Salah Cetak Kompas, Lorem Ipsum Ternyata Teori Abad Pencerahan

Harian Kompas, 10 Juli 2019

ADA hal yang tak biasa di harian surat kabar Kompas 10 Juli 2019, pasalnya di bagian muka halaman depan pojok kanan atas terdapat foto Roger Federer dengan tulisan Lorem Ipsum yang seharusnya tertulis Big Three — Istimewa, Djokovic, Federer, dan Nadal kembali terlihat istimewa di Wimbledon. Sontak, hal itu viral di media sosial, termasuk para wartawan.

Mengutip berbagai sumber, lorem ipsum atau yang disebut lipsum merupakan teks standar yang ditempatkan untuk menempatkan elemen grafis atau penataan huruf (typesetting) dalam sebuah presentasi atau artikel.

Kalimat ini berasal dari bahasa Latin dan sudah digunakan sejak tahun 1500-an. Sebagaimana diberitakan New York Times dalam artikel berjudul Who Made That Dummy Text?

Tulisan asli ini sudah aja sejak tahun 45 sebelum masehi, tepatnya termuat dalam buku berjudul “De Finibus Bonorum et Malorum” alias Keistimewaan Baik dan Jahat yang ditulis Cicero.

Dikutip dari Wikipedia, teks asli dari Cicero untuk lorem ipsum adalah sebagai berikut (dengan bagian-bagian cuplikannya yang dicetak tebal):

“Sed ut perspiciatis, unde omnis iste natus error sit voluptatem accusantium doloremque laudantium, totam rem aperiam eaque ipsa, quae ab illo inventore veritatis et quasi architecto beatae vitae dicta sunt, explicabo. Nemo enim ipsam voluptatem, quia voluptas sit, aspernatur aut odit aut fugit, sed quia consequuntur magni dolores eos, qui ratione voluptatem sequi nesciunt, neque porro quisquam est, qui dolorem ipsum, quia dolor sit, amet, consectetur, adipisci velit, sed quia non numquam eius modtemporincidunt, ut labore et dolore magnaaliquam quaerat voluptatem. Ut enim ad minimveniam, quis nostruexercitationem ullam corporis suscipit laboriosam, nisi ut aliquid ex ea commodi consequatur? Quis autem vel eum iure reprehenderit, qui in ea voluptate velit esse, quam nihil molestiae consequatur, vel illum, qui doloreeufugiat, quo voluptas nulla pariatur? [33] At vero eos et accusamus et iusto odio dignissimos ducimus, qui blanditiis praesentium voluptatum deleniti atque corrupti, quos dolores et quas molestias exceptursint, obcaecatcupiditatnon provident, similique sunt in culpaqui officia deserunt mollitia animi, id est laborum et dolorum fuga. Et harum quidem rerum facilis est et expedita distinctio. Nam libero tempore, cum soluta nobis est eligendi optio, cumque nihil impedit, quo minus id, quod maxime placeat, facere possimus, omnis voluptas assumenda est, omnis dolor repellendus. Temporibus autem quibusdam et aut officiis debitis aut rerum necessitatibus saepe eveniet, ut et voluptates repudiandae sint et molestiae non recusandae. Itaque earum rerum hic tenetur a sapiente delectus, ut aut reiciendis voluptatibus maiores alias consequatur aut perferendis doloribus asperiores repellat.”

Dalam bahasa Indonesia, diterjemahkan: “Demikian pula, tidak adakah orang yang mencintai atau mengejar atau ingin mengalami penderitaan, bukan semata-mata karena penderitaan itu sendiri, tetapi karena sesekali terjadi keadaan di mana susah-payah dan penderitaan dapat memberikan kepadanya kesenangan yang besar. Sebagai contoh sederhana, siapakah di antara kita yang pernah melakukan pekerjaan fisik yang berat, selain untuk memperoleh manfaat daripadanya? Tetapi siapakah yang berhak untuk mencari kesalahan pada diri orang yang memilih untuk menikmati kesenangan yang tidak menimbulkan akibat-akibat yang mengganggu, atau orang yang menghindari penderitaan yang tidak menghasilkan kesenangan?”

Menurut Majalah desain, Before and After Magazine, seorang jurnalis menulis dalam mengenai alasan penggunaan Lorem Ipsum:

Setelah memberi tahu semua orang tentang Lorem ipsum, teks tidak masuk akal yang menyertai PageMaker, yang terlihat hanya seperti bahasa Latin tetapi sebenarnya tidak mengatakan apa-apa, saya mendengar dari Richard McClintock, direktur publikasi di Hampden-Sydney College di Virginia, yang memiliki berita yang mencerahkan: ‘Lorem ipsum adalah bahasa latin, sedikit campur aduk, sisa-sisa bagian dari Cicero ‘De finibus bonorum et malorum’ 1.10.32, yang dimulai ‘Neque porro quisquam est qui dolorem ipsum quia dolor sit amet, consectetur, adipisci velit …’ [[ Tidak ada orang yang mencintai rasa sakit itu sendiri, yang mencari dan menginginkannya, hanya karena itu adalah rasa sakit.]. [de Finibus Bonorum et Malorum, yang ditulis pada 45 SM, merupakan risalah tentang teori etika yang sangat populer di Renaisance.] Apa yang saya temukan luar biasa adalah bahwa teks ini telah menjadi teks boneka standar industri sejak beberapa yang dicetak pada 1500-an mengambil jenis galley dan mengacaknya untuk membuat buku spesimen jenis; itu telah bertahan tidak hanya empat abad pengaturan ulang huruf demi huruf tetapi bahkan lompatan ke pengaturan huruf elektronik, pada dasarnya tidak berubah kecuali untuk sesekali ‘ing’ atau ‘y’ dilemparkan. Sangat ironis bahwa ketika bahasa Latin yang dipahami kemudian diacak, menjadi tidak bisa dipahami seperti bahasa Yunani; frasa ‘itu bahasa Yunani bagiku’ dan ‘greeking’ memiliki akar semantik yang sama!’

Dan, teks ini baru populer pada 1960 dengan diluncurkannya lembaran letraset yang menggunakan kalimat tersebut. Popularitasnya makin menanjak seiring munculnya software publishing di komputer dekstop.

Setelah mengetahui ada kesalahan di bagian muka halaman depan pojok kanan atas. Harian Kompas langsung memperbaiki beranda pada edisi e-paper yang dapat diakses melalui situs e-paper dan aplikasi resmi Harian Kompas.

Bahkan sebagai bentuk permohonan maaf kepada pelanggan dan pembaca, Harian Kompas memberikan layanan diskon 30 persen untuk semua item yang ada di gerai Kompas (Kecuali produk Kompas Cetak dan produk kulit) yang berlaku di tanggal 10 Juli 2019.