Pupuk Mulai Langka di Cirebon, Petani Tebu Kelimpungan

Sejumlah petani tebu di wilayah kerja PG Sindanglaut mengeluh kesulitan mendapatkan pupuk khusus jatah tanaman tebu melalui koperasi. Foto: Andri Wiguna/Radar Cirebon

 

CIREBON – Ketersediaan pupuk tanaman pangan di Kabupaten Cirebon terancam mengalami kelangkaan. Kondisi tersebut disebabkan musim tanam tebu yang sudah datang, berbarengan dengan turunnya hujan.

Bukan tanpa alasan, para petani tebu terpaksa menggunakan pupuk untuk tanaman pangan karena pupuk yang biasa digunakan oleh petani tebu yang didapat melalui koperasi, saat ini sedang kosong. Padahal, petani sudah mulai menyiapkan lahan untuk diproses. Bahkan, sebagian besar petani malah sudah melakukan penanaman dan perawatan tanaman tebu.

“Kita sudah mulai tanam. Sudah waktunya dipupuk juga. Tapi pupuk di koperasi malah tidak ada. Kita kelimpungan, karena kalau tidak dipupuk, tumbuh kembang tanaman ini akan tidak maksimal. Nantinya akan berdampak pada kualitas tebu dan rendemen,” ujar salah satu petani tebu, Didi Wong saat ditemui Radar, Kamis (23/11).

Karena keterbatsan dan ketiadaan pupuk tersebut, sebagian petani tebu akhirnya terpaksa membeli pupuk dan menggunakan pupuk untuk tanaman pangan yang dialihkan untuk tanaman tebu. “Untuk tebu, kita butuh ZA dan Ponska, untuk perhektare itu paling tidak kita butuh sekitar 1,1 kuintal pupuk, karena koperasi tidak bisa menyediakan. Beberapa petani tidak punya pilihan, selain menggunakan pupuk tanaman pangan,” imbuhnya.

Yang menjadi kekhawatirannya, jika kondisi tersebut tidak segera diatasi, maka ditakutkan akan terjadi kelangkaan pupuk saat beberapa wilayah di Kabupaten Cirebon memasuki musim tanam tanaman pangan.

“Tanaman tebu itu sangat butuh pupuk, penggunanya juga jauh lebih banyak dari tanaman pangan seperti padi dan lainnya. Saya khawatir, kalau ini dibiarkan, maka akan mengganggu musim tanam tanaman pangan, dampaknya akan sistemik,” katanya.

Sementara itu, petani lainnya, Mae Azhar mengatakan jika pemerintah seperti acuh dan tidak memperhatikan jeritan para petani tebu. Bahkan menurut Azhar, petani tebu seperti dijajah dan diperas karena hingga sekarang belum bisa menikmati kerja selama setahun merawat tanaman tebu.

“Kita rawat setahun, tapi gulanya tidak bisa dijual, harus melalui mekanisme lelang. Padahal, sampai sekarang belum ada tanda-tanda lelang akan dilakukan. Kita butuh uang untuk biaya garapan dan untuk sehari-hari,” paparnya. (dri)

 

 

 

[adrotate banner="13"]

Berita Terkait