Save Ciremai dari Kebakaran

Wakil Ketua Komisi IV DPR RI berbincang dengan Dirjen KSDAE Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Wiratno saat meninjau lokasi kebakaran hutan kawasan Taman Nasional Gunung Ciremai, Sabtu (24/9).FOTO: M TAUFIK/RADAR KUNINGAN

KUNINGAN – Musibah kebakaran hutan kawasan Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC) beberapa waktu lalu direspons Wakil Ketua Komisi IV DPR RI Herman Khaeron dan Direktur Jenderal (Dirjen) Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLH) Wiratno meninjau langsung lokasi kebakaran, Sabtu (23/9).

Keduanya mengapresiasi atas partisipasi elemen masyakarat di sekitar kawasan Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC) yang telah membantu memadamkan api sehingga kebakaran tidak semakin luas.

“Kami mengucapkan terima kasih kepada masyarakat yang sudah berpartisipasi memadamkan kebakaran di kawasan TNGC. Kebakarannya cukup parah, namun berkat partisipasi masyarakat kebakaran bisa segera teratasi dan tidak sampai meluas hingga ke kawasan gunung Ciremai,” katanya saat meninjau di lokasi kebakaran Blok Batu Luhur.

Menurutnya, peran serta masyarakat dalam mengatasi kebakaran telah memberikan inspirasi kepada pihaknya merivisi UU nomor 590/1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya. Herman mengatakan, Komisi IV DPR RI akan memasukkan dalam revisi UU tersebut norma-norma terkait peran serta masyarakat  di dalam kawasan konservasi.

Menurut Herman, ke depannya perlu ada kelompok masyarakat konservasi yang dilibatkan secara aktif. Sehingga masyarakat bisa mendapatkan keuntungan dari kawasan konservasi dan alam bisa terjaga.

“Penting ke depannya kelompok-kelompok masyarakat konservasi perlu dilibatkan. Tidak hanya ketika terjadi kebakaran seperti kemarin, melainkan dilibatkan dalam hal pemanfaatan potensi baik wisata maupun pemanfaatan hasil hutan bukan kayu lainnya sehingga masyarakat pun mendapatkan keuntungannya dari kawasan konservasi sekaligus punya tanggungjawab untuk ikut menjaga kelestariannya,” kata Herman.

Senada diungkapkan Dirjen KSDAE Wiratno yang mengharapkan adanya sinergitas antara pengelola Taman Nasional dan masyarakat setempat. Menurutnya, masyarakat sekitar kawasan adalah pihak yang pertama kali akan merasakan dampak dari kerusakan seperti kebakaran, banjir atau longsor.

“Sinergi antara pengelola Taman Nasional dan masyarakat setempat harus terbangun dengan baik karena pengelolaan Taman Nasional yang baik adalah yang benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakatnya. Terbukti saat kejadian kebakaran Ciremai kemarin, ternyata 90 persen pemadaman adalah hasil partisipasi masyarakat termasuk TNI dan Polri,” ujar Wiratno.

Oleh karena itu, Wiratno menegaskan, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) berjanji akan mengelola Taman Nasional yang ada di seluruh Indonesia termasuk TNGC di Kuningan dengan baik sehingga dapat memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat sekitar. Melalui cara tersebut, kata dia, diharapkan bisa menjadi solusi atas polemik pro dan kontra di masyarakat terhadap keberadaan Taman Nasional Gunung Ciremai selama ini.

“Visi saya ke depan bagaimana mengurus Taman Nasional yang memberikan manfaat ekonomi kepada masyarakat setempat. Ketika keberadaan Taman Nasional tersebut dirasakan manfaatnya oleh masyarakat sekitar, maka secara otomatis mereka pun dengan sukarela akan turut serta menjaga kelestarian dan kelangsungannya,” katanya.

Sementara itu, kebakaran hutan lereng Gunung Ciremai yang terjadi selama dua hari pada Kamis hingga Jumat (21-22/9) lalu menyebabkan sekitar 112 hektare lahan hangus terbakar. Dari total lahan yang terbakar, sebanyak 105 hektare masuk wilayah Kabupaten Kuningan dan 7 hektare berada di Kabupaten Majalengka.

“Kawasan hutan yang tebakar sebagian besar adalah lahan yang banyak ditumbuhi alang-alang. Ada juga lahan yang baru ditanami pada tahun 2015 lalu, ikut terbakar tapi hanya sebagian,” ujar Kasi Wilayah I Kuningan TNGC San Andre Jatmiko yang turut serta mendampingi perjalanan Anggota DPR RI dan Dirjen KSDAE. (fik)