Rupa-rupa Cara SMP Swasta Bersaing di PPDB

Mulai Kasih Seragam Gratis, Door to Door ke Rumah Calon Siswa

Orang tua siswa menunjukkan lokasi rumahnya, sebagai acuan penerimaan dengan jalur zonasi. Penerapan sitem zona di sekolah negeri tidak berdampak pada sejumlah sekolah swasta. FOTO:OKRI RIYANA/RADAR CIREBON
Orang tua siswa menunjukkan lokasi rumahnya, sebagai acuan penerimaan dengan jalur zonasi. Penerapan sitem zona di sekolah negeri tidak berdampak pada sejumlah sekolah swasta. FOTO:OKRI RIYANA/RADAR CIREBON

CIREBON-Menjelang tahun ajaran baru, sejumlah sekolah swasta di Kota Cirebon mengalami permasalahan yang sama, yakni kekurangan siswa. Untuk memenuhi kuota siswa, mereka harus berpikir dan kerja keras supaya agar sekolahnya tetap eksis.

Segala upaya dilakukan. Mulai dari menyebarkan brosur ke sejumlah sekolah dasar yang berada di sekitarnya, promosi ke kantung-kantung siswa. Bahkan ada yang mendatangi calon siswa secara door to door. Itulah sekelumit upaya SMP swasta bertahan dari persaingan.

Kepala SMP Sekar Kemuning Muryadi SH mengaku harus mencari siswa hingga keluar wilayah Kota Cirebon. Sampai ke Kabupaten Indramayu dan Kuningan. Hanya sebagian kecil siswa dari wilayah Kota Cirebon yang bersekolah di SMP yang menerapkan sistem boarding school ini. “Siswa kota lebih tertarik ke zonasi sekolah negeri. Di sekitar sini, banyak sekolah negeri,” katanya.

Meski demikian, pihaknya tidak terlalu khawatir, karena hingga saat ini sudah ada 68 orang yang mendaftar. Artinya, sudah ada 2 rombel yang bisa digunakan. Terlebih dengan ketertarikan masyarakat akan sekolah berbasis agama yang meningkat saat ini.

Program unggulan SMP Sekar Kemuning yaitu sekolah berasrama atau boarding school dan program tahfidz menjadikan proses PPDB lebih mudah. Dua program itu tidak ditawarkan oleh sekolah sekolah negeri. “Targetnya sih 4 rombel. Sekarang sudah hampir 70 yang mendaftar. Kita punya keunggulan sendiri, PPDB juga masih dibuka. Masih ada waktu,” tuturnya.

Cara lain ditempuh Alimin SPdI MPd. Kepala SMP Budi Arti yang berada di Jalan Pangeran Drajat. Pihak sekolah memberikan kompensasi kepada calon siswa berupa tanpa pungutan biaya pendaftaran. Termasuk juga menggartiskan pakaian seragam, baju olahraga dan atribut. Tetapi upaya itu rupanya bertepuk sebelah tangan. Yang mendaftar baru satu orang.

Padahal dari sisi kualitas, Alimin meyakinkan, sekolah yang dipimpinnya punya banyak keunggulan. Misalnya, program sekolah nyantri yang mengadopsi pendidikan di pesantren dengan menambah materi keagamaan.

Namun melihat realitas pendaftar, untuk tahun ajaran ini, pihaknya menargetkan hanya satu rombel gemuk atau sekitar 25-30 siswa. Namun mendapatkan 15 siswa saja menurutnya susahnya minta ampun. Sangat berbeda dengan beberapa tahun lalu. “Setelah pengumuman PPDB tanggal 17 ini, kita tunggu apakah ada limpahan siswa dari negeri. Kita sih sudah berkoordinasi dengan disdik, kita mengirimkan surat terkait kebutuhan siswa di sekolah kita. Tapi kalau belum terpenuhi, berarti harus door to door,” ujarnya.

Kepala SMP Kartika XIX-4 Deni Diparana sejak awal menyebut sistem zonasi tidak memberikan dampak apapun untuk sekolah swasta. Hingga saat ini, calon siswa yang mendaftar masih kurang dari 10. Padahal kuota Siswa baru di SMP Kartika hanya untuk 1 rombel saja. “Ini tidak terpengaruh. Tidak ada luberan siswa. Kalau ada, pastinya kita senang sekali,” ungkapnya.

Untuk mempertahankan eksistensi SMP Kartika XIX-4, Deni mengambil kebijakan untuk membuka Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) hingga kuota terpenuhi.

Menurut pria yang baru menjabat selama dua tahun itu, Tidak meratanya jumlah siswa sekolah swasta dan negeri tak lepas dari mind set masyarakat. Di mana sekolah swasta dianggap tidak bergengsi. Sehingga beragam upaya yang dilakukan, tidak berbuah hasil sepadan. “Kita sudah promosi berbulan-bulan sebelum PPDB ke SD. Tapi belum ada hasilnya,” tukasnya.

Meski demikian, tak semua sekolah swasta bernasib sama. SMP Santa Maria, SMPK BPK Penabur, SMP Islam Al Azhar, SMP Kinderfield, tetap memiliki peminatnya sendiri. (war)