daerah. Namun hingga saat ini hal tersebut belum bisa dilakukan. Salah satunya karena biaya yang cukup banyak untuk membuat infrastruktur ini. Sehingga diharpakan APBN bisa mengakomodir usulan ini.

Lanjutnya, saat ada pembangunan PT KAI Daop III Cirebon akan mendukung. Dalam hal menjaga perjalanan kereta tetap selamat dan nyaman. “Tidak asal bangun. Kita bisa sesuaikan dengan kondisi kereta, kami akan support di kondisi kebtuhan kereta dan underpass,” ungkapnya.

Di wilayah Daop III Cirebon saat ini sendiri ada sebanyak 233 perlintasan kereta api yang terdiri dari 190 perlintasan resmi dan 43 perlintasan liar. Untuk 43 perlintasan liar inilah yang menjadi prioritas untuk ditutup.

Sementara itu, dalam wawancara kepada koran ini, Kepala BP4D  M Arif Kurniawan ST mengatakan, usulan solusi kemacetan di perlintasan KA sudah disampaikan. Butuh dua tahun dari usulan berproses hingga masuk ke dalam dokumen Analisa Mengenai Dampak Lingkungan (Amdal) Rencana Pembangunan Jalur Kereta Cepat Jakarta-Surabaya. “Jadi di amdal itu termasuk pengadaan elevated train di Cirebon,” tutur Arif, usai rapat RPJMD, beberapa waktu lalu.

Usulan elevated train sebetulnya sudah diajukan dua tiga tahun lalu. Sehubungan dengan Rencana Pembangunan Jalur Kereta Cepat Jakarta-Surabaya, elevated train juga sudah masuk ke dalam dokumen perencanaannya.

Pemilihan fly over atau elevated train di Kota Cirebon diharapkan dapat mendukung jalur cepat Jakarta-Surabaya. Opsi elevated dirasa yang paling memungkinkan, sekaligus menjadi solusi untuk kemacetan di perlintasan kereta. “Yang pasti fly over ini kerja sama dengan PT KAI. Aset tanah yang dimiliki PT KAI banyak. Dan ini sangat memungkinkan untuk kita realisasikan,” jelasnya.

Dibuatnya elevated train ini tinggal menunggu waktu. Mengingat program tersebut sudah berjalan. Hal tersebut bisa dilihat dari pembangunan yang sudah mulai dilakukan di sejumlah daerah yang dilalui jalur kereta cepat Jakarta-Surabaya. Misalnya di  Kabupaten Tegal dan Brebes yang pembangunan tiang fly over sudah dilakukan. Kemudian di beberapa wilayah juga sudah pembebasan tanah.

Nantinya, perjalanan kereta cepat jalur Jakarta-Surabaya tersebut ditargetkan akan mempersingkat waktu hingga menjadi lima jam dari delapan jam perjalanan. Sementara untuk solusi terdekat mengatasi kemacetan akibat perlintasan kereta api, menurut Arif hal yang terpenting dengan merekayasa lalu lintas. Mulai dari penataan rute, waktu lampu merah dan penataan parkir yang sama-sama penting. “Bisa dengan merekayasa lalu lintas untuk solusi jangka pendeknya,” tukasnya. (apr/myg)