Satu dari Delapan Perempuan Berisiko Kanker Payudara

WASPADA-KANKER-PAYUDARA
BEBERKAN PENYEMBUHAN: Narasumber acara Hari Kanker, dr Monty P Soemitro SpB (K) Onk menjadi pembicara di Cirebon Super Blok (CSB), Senin (11/2). FOTO: ABDULAH/RADAR CIREBON

CIREBON – Satu dari delapan wanita di Indonesia berisiko terkena kanker payudara. Hal itu diungkapkan dr Monty P Soemitro SpB (K) Onk saat menjadi pembicara pada peringatan Hari Kanker yang digelar Yayasan Peduli Kanker Payudara di Cirebon Super Blok (CSB), Senin (11/2).

Menurut Monty, jika wilayah Cirebon dan sekitarnya ada 8 juta penduduk perempuan, maka 1 jutanya berisiko terkena kanker payudara. Begitu juga di Jawa Barat. Apabila penduduknya 44 juta dan 24 juta di antaranya perempun, maka sekitar 4 juta penduduk perempuan berisiko terkena kanker payudara.

Untuk itu, kata Monty, Kementerian Kesehatan RI menggalakkan kesadaran kembali terhadap kanker payudara. Dirinya menjelaskan, salah satu faktor risiko tinggi kanker payudara adalah pola makan salah, kurang aktivitas fisik, dan penggunaan hormon jangka panjang.

Menurut Monty, secara nasional, memang kasus kanker payudara adalah pembunuh nomor satu perempuan di Indonesia, disusul kanker leher rahim. Namun demikian, pencegahan sebenarnya bisa, kalau dilakukan tindakan sedini mungkin. Karena, 30 hingga 50 persen kanker payudara bisa dicegah.

“Kita ingin masyarakat tahu bagaimana cara pencegahannya. Kalau sudah dalam stadium lanjut, maka butuh pembiayaan besar. Walaupun ditanggung BPJS, tapi ada yang menggunakan pengobatan tertentu dengan biaya sendiri. Selama ini masyarakat kurang peduli terhadap kanker. Justru datang ke dokter dalam kondisi sudah stadium lanjut antara 60 hingga 70 persen,” tegasnya.

Dirinya berharap, kader kesehatan bisa menjadi corong untuk menyampaikan hal-hal yang didapat pada acara Hari Kanker kemarin. Nantinya, masyarakat awam bisa berbagi dengan tetangga.

Ketua YPKP Cirebon, Dr Tresnawaty SpB  mengatakan, Cirebon banyak yang menderita kanker payudara, mencapai  130 orang. “Angka itu yang terdeteksi. Yang tidak tedeteksi masih ada,” ujarnya.

“Ini usaha kami, barangkali bisa menarik mereka. Penderita kanker tidak perlu malu, dan kalau bertanya, ada tempat bertanya,” tandasnya. (abd)