Revitalisasi Pasar, Adakah Mengingat Keraton Kanoman?

Pedagang makanan di depan pintu masuk ke kraton Kanoman di Cirebon, Jawa-Barat, sekitar 1932

Hampir dua tahun rencana revitalisasi Pasar Kanoman bergulir. Namun sampai saat ini belum ada realisasinya. Ada dugaan, perizinan belum tuntas. Juga belum sepakatnya lokasi relokasi pedagang.

Kendati demikian, Direktur Utama Perusahaan Umum Daerah (Perumda) Pasar Berintan Akhyadi SE memastikan renovasi bakal segera berjalan. Perumda juga sudah memasrahkan perkara revitalisasi kepada pengembang PT Inti Utama Raya. “Ini prosesnya jalan. Cuma soal waktu. Developer ada beberapa pertimbangan,” ujarnya kepada Radar Cirebon.

Revitalisasi kawasan ini diharapkan bisa lebih menghidupkan Pasar Kanoman sebagai destinasi utama wisata dan belanja sehingga mampu meningkatkan perekonomian masyarakat. Sebab, pasar ini tidak hanya sebagai pusat ekonomi, tetapi kawasan Pecinan Pasar Kanoman juga menjadi bagian dari sejarah Cirebon dan Indonesia yang harus dilestarikan.

Keragaman budaya dan etnis di pasar ini tidak lepas dari sejarah panjang yang mempertemukan beragam suku dan bangsa di tanah Cirebon sejak dulu kala.

Seperti yang sudah diketahui bahwa hubungan keraton-keraton Cirebon dengan komunitas Tionghoa sudah terjalin lama, menurut naskah Purwaka Caruban Nagari, warga Tionghoa berada di wilayah Cirebon sekitar 200 tahun sebelum Kesultanan Cirebon berdiri.

Bahkan, keberadaan warga Tionghoa di Cirebon sudah ada sejak sekitar tahun 1415 M sebelum kerajaan Cirebon berdiri pada sekitar tahun 1500 M.

“Hal ini dikarenakan riwayat putri dari Dinasti Ming, Ong Tien, yang merupakan istri Sunan Gunung Jati, juga diiringi dengan peristiwa monumental ketika pasukan negeri Tiongkok yang dinakhodai Laksamana Cheng Ho, Panglima Besar Angkatan Laut dari Dinasti Ming, datang ke Cirebon,” papar Gusti Sultan Sepuh XIV Pangeran Raja Adipati Arief Natadiningrat dari Keraton Kasepuhan Cirebon.

Di sisi lain, adakah yang masih mengingat Keraton Kanoman Cirebon?

Tak mudah menemukan Keraton Kanoman. Bukan perkara letak geografisnya yang terpencil, sepanjang hari ia tertutup keriuhan Pasar Kanoman. Padahal akses jalan satu-satunya menuju gerbang depan keraton selalu harus dimulai dari Jalan Pasar Kanoman. Asal tahu, seluruh badan jalan tertutup oleh lapak-lapak pedagang dan parkir kendaraan.

Sejarah seperti sebuah batu, meringkuk di kedalaman waktu. Bahkan, bisa berabad-abad tertimbun lapisan peradaban sampai akhirnya mengeras dan tak terbaca.

“Ada ramalan yang mengatakan kalau suatu saat nanti Keraton Kanoman akan tertutup glagah alang-alang,” kata Muhammad Rahim saat ditanya tentang keberadaan Keraton Kanoman yang seolah tenggelam oleh keberadaan Pasar Kanoman. “Lalu, dikatakan juga kalau pada suatu saat nanti luas Kanoman hanya selebar payung,” tambah pria berusia 51 tahun ini.

Menurut Rahim yang bergelar Pangeran Kumisi ini, Pasar Kanoman mulai ramai setelah Karaton Kanoman berdiri pada 1678 M. Keterangan Rahim ini berbeda dengan informasi dari sejumlah berbagai situs yang menyebut Pasar Kanoman dibangun oleh pemerintah Hindia Belanda pada 1901 M.

Ada dua versi tentang sejarah berdirinya pasar ini. Versi catatan pemerintah kolonial Hindia Belanda, pasar berdiri sekitar tahun 1901, sedangkan versi lain yang beredar di masyarakat telah berdiri sejak tahun 1678 Masehi.

Dalam struktur tata kota kerajaan di Jawa, alun-alun berfungsi sebagai pusat kota. Keraton dibangun di sebelah selatan alun-alun dan menghadap ke arah utara, masjid berada di sebelah barat, dan pasar berada di sebelah timur alun-alun.

Pada masa penjajahan, Keraton Kanoman menjadi pusat perlawanan rakyat Cirebon terhadap pemerintah Hindia Belanda.

Lalu, untuk meredam perlawanan itulah pasar Kanoman akhirnya didirikan oleh pemerintah kolonial dan semakin dilebarkan hingga mendekat ke arah keraton. Bahkan, mereka juga kerap menggunakan pasar untuk kegiatan mata-mata terhadap segala aktivitas keraton.

Belum cukup dengan meluaskan pasar hingga nyaris menutupi alun-alun Keraton Kanoman, pemerintah Hindia Belanda juga membangun bioskop di depan keraton. Tujuannya, untuk menjauhkan rakyat Cirebon dari pengaruh keraton.

Strategi Belanda tersebut berhasil. Sebab, dengan adanya bioskop, masyarakat Cirebon menjadi lebih tertarik menonton film ketimbang mengikuti pertemuan-pertemuan yang diselenggarakan oleh keraton. Bangunan bioskop itu masih ada sampai tahun 1970-an. Setelah dibongkar, lahan bekas bioskop kemudian dibangun pasar.

Senada, Ratu Raja Arimbi Nurtina juga mengungkapkan bahwa pasar ini dibangun depan Kanoman. Konon memiliki kepentingan kolonial Belanda, menutup eksistensi keraton.

“Awalnya, ketika itu Kesultanan Cirebon terpecah. Maka pemerintah Hindia Belanda atas kebijakan sepihaknya, membangun pasar itu di depan Keraton Kanoman,” katanya dalam sebuah kesempatan berdiskusi radarcirebon.com.

Dikatakan Ratu Raja Arimbi, alhasil dari strategi itu, pemerintah kolonial Belanda mencoba membatasi akses sebagian masyarakat dengan keraton Kanoman karena ditutup bangunan pasar.

“Tidak lain ini akan menutup dan menjadi masyarakat susah untuk mengakses terhadap keraton Kanoman,” lanjutnya.

Keraton Kanoman dibangun tahun 1588 M oleh Pangeran Muhamad Badrudin Kertawijaya yang bergelar Sultan Anom I.

Ia mendirikan keratonnya di bekas rumah Pangeran Cakrabuana ketika baru saja datang ke Tegal Alangalang bernama Witana (tempat tersebut sekarang masuk Lemahwungkuk). ke Kecamatan Titimangsa berdirinya Keraton Kanoman tahun tertulis dalam sebuah gambar yang ada di Pintu Jinem Keraton Kanoman, yang menggambarkan “matahari” berarti 1, “wayang darma kusuma” yang berarti 5, “bumi” berarti 1, dan “binatang kamangmang” yang berarti 0. Candrasangkala tersebut menunjukkan angka tahun 1510 Saka atau 1588 M.

Jadi Keraton Kanoman didirikan pada tahun 1510 Saka atau 1588 M. Keraton Kanoman dibangun di atas tanah seluas kurang lebih 175.500 m².

Secara administratif, Keraton Kanoman berada Lemahwungkuk di Kecamatan Kelurahan Lemahwungkuk Kota Cirebon. Komplek Keraton Kanoman membujur dari utara ke selatan. Di sebelah utara keraton terdapat alun-alun dan pasar. Sebelah barat laut terdapat masjid Keraton Kanoman, dan di sebelah selatan dan timur berbatasan dengan Sekolah Taman Siswa dan pemukiman penduduk. Keraton Kanoman dibangun menghadap ke utara, seperti halnya magnet bumi, galaksi, semua menghadap ke utara.

Dilihat dari runtutan para sultan yang memerintah Keraton Cirebon, Sultan Badrudin merupakan urutan ketujuh dari Sunan Gunung Jati, yaitu: 1) Sunan Gunung Jati Syech Hidayahtullah 2) Panembahan Pasarean Muhammad Tajul Arifin 3) Panembahan Sedang Kemuning 4) Panembahan Ratu Cirebon 5) Panembahan Mande Gayem 6) Panembahan Girilaya 7) Sultan Kanoman I (Sultan Badrudin).

Pada tahun 1752 dilakukan perjanjian antara pihak Belanda dengan dengan pihak Kesultanan Cirebon isi dari perjanjian tersebut salah satunya adalah penetapan bagian wilayah masing-masing sultan.

Kesultanan Kanoman yang pada waktu itu di wakilkan oleh Sultan Anom Alimudin mendapatkan wilayah di antaranya, Kampung Kanoman (Kanoman Utara dan Kanoman Selatan), Astana Garib, Petratetan, Kebon Pring dan Lemahwungkuk.

Pembangunan di sekitar Kawasan Keraton Kanoman lebih di khususkan pada pembangunan penunjang perekonomian yang ditandai dengan munculnya bangunan Kolonial dan Cina untuk perdagangan seperti Pasar Kanoman yang di bangun oleh Belanda.

Setelah awal kemerdekaan sekitar tahun 1945-an tumbuh bangunan modern dan semakin kompleksnya pertumbuhan perekonomian setelah pemerintahan di Cirebon di ambil alih ke Negara Republik Indonesia, terutama dengan disahkannnya Undang-Undang Pokok Agrarian No.5 Tahun 1960, yang menghapus seluruh tanah bekas swapraja, sehingga tanah-tanah yang di miliki Kesultanan Kanoman semakin sedikit.

Keraton Kanoman telah menjadi saksi sejarah panjang Kota Cirebon sejak abad ke-13 dari terbentuknya Kesultanan Cirebon, masa kolonial, hingga sekarang.(*)

 

 

 

Berita Terkait