SDN 1 Bayalangu Kidul Langganan Banjir

Sudah Bertahun-tahun Ajukan Perbaikan, Tak Ada Realisasi

LANGGANAN BANJIR: Halaman SDN 1 Bayalangu Kidul, Kecamatan Gegesik, tergenang air, kemarin. Kondisi tersebut seringkali terjadi, sehingga mengganggu proses belajar siswa. FOTO: ADE GUSTIANA/RADAR CIREBON
LANGGANAN BANJIR: Halaman SDN 1 Bayalangu Kidul, Kecamatan Gegesik, tergenang air, kemarin. Kondisi tersebut seringkali terjadi, sehingga mengganggu proses belajar siswa.FOTO: ADE GUSTIANA/RADAR CIREBON

CIREBON-Musim hujan menjadi kekhawatiran tersendiri bagi guru di SDN 1 Bayalangu Kidul, Kecamatan Gegesik. Pasalnya, sejak puluhan tahun lalu, sekolah tersebut kerap menjadi langganan banjir.

Bukan tanpa alasan, hujan yang terus mengguyur dan minimnya saluran air, membuat air menggenangi sekolah dengan 205 siswa tersebut. Selain itu, luapan sungai dan kiriman air desa sekitar, menambah semakin sulitnya mengantisipasi datangnya banjir.

Usulan kepada pihak yang menaungi sekolah tersebut, sudah seringkali dilakukan. Namun, lagi dan lagi, pihak sekolah dibuat menunggu realisasi. “Haduh, kalau usulan udah capek mulut ini. Sampai berbusa. Makanya saya tuh sudah bosan. Sejak zamannya bupati Dedi Supardi (almarhum, red), sudah pernah ninjau ke sini. Tapi ya seperti ini, realisasinya nggak ada,” keluh guru Pendidikan Agama Islam, Taryono (52), kemarin.

Kondisi tersebut, mau atau tidaknya, jelas mengganggu aktivitas belajar- mengajar. Meski tetap berlanjut, para siswa dan siswi disuguhkan dengan suasana ruangan kelas yang becek dan kotor. Bahkan, jika hujan terus- menerus mengguyur dalam waktu lama dan intensitas tinggi, tidak jarang air masuk hingga ke ruang kelas. Jika sudah begitu, pihak sekolah terpaksa meliburkan para siswanya.

Meski bosan berharap, Taryono dengan senang hati menerima jika ada pihak yang memberikan bantuan untuk sekolahnya yang sudah menjadi langganan banjir. Pria yang juga ketua BPD Bayalangu Kidul itu mengatakan, banjir akan dapat diminimalisasi, jika di sekeliling sekolah dibuatkan senderan dan saluran air yang lebih besar.

“Inginnya sih disender (dipagar, red) sekelilingnya. Biar air kiriman dari luar gak gampang masuk. Juga dibuat saluran air, karena selama ini yang ada kan kecil. Pengennya dibuat lagi dan diperlebar,” harapnya.

Sekolah yang sekelilingnya sawah itu, berada di dataran tanah yang rendah. Sehingga, dalam satu musim bisa mencapai tiga kali mengalami kebanjiran hingga masuk ke dalam ruang kelas. Sedangkan untuk banjir yang menggenangi halaman sekolah, hampir setiap hujan besar selalu dirasakan.

Senada disampaikan guru kelas 1 yang juga mantan siswi SDN 1 Bayalangu Kidul, Dewi Maryati (52). Menurutnya, sejak ia menduduki bangku sekolah dasar hingga kini menjadi guru di sekolah yang sama, banjir tidak kunjung dapat ditangani.

“Banjir sudah lama, puluhan tahun. Sejak saya jadi siswi di sini tahun 1983. Sudah sering kalau ada orang ninjau mah, cuma ya realisasinya gak ada. Semoga aja segera ditangani, biar anak-anak juga khusyu belajarnya. Kalau terus begini kan nggak nyaman, karena ruangan kelasnya kotor,” paparnya. (ade)