RK Ajak Milenial Jadi Pengusaha Peternakan

KEJAR TARGET: Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil menyampaikan sambutan dalam penyerahan KUR peternakan di Garut. FOTO: BIRO HUMAS DAN PROTOKOL SETDA PROVINSI JAWA BARAT
KEJAR TARGET: Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil menyampaikan sambutan dalam penyerahan KUR peternakan di Garut. FOTO: BIRO HUMAS DAN PROTOKOL SETDA PROVINSI JAWA BARAT

GARUT-Dalam lima tahun, Pemerintah Provinsi Jawa Barat menargetkan kebutuhan pangan warga, khususnya dari sektor peternakan dipenuhi secara mandiri atau tidak impor, baik luar provinsi atau luar negeri. Hal ini disampaikan oleh Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil usai menyalurkan Kredit Usaha Tani (KUR) peternakan di Garut, Sabtu (9/2) lalu.

Menurut Kang Emil, sapaan akrabnya, kebutuhan daging sapi di Jawa Barat mencapai 130 ribu ton per tahun. Namun, baru terpenuhi dari peternak Jawa Barat sebesar 46 ribu ton. Begitu juga telur, kebutuhannya baru mencapai 172 ribu ton dari total kebutuhan 500 ribu ton per tahun. “Jadi, masih ada peluang bisnis di sektor peternakan sapi dan pasti akan dibeli. Ini baru sapi, belum yang lain,” tuturnya.

Dia melanjutkan, peluang ini harus dimanfaatkan, khususnya kaum milenial untuk menjadi seorang pengusaha di bidang peternakan. Oleh sebab itu, masyarakat bisa memanfaatkan program KUR peternakan dari bank yang sudah ditunjuk oleh Kemenko Perekonomian RI yakni, BRI, BNI, Bank Mandiri dan Bank bjb.

“Mari, jadi pengusaha kesempatan ada di depan mata. Kami sudah fasilitasi untuk menyambungkan dengan pemilik modal, yakni perbankan,” imbuhnya.

Pihaknya berharap, debitur KUR peternakan di Jawa Barat meningkat setiap tahunnya. Sehingga, swasembada pangan peternakan dapat terwujud di masa kepemimpinannya. “Saya punya cita-cita, kebutuhan pangan 50 juta penduduk Jawa Barat harus disuplai oleh diri sendiri. Insya Allah, dalam lima tahun kita swasembada peternakan,” tegasnya.

Sementara, Asisten Deputi Pasar Modal dan Lembaga Keuangan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Joko Waluyo, saat acara penyaluran KUR peternakan mengatakan, program KUR peternakan terbukti membantu peternak dalam mengakses pembiayaan. “Tahun 2018 lalu pemerintah menyiapkan plafon KUR sebesar Rp14,4 triliun dengan jumlah debitur 687 ribu orang,” katanya.

Dalam perkembangannya, program KUR telah mengalami sejumlah perubahan, baik regulasi maupun skema. Salah satunya adalah penurunan tingkat suku bunga. Dijelaskan oleh Joko, tahun 2015 suku bunga KUR sebesar 12 persen, tahun 2017 turun menjadi 9 persen dan tahun 2018 kemarin turun lagi sampai 7 persen.

“Artinya, pemerintah beri kemudahan dan lebih memprioritaskan pada sector produksi, salah satunya peternakan,” ungkapnya.

Kemudian, dari tahun 2015 sampai dengan 2018, plafon KUR yang sudah tersalurkan kepada 13,8 juta debitur sebesar Rp333 triliun. Hal ini disebabkan oleh penurunan suku bunga menjadi 7 persen.

“Penurunan suku bunga merupakan komitmen pemerintah dalam memberikan subsidi bunga. Subsidi bunga yang dibayarkan pemerintah pada tahun 2015 sebesar Rp39 miliar, tahun 2016 Rp3,7 triliun dan tahun 2018 mencapai Rp11,6 triliun,” pungkasnya. (jun/rls)