Rahasia Dibalik Dunia Intelijen

Di tengah maraknya isu perihal dunia intelijen kita, buku ini diharapkan dapat memenuhi kebutuhan masyarakat atas informasi akademis di bidang intelijen

Intelijen bukan satu-satunya pihak yang bertanggung jawab atas terjadinya beberapa peristiwa yang kerap mengganggu keamanan dan ketertiban masyarakat (Kamtibmas).

Sebut saja, kasus korban penembakan orang tidak kenal di Kampung Wuyukwi, Distrik Mulia, Kabupaten Puncak Jaya, Papua, Sabtu (2/2/2019) lalu, diterbangkan ke kampung halamannya, di Probolinggo, Jawa Timur, Senin (4/2/2019).

“Saya rasa itu tidak bijaksana. Intelijen tidak bekerja sendiri, hasil terintegrasi di dalamnya antara satu badan dengan badan lainnya. Intelijen adalah satu institusi dari badan besar lainnya,” kata Dr. Susaningtyas Nefo Handayani Kertopati. Ia adalah anggota Komisi I DPR yang selama ini sangat konsen dengan isu-isu keamanan nasional, intelijen dan juga aksi terorisme.

Intelijen adalah informasi yang dikomunikasikan, dengan kata lain, informasi yang tidak lagi hanya terdapat di benak seseorang, tetapi telah disampaikan kepada orang lain. Di badan-badan yang mengkhususkan diri pada kegiatan ini, intelijen didefinisikan sebagai informasi yang telah dievaluasi, informasi yang kredibilitas, makna, dan derajat kepentingannya telah dinilai dan ditetapkan. Demikian paragraf ini, salah satu petikan dalam buku berjudul Komunikasi dalam Kinerja Intelijen Keamanan halaman 25. Biasanya, Intelijen bergerak di bawah tanah dalam menyampaikan informasi. Sehingga, banyak konotasi negatif muncul dari masyarakat terhadap keberadaan intelijen.

Melalui buku ini, penulis menjabarkan seluk beluk intelijen untuk menghapus paradigma negatif masyarakat terhadap lembaga yang dianggap penuh rahasia. Buku dengan tebal 220 halaman ini mengungkap secara tuntas keberadaan intelijen, khususnya Intelijen Keamanan yang berada di lembaga Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri).

Selain itu, terdapat dua tema besar dalam buku  Komunikasi dalam Kinerja Intelijen Keamanan yaitu komunikasi dan intelijen Keamanan. Intelijen Keamanan yang dimaksud disini tentunya Intelijen Polri dibawah naungan Badan Intelijen Keamanan (BIK) Polri. Karena penulisan buku ini didasarkan pada desertasi penulis, pengesahan Rancangan  Undang-Undang Intelijen Negara baru diputuskan satu tahun kemudian yaitu 11 Oktober 2011, tidak heran apabila banyak ditemukan bahasa ilmiah didalamnya. 

Defenisi intelijen menurut Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 16 tahun 2011 pasal 1 ayat (1): intelijen adalah usaha, kegiatan, dan tindakan terorganisir [terorganisasi] dengan menggunakan metode tertentu menghasilkan produk tentang masalah yang dihadapi dari seluruh aspek kehidupan untuk disampaikan kepada pimpinan sebagai bahan pertimbangan dalam mengambil keputusan”.

Sejalan dengan defenisi tersebut, menurut Surat Keputusan Kapolri no. Pol: Skep/VI/2006 “Secara umum pengertian intelijen adalah usaha dan kegiatan yang dilakukan dengan metode-metode tertentu secara terorganisir [terorganisasi] untuk mendapatkan/menghasilkan produk berupa penge-tahuan tentang masalah-masalah yang dihadapi, kemudian disajikan kepada Kapol-sek/Kanit intelijen sebagai bahan pengambilan keputusan kebijaksanaan atau tindakan”.

Guna mencegah terjadinya ancaman secara mendadak, keberadaan intelijen sangat dibutuhkan. Tentunya, intelijen mampu bertindak sebagai mata dan telinga bagi pembuat kebijakan. Maksudnya, intelijen menjadi sumber informasi bagi pembuat kebijakan dalam mengambil keputusan.

Terdapat beberapa sumber yang menjadi bahan rujukan intelijen dalam mengumpulkan informasi, yakni yang bersifat terbuka maupun tertutup. Terbuka di sini maksudnya intelijen bisa memperoleh informasi secara bebas melalui saluran komunikasi antar personal, kelompok, maupun media massa.

Apabila dikaitkan dengan tugas-tugas intelijen, maka peran komunikasi menjadi lebih penting terutama untuk berkomunikasi dengan para narasumber informasi. Tujuannya tidak lain memperoleh keterangan dan mengumpulkan data.

Sedangkan komunikasi secara tertutup, berarti intelijen menggunakan sistem komunikasi klandestin yaitu pola komunikasi yang menuntut kerahasiaan dalam proses pengiriman pesan antara intelijen. Akibatnya, informasi yang dikirimkan tidak jatuh ke tangan lawan.

Guna mendukung kelancaran komunikasi, intelijen membentuk sebuah jaringan. Pembentukan jaringan intelijen dilakukan secara bertahap mulai dari pencarian calon agen hingga pelaporan intelijen.

Pencarian agen intelijen dilakukan dengan melakukan penelitian terhadap keahlian dan kemampuan calon agen. Tak hanya itu, pekerjaan, hobi, hubungan dengan orang lain, kelemahan, pendapatan, dan kejahatan yang pernah dilakukan oleh calon agen juga diselidiki.

Ada banyak faktor yang mempengaruhi tingkat efektifitas intelijen. Misalnya nilai informasi yang berkualitas sebagai bahan pertimbangan dalam pengambilan keputusan; kredibilitas sumber bahan keterangan yang dapat diperoleh; serta manajemen komunikasi terbuka dan tertutup.

Sementara hambatan dalam komunikasi intelijen mencakup beberapa hal. Misalnya terkait dengan hambatan non-teknis dalam komunikasi horizontal, distorsi informasi, serta hambatan lain yang sangat kompleks. Di antara hambatan lain yang sangat kompleks itu misalnya mencakup potensi gangguan, ambang gangguan, gangguan nyata, serta rekrutmen sumber daya intelijen yang lemah.

Bagi orang awam atau masyarakat yang belum mengetahui pola kinerja Intelijen Keamanan Polri, keberadaan buku ini akan sangat membantu. Susaningtyas berusaha mengupas permasalahan mengenai dunia intelijen yang tidak diketahui oleh masyarakat pada umumnya.

Kelihaian penulis mendapatkan sumber-sumber yang pernah terjun langsung dalam jaringan intelijen menambah keakuratan informasi yang disajikan. Sehingga buku ini sangat direkomendasikan bagi masyarakat luas untuk menambah kekayaan berpikir bahwa jaringan intelijen tidak selamanya negatif.

Utamanya mengenai bagaimana sistem komunikasi dalam organisasi intelijen keamanan serta kegiatan para agennya di lapangan. Keberadaan Buku ini tentunya akan menambah perbendaharaan pengetahuan, karena sangat jarang penulis yang membuat buku bertemakan intelijen. 

Komunikasi dalam Kinerja Intelijen Keamanan mencoba mengkaji komunikasi organisasi, intelijen sebagai organisasi, kegiatan intelijen sebagai proses, komunikasi dan aktivitas intelijen, information seeking theory dalam intelijen, teori the spiral of silence dalam intelijen, konstruktivisme dalam komunikasi intelijen, konstruksi sosial dalam komunikasi intelijen dan komunikasi organisasi intelijen, kajian metodologi komunikasi intelijen, Polri, informasi dalam intelijen, dan komunikasi intelkam.

Dari isi bacaan dalam buku ini ada beberapa topik pembahasan yang agak sulit untuk dipahami dan terkesan terlepas dari pembahasan mengenai intelijen yaitu tentang topik konstruktivisme dalam komunikasi intelijen, kontruksi sosial dalam komunikasi intelijen dan konstruksi sosial komunikasi organisasi intelijen. Namun hal ini tertutupi dengan pembahasan mendalam tentang organisasi BIK polri dan sistem komunikasinya yang dikupas mendalam pada akhir buku ini. (*)

 

 

 

Berita Terkait