Puluhan Tahun Tak Tersentuh PDAM

LAYANAN MANDIRI: Pemdes Sinarancang saat ini sudah mempunyai layanan air bersih mandiri yang dikelola secara swadaya. Hal ini setidaknya menyelesaikan persoalan air bersih yang tidak bisa disediakan PDAM selama puluhan tahun. FOTO: ANDRI WIGUNA/RADAR CIREBON
LAYANAN MANDIRI: Pemdes Sinarancang saat ini sudah mempunyai layanan air bersih mandiri yang dikelola secara swadaya. Hal ini setidaknya menyelesaikan persoalan air bersih yang tidak bisa disediakan PDAM selama puluhan tahun.FOTO: ANDRI WIGUNA/RADAR CIREBON

CIREBON-Sudah puluhan tahun lamanya, Desa Sinarancang tidak terkoneksi jaringan PDAM milik Pemkab Cirebon. Untuk pemenuhan kebutuhan air bersih, selain memanfaatkan keberadaan mata air, warga juga terpaksa mengonsumsi air dari sumur bor ataupun sumur pantek.

Namun, kini situasi tersebut berubah drastis. Sejak sekitar dua bulanan lalu, Desa Sinarancang kini punya layanan air bersih mandiri untuk memenuhi kebutuhan air bersih warga sekitar.

Meskipun dikelola secara swadaya, namun managemen yang diberlakukan terbilang sudah profesional, karena hampir mirip dengan sistem yang dimiliki PDAM Kabupaten Cirebon.

Kuwu Desa Sinarancang, Bandi menuturkan, warga di Desa Sinarancang sebenarnya sudah sejak lama mendambakan masuknya layanan PDAM. Namun hingga saat ini, invasi PDAM ke Desa Sinarancang tak kunjung terwujud.

“Kita tidak tahu apa persoalannya. Padahal wilayah kita sangat dekat dengan kota. Instalasi PDAM sampai sekarang belum masuk. Untungnya, sekarang kita punya layanan air bersih sendiri. Baru dua bulan berjalan,” ujar Bandi.

Diakuinya, awal dibentuknya layanan secara swadaya tersebut, berasal dari program Kementerian PUPR yang memberikan program stimulan pembangunan penyediaan air minum dan sanitasi berbasis masyarakat (Pamsimas).

Dari situ, kemudian pemdes dan masyarakat mulai serius menggarap pembangunan Pamsimas untuk memenuhi kebutuhan air bersih warga Desa Sinarancang.

“Kita sudah dua bulan berjalan. Data terakhir sudah sekitar 40 pelanggan yang terdaftar. Untuk bulan pertama, kita berikan secara gratis. Untuk retribusi baru di bulan kedua, dilakukan karena untuk membayar biaya listrik dan perawatan serta pemasangan instalasi air bersih untuk sampai ke rumah warga,” imbuhnya.

Ditambahkannya, untuk retribusi sendiri, pemdes dan kelompok swadaya masyarakat beserta lembaga desa dan para tokoh masyarakat, sudah berembuk dalama musyawarah dan menetapkan biaya retribusi permeter kubiknya dihargai Rp3.000.

“Satu keluarga itu paling banyak sekitar 10 kubik. Jadi perbulan itu sekitar 30 ribu,” jelasnya.

Ia pun tak ambil pusing dengan rencana PDAM Kabupaten Cirebon yang berencana masuk ke kawasan Mundu untuk pengembangan. Hal tersebut menurutnya, hanya menjadi wacana yang tak kunjung terealisasi setiap tahun. (dri)