Puasa Digital Demi Hidup Normal

ILUSTRASI

CIREBON-Waktu tersita karena fitur smartphone adalah persoalan. Produktivitas menurun. Belum lagi dampak psikis dan kesehatan.

Ada pilihan untuk lebih terkendali. Menempatkan segala sesuatu pada porsinya. Apa yang tidak ada di smartphone? Rasanya semua sendi kehidupan kita, ada di situ. Fitur pembantu tidur, sampai berolahraga.Tinggal pilih. Mana yang cocok.

Ragam fitur itulah yang membuat sebagian besar masyarakat mulai mengkhawatirkan dampaknya. Dari tangan sering kesemutan. Mata berkunang. Hingga dampak sosial. Seperti tergambar dalam survei yang dilakukan Metropolis Radar Cirebon.

Sedikitnya 83,1 responden khawatir smartphone mempengaruhi kesehatan mental. Kemudian 76,4 persen responden khawatir dengan kesehatna fisiknya. Dari 90 responden, 52,8 persen mengaku pernah puasa digital. Sementara 47,2 persen merasa tidak mampu mengendalikan penggunaan smartphone.

Hasil survei ini menggambarkan apa yang dirasakan Yulia Dheanita Abidin (22). Ia sudah menggunakan media sosial sejak di bangku SMP. Mudahnya akses penggunaan media sosial dan internet kini membuat semua orang termasuk dirinya sudah masuk ke tahap addict. Alasannya? Tak ada.

Bahkan tak terhitung jumlah waktunya ketika dirinya dalam sekali membuka laman suatu media sosial. Sehingga selain berpengaruh pada kesehatan psikisnya, diakuinya juga berpengaruh pada kesehatan fisiknya. “Mata jadi makin buram karena suka nggak sadar berapa lama sudah main media sosial,” ujar Yulia kepada Radar Cirebon.

Dari kebiasaan tersebut, dia mengaku kerap kali gelisah ketika lepas barang sebentar saja dari handphonenya. Di tahap ini, ia merasa media sosial sudah mempengaruhi mentalnya. Meski begitu, Yulia belum berencana untuk melakukan puasa digital. Alasannya, mayoritas teman menggunakan media sosial yang terkoneksi satu sama lain.

Intan (21) justru pernah melakukan puasa digital. Demi hidup normal. Tak tanggung-tanggung, hampir 6 bulan lamanya. Hal tersebut dilakukannya karena sempat merasa jenuh. Namun dia akhirnya menyadari bahwa banyak informasi yang bisa diakses. Dan merasa, semua kebutuhan ada di smartphone.

Namun Intan berusaha melakukan pengendalian. Dia sering membatasi diri dengan memberi waktu istirahat pada jam-jam tertentu agar tak menggunakan hp. Ketika sedang berselancar di media sosial atau bermain game, biasanya langsung dihentikan saat hp sudah panas. (myg)

[adrotate banner="13"]

Berita Terkait