Ratusan Hektare Padi di Kandanghaur Terancam Mati Kering

Padi-mati-kering-Kandanghaur
KURANG AIR: Ratusan hektare tanaman padi di wilayah Kecamatan Kandanghaur, Kabupaten Indramayu, terancam mati kering. FOTO: KHOLIL IBRAHIM/RADAR INDRAMAYU

INDRAMAYU – Nasib apes bakal dirasakan para petani di wilayah pantura Kecamatan Kandanghaur, Kabupaten Indramayu. Gara-garanya klasik, tidak ada pasokan air saat musim tanam gadu ini. Dampaknya, ratusan hektare tanaman padi yang baru saja ditanam di wilayah itu terancam mati kering.

“Petani kita, baru mulai saja sudah bersiap menanggung rugi,” ucap Ketua KTNA Kecamatan Kandanghaur, Waryono Batak kepada Radar Indramayu.

Dari catatannya, ada seluas 690 hektare (ha) tanaman padi yang terancam gagal panen gara-gara kekeringan. Sebarannya berada di Desa Karangmulya (200 ha), Desa Karanganyar (230 ha), Desa Wirapanjunan (100 ha) dan Desa Wirakanan sekitar 160 ha. Rata-rata umur tanaman padi antara 20 sampai 30 hari setelah tanam.

Jika dikalkulasikan modal yang dikeluarkan sebesar Rp 4,5 juta untuk setiap hektarenya, maka kerugian petani di empat desa itu ditaksir mencapai Rp 3,4 miliar. “Biaya yang dikeluarkan petani rata-rata sudah Rp 4,5 juta per hektare. Itu untuk tanam, traktor, gegaleng dan pupuk,” ungkapnya.

Waryono menuding ketidakberesen kinerja para stakeholder pertanian terutama yang berurusan dengan pembagian air. Mereka dinilai tidak sungguh-sungguh mengamankan jadwal gilir air meskipun kondisi tanaman padi di wilayah Kandanghaur sudah krisis terancam mati.

“Kejadian seperti ini hampir setiap musim tanam. Rendeng kurang air, kemarau apalagi. Padahal mereka kan tahu kondisi di lapangan kayak apa. Petani kami sudah teriak-teriak sejak lama. Kalau kondisinya masih seperti sekarang ini dan kayak dulu, petani kami lebih memilih menelantarkan sawah ketimbang merugi terus,” ujarnya.

Tapi, Waryono masih berharap Pemkab Indramayu melakukan upaya darurat dan masif demi menyelamatkan tanaman padi dari ancaman gagal panen. Salah satu caranya adalah dengan penggelontoran air tanpa henti. “Airnya digelontor, bukan digilir,” katanya. (kho)